Ayat Al-Qur’an tentang Puasa Ramadan

Puasa Ramadan merupakan salah satu pilar dari 5 pilar dalam rukun Islam. Nah, seperti apakah penjelasan dalil Al-Qur’an mengenai puasa?
Total
0
Shares
Puasa Ramadan
sumber: canva
5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, gimana kabar puasamu hari ini? Semoga puasa kita di tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Puasa Ramadan merupakan salah satu pilar dari 5 pilar dalam rukun Islam. Nah, seperti apakah penjelasan dalil Al-Qur’an mengenai ibadah puasa?

Dalam Al-Quran, Allah menjelaskan tentang kewajiban puasa (shaum) Ramadan. Sebagaimana GenQu Media lansir dari mawdoo3.com, simak penjelasan ayat Al-Qur’an tentang puasa berikut ini.

Ayat-Ayat Puasa dalam Surah Al-Baqarah

Dalam Surah Al-Baqarah, terdapat ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang puasa. Ayat-ayat tersebut sebagai berikut:

Muslim Diwajibkan Puasa Seperti Umat Sebelumnya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.(QS. Al-Baqarah [3]: 183)

Allah mewajibkan puasa Ramadan bagi umat Islam sebagaimana Dia wajibkan bagi umat-umat sebelumnya. Dalam puasa terdapat kebaikan yang menghasilkan kesucian bagi umat Islam dengan menjauhkan diri dari dosa dan kesalahan. Dengan sedikitnya makanan, hawa nafsu menjadi lebih terkendali, sehingga secara alamiah mengurangi kecenderungan untuk melakukan dosa.

Kemudahan dalam Berpuasa

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Allah menetapkan puasa pada waktu yang ditentukan, yaitu bulan Ramadan. Allah juga memberi kemudahan bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan untuk tidak berpuasa pada waktu yang sesuai. Mereka yang merasa kesulitan untuk berpuasa di bulan Ramadan dan tidak mampu menggantinya kemudian, dapat membayar fidyah kepada orang-orang miskin sebagai gantinya, dengan disertai penjelasan bahwa puasa lebih baik daripada membayar fidyah.

Al-Quran Turun di Bulan Ramadan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗوَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗيُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖوَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Dalam ayat ini, Allah memulai turunnya Al-Quran pada bulan Ramadan sebagai petunjuk bagi manusia. Dia membolehkan suami berhubungan intim dengan istrinya pada malam hari selama bulan puasa sebelum terbit fajar, setelah sebelumnya hal ini diharamkan. Allah mengampuni mereka yang telah melakukan hal tersebut sebelum menjadi halal, dan menjelaskan batas waktu puasa dari fajar hingga matahari terbenam.

Asbabun Nuzul Ayat Puasa dalam Surah Al-Baqarah

Ayat-ayat puasa sebelumnya turun karena alasan-alasan tertentu, yang dijelaskan oleh para ahli tafsir dalam kitab-kitab mereka. Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa di antaranya:

Allah berfirman: “Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.(QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Ayat ini turun karena kehadiran seorang sahabat kepada Rasulullah saw. di tempat bernama Hudaybiyah. Kepalanya penuh dengan kutu, maka Rasulullah memerintahkannya untuk mencukur rambutnya, membayar fidyah sebagai ganti, dan berpuasa selama tiga hari, atau menyembelih seekor kambing, atau memberi sedekah kepada enam orang miskin.

Allah berfirman: “Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu.” (QS. Al-Baqarah [3]: 187)

Dalam buku Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, halaman 53 dipaparkan, sebelumnya, umat Islam dilarang mendatangi istri mereka setelah berbuka jika mereka sudah tidur. Namun, jika mereka tidak tidur, maka itu diperbolehkan. Umar bin Khattab ingin mendatangi istrinya ketika dia sudah tidur, namun itu tidak diperbolehkan. Dia melaporkan kejadian tersebut kepada Rasulullah, sehingga turunlah ayat ini yang mengizinkan makan, minum, dan berhubungan intim sampai terbit fajar. Bahkan jika ada tidur dan bangun kembali, maka itu tetap diizinkan, dan umat Islam sangat gembira dengan turunnya ayat ini.

Hukum Puasa dalam Ayat-ayat Surah Al-Baqarah

Hukum-hukum mengenai puasa Ramadan yang terdapat dalam ayat-ayat Surah Al-Baqarah banyak, berikut adalah beberapa di antaranya:

  1. Diperbolehkannya makan, minum, dan berhubungan intim setelah berbuka hingga terbit fajar. Allah berfirman: “Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa untuk bercampur dengan istri-istrimu, mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.” (QS. Al-Baqarah [3]: 187)
  2. Dilarangnya istri mendatangi suami yang berniat iktikaf di masjid pada bulan Ramadan, dalam bentuk apapun, baik pada malam hari maupun siang hari, karena hal tersebut akan membatalkan iktikaf. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mendekati mereka sedang kamu dalam keadaan iktikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah [3]: 187)
  3. Diperbolehkannya berbuka bagi orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan jika puasa memberikan kesulitan bagi salah satu dari keduanya, namun wajib menggantinya di hari-hari lain. Allah berfirman: “Hari-hari tertentu. Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan, maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya.” (QS. Al-Baqarah [3]: 185)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like