Asal Mula Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Arab

Kasih bintang post

GenQu Media—Bahasa Arab merupakan salah satu cabang bahasa semitik bersama bahasa Ibrani dan bahasa Suryani. Akar bahasa ini mempunyai beberapa kesamaan sekaligus perbedaan mendasar. Namun, tulisan ini tidak akan membahas uraian bahasa macam-macam bahasa semitik secara global, melainkan membahas bahasa Arab sebagai salah satu cabang bahasa semit yang masih eksis hingga saat ini.

Bahasa Arab, Cabang Bahasa Semit

Dalam teori klasik linguistik, ada sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa tiap seratus tahun sekali, maka bahasa suatu generasi tidak akan bisa lagi dimengerti dengan sempurna oleh generasi selanjutnya. hal ini bisa kita dapati pada bahasa Aram Babylonia, bahasa suku Maya, bahasa Mesir Kuno, bahasa Sansekerta, atau bahasa Jawa kuno yang biasa disebut sebagai bahasa Kawi. Bahasa-bahasa tersebu pernah eksis dan menjadi alat komunikasi orang-orang pada masanya.

Namun, kini bahasa tersebut tidak terpakai lagi, bahkan sudah tidak dapat dimengerti oleh generasi saat ini. Kalaupun masih ada beberapa kosa kata yang masih digunakan, itu tetap saja menunjukan bahwa bahasa tersebut sudah tak sempurna lagi. ratusan tahun berlalu dan pergeseran-pergeseran budaya mengakibatkan perubahan budaya. Karena sejatinya bahasa dan budaya merupakan identitas bangsa yang saling terkait satu sama lain. Ketika sebuah budaya maupun peradaban suatu bangsa punah, maka punah pula bahasa mereka.

Bahasa Arab merupakan salah satu contoh paling konkrit dari bahasa kuno yang masih bisa dipertahankan hingga saat ini. Terhitung sejak Nabi Muhammad saw. wafat hingga kini, sudah 1400 tahun lebih bahasa Arab tetap bisa dimengerti. Padahal, bahasa Arab sudah digunakan ratusan tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Penelitian menyebutkan bahwa bahasa kabilah Jurhum dan Khuza’ah sama dengan bahasa dan dialek yang digunakan oleh suku Quraisy, tempat Nabi Muhammad saw. tinggal. Kondisi Jazirah Arab yang terpencil dan jauh dari peradaban luar mengakibatkan bahasa mereka menjadi orisinil dan terbebas dari bahasa-bahasa non-Arab.

Iqra! Penaklukan Labirin Pikiran: Ulasan Buku Overthinking

Al-Qur’an, Penjaga Eksistensi Bahasa Arab

Saat Nabi Muhammad saw. diutus menjadi seorang Rasul, bahasa Arab semakin cemerlang karena ditunjuk menjadi bahasa Al-Qur’an dan Hadis. Allah swt. berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab.

Karena hal ini, bahasa Arab pun menjadi semakin diperhitungkan, terutama bagi setiap muslim.  Bahasa Arab dipilih sebagai bahasa kitab terakhir karena bahasa tersebut merupakan bahasa yang paling sempurna dalam hal ringkas lafadznya, tapi luas maknanya. Bahasa Arab tidak membutuhkan kata dan frase yang berbelit-belit untuk mengungkapkan sebuah makna yang kompleks. Turunnya Al-Qur’an dengan bahasa Arab juga merupakan tantangan sekaligus mukjizat yang mampu melemahkan ahli-ahli sya’ir pada masa itu. sebelum era kelahiran nabi, banyak pujangga-pujangga Arab yang telah menggubah dan menuliskan syair’syair indah. Tujuh syair paling indah bahkan ditempelkan di dinding Ka’bah dan disebut sebagai sab’atun mu’allaqat yang artinya tujuh syair yang tertempel.

Saat itu penyair merupakan sebuah profesi yang terhormat di kalangan bangsa Arab. Seorang bangsawan akan semakin harum namanya jika namanya disebutkan dalam syair yang dibacakan di depan khalayak ramai. Sebaliknya, seorang dengan kedudukan paling mulia sekalipun akan luruh wibawanya jika dicela dengan sebuah syair. Maka dari itu, penyair merupakan orang yang dihormati, sekaligus ditakuti. Orang-orang Arab yang kaya kala itu sering meminta para penyair untuk membuat syair bagi dirinya, keluarganya, atau bagi putranya yang baru dilahirkan. Biasanya ratusan dinar diberikan sebagai hadiahnya.

Luruhnya Pamor Pujangga Arab

Kemahiran dan kemasyhuran para penyair itu luruh ketika Al-Qur’an dengan ayat-ayatnya yang indah namun penuh makna diturunkan. Ayat-ayat yang diturunkan di Makkah kebanyakan adalah bagian dari surat-surat pendek. Ayat-ayatnya singkat saja, namun dalam makna. Banyak penyair yang menuding bahwa Al-Qur’an hanyalah bait-bait syair yang dikarang oleh Muhammad Saw.

Namun, Al-Qur’an membantah itu semua. Berkali-kali Al-Qur’an menantang para penyair itu untuk membuat ayat yang serupa dengannya. Namun, tetap saja mereka tidak mampu menyusunnya. Bahkan penyair sekaliber Al-Walid bin Mughiroh saja mengakui bahwa ayat Al-Qur’an tidak akan mampu ditandingi dengan syair-syair biasa.

Al-Qur’an mentahbiskan diri sebagai penjaga eksistensi bahasa Arab. Bersama Al-Hadist, Al-Qur’an menjaga kemurnian bahasa Arab melalui orang-orang yang mempelajari keduanya. Tidak akan bisa seseorang memahami Al-Qur’an dan Al-Hadist tanpa memahami dengan baik seluk beluk bahasa Arab dan gramatika/aturan kebahasaan yang ada di dalamnya.

FYI: 10 Fakta Kehebatan Al-Qur’an yang Tiada Tandingan

Sejarah Lahirnya Ilmu Nahwu dan Sharaf

Bahasa Arab
canva

Ilmu Nahwu dan sharaf setidaknya lahir karena dua sebab. Penjelasannya akan diuraikan sebagai berikut.

Semakin Luasnya Wilayah Islam

Semakin luasnya daerah-daerah yang ditaklukkan oleh Islam, juga semakin luasnya pergaulan antara orang Arab dan non-Arab mengakibatkan banyak pergeseran nilai-nilai bahasa Arab. Ulama-ulama saat itu sering menemukan lahn (dialek yang menyimpang) di dalam bahasa Arab. Penyimpangan-penyimpangan ini terus terjadi hingga masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib.

Suatu ketika Abul Aswad Ad-Dualy sedang duduk-duduk bersama anak perempuannya di loteng rumah mereka sambil memandang bintang-bintang di atas langit, kemudian si anak perempuan berkata, “Ya, Abati, Ma Ajmalu Sama’a?” Abul Aswad yang mengira bahwa anaknya menanyakan seuatu yang lebih indah dari langit. Dia kemudian menjawab. “Inna dunya wa ma fi haa, ajmalu minas sama’I”  yang artinya, sesungguhnya dunia dan sesuatu yang ada di dalamnya jauh lebih indah daripada langit.

Si anak perempuan kemudian menoleh, “Wahai, Ayahku. Aku tidak bertanya apa yang lebih indah dari langit, tapi aku sedang mengagumi keindahan langit itu sendiri.”

Abul Aswad pun terkejut. “Jika itu yang engkau maksud, maka seharusnya kau mengatakan Ma Ajmala Sama’a dan bukan Ma Ajmalu Sama’a. Engkau harus me-nashab-kan kata ajmala, bukan malah me-rafa-kannya menjadi ajmalu.

Keesokan harinya, Abul Aswad kemudian mengambil selembar kertas menyusun bab berjudul at-Ta’ajub yang berisi kaidah-kaidah yang benar saat seseorang ingin menunjukan kekaguman. Dia kemudian melaporkan hal tersebut kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib. Di hadapan sang Khalifah, Abul Aswad menceritakan kejadian semalam bersama anak perempuannya. Dia pun menyodorkan lembaran yang telah ia tulis kepada sang Khalifah. Khalifah Ali bin Abi Thalib kemudian berkata, “Ij’al nahwa hadza!” (buatlah yang sama seperti ini!) sejak saat itulah kaidah/gramatika bahasa Arab disebut ilmu Nahwu.

Peristiwa di Madinah

Kejadian kedua yang melandasi lahirnya ilmu Nahwu sebagai berikut. Suatu ketika salah satu tabi’in di Madinah sedang mengajarkan tafsir Al-Qur’an kepada penduduk. Ketika sampai di surat At-Taubah ayat ketiga, si tabi’in tersebut membaca, “Innallaha bariiun minal musyrikina wa rasulihi.” Kata “rasul” dibaca majrur. Dengan begitu artinya menjadi “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasul-Nya.”

Seketika itu para hadirin pun mengatakan, “Kalau Allah sendiri berlepas diri (tidak urus) dengan orang musyrik dan rasul-Nya, kami pun akan berlepas diri dari orang musyrik dan rasul-Nya.”

Si tabi’in pun menjadi bingung karena maksud dari ayat yang dibacanya bukan seperti itu. akhirnya mereka semua mengadukan permasalahan itu kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib. Di hadapan Khalifah, sang tabi’in kembali membaca ayatnya, dan tahulah sang Khalifah bahwa si tabi’in keliru membaca kata rasulihi. Khalifah Ali kemudian membaca ayat yang benar, “Innallaha bariiun minal musyrikina wa rasuluhu.” Kata “rasul” dibaca rafa’.

Dengan begitu artinya menjadi “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik, begitu pula dengan rasul-Nya (dia juga berlepas diri (tidak urus) kepada orang musyrik). Maksud ayat ini sebenarnya adalah Allah dan Rasulnya sama-sama berlepas diri dari orang-orang musyrik. Begitu sederhananya.

NetQu: Gebyar MT Khairunnisa Soroti Ajang Miss Universe

Perhatian Khusus Khalifah Terhadap Bahasa Arab

Atas dasar inilah, akhirnya sang Khalifah melarang siapa saja yang tidak paham betul tentang ilmu tata bahasa Arab untuk mengajar Al-Qur’an. Sejak saat itulah Khalifah mulai semakin perhatian dengan penulisan tata bahasa dan mengajarkannya kepada semua orang, terlebih bagi mereka yang akan mengajar tafsir dan hadist.

Sharaf secara etimologi bermakna berpindah, atau berembus. Secara istilah adalah ilmu yang mempelajari perubahan dari satu kata ke kata lain (derivasi kata). Di dalam bahasa Arab, mengenal istilah wazan yang berarti rumus atau patokan perubahan kata, dan mauzun atau kata yang mengikuti wazan. Ada rumus dan standar tertentu untuk menentukan perubahan kata.

Nahwu merupakan ilmu yang menitik beratkan pada kedudukan suatu kata dalam jumlah (kalimat), sedangkan Sharaf merupakan ilmu yang membahas perubahan kata itu sendiri. Keduanya saling melengkapi satu sama lain. Kedudukan kata dalam kalimat sangat penting dalam bahasa Arab, karena jika salah menentukannya, maka akan berubah maksud dan tujuannya. Sederhananya, nahwu membahas tentang harokat yang harus digunakan dalam suatu kata, sedangkan Sharaf mempelajari bagaimana kata itu bisa terbentuk.

Nahwu dan Sharaf merupakan dua cabang ilmu dalam mempelajari bahasa Arab. Tanpa kerduanya, maka mustahil untuk mempelajari bahasa Arab secara baik dan benar. Maka dari itu, penting bagi kita untuk ‘setidaknya’ belajar kedua ilmu tersebut agar mengetahui bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan Al-Hadist. Wallahu a’lam bissawab

Keterangan:

  • Rafa’: i’rab atau perubahan kata yang ditandai dengan dhammah (meski ada tanda yang lainnya juga).
  • Nasab: i’rab atau perubahan kata yang ditandai dengan fathah (meski ada tanda yang lainnya juga).
  • Jer/majrur: i’rab atau perubahan kata yang ditandai dengan kasrah (meski ada tanda yang lainnya juga).

Leave a Comment