Bagaimana Memahami Allah Bersemayam di Atas Arasy?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Allah adalah sebutan untuk nama Tuhan yang Esa, tidak beranak dan tidak mungkin diperanakan. Ada banyak sebutan untuk menyebut Allah dalam bahasa-bahasa kitab suci. Allah merupakan nama istilah dalam bahasa Arab. Ada juga Eli dalam bahasa Ibrani dan Elohim. Dan dalam Islam kita sangat familiar dengan ungkapan Allah bersemayam di atas Arasy.

Ketuhanan Allah

Pada hakikatnya, sifat ketuhanan Allah tidak berdasar pada konsensus atau kesepakatan manusia. Allah tidak diangkat menjadi Tuhan melalui serangkaian seremonial seperti konsili atau semacamnya. Dia adalah Tuhan sejak awal, dan akan tetap menjadi Tuhan meskipun semua manusia menafikan ketuhanannya.

Istilah Tuhan bukan merupakan sebuah gelar, jabatan kebesaran, atau istilah kehormatan yang disematkan oleh manusia kepada sang Pencipta. Tuhan merupakan istilah yang melekat di dalam Dzat Yang Maha Tinggi, Pencipta dan Pelukis alam semesta. Dia tidak membutuhkan pengakuan, karena pengakuan hanya berlaku bagi para mahkluk. Ketuhanan Allah tidak bisa dilepaskan hanya karena semua manusia telah ingkar kepadanya. Konsep ini sangat berbeda sekali dengan kekuasaan seorang Raja, Perdana Menteri, Presiden atau para pemimpin lainnya. Kekuasaan mereka akan hangus saat orang-orang secara de jure tidak mengakuinya lagi sebagai pemimpin. Di dalam hakikat ketuhanan Allah hanya mengenal istilah de facto, yang artinya secara kenyataan Allah adalah Tuhan. Dia tidak membutuhkan apapun di luar dirinya sendiri.

Sejak awal, para ulama telah mendefiniskan tentang esensi dan hakikat Allah sebagai Tuhan. Meski sejak awal Nabi Muhammad saw. membatasi pembahasan tentang ketuhanan, kenyataanya kita banyak menemui kitab yang memuat sisi lain dari ketuhanan Allah. sebut saja salah satunya kitab kontroversional Futuhat Makkiyah karya Ibnu Arabi yang di dalamnya terdapat frase yang menggambarkan keilahian Allah dengan beberapa perumpamaan. Di salah satu bagiannya, Ibnu Arabi mengambarkan Allah seperti sosok seorang wanita. Terlepas apakah maknanya seharfiah atau justru bermakna majazi, tetap saja pembahasan tentang Dzat Allah seringkali mencederai ketauhidan seorang muslim, terlebih muslim yang awam.

MotivasiQu: Tips Islami Hidup Bahagia: Bebas dari Tekanan & Kecemasan

Apakah Allah Sama dengan Makhluk?

Di dunia Islam, kita juga mengenal sekelompok muslim yang menganut paham mujassimah mutasyabihah. Paham ini seringkali mendefinisikan pribadi Allah seperti seorang manusia, atau paling tidak mendekati wujud seorang manusia. Tidak dapat dipungkiri, di dalam Al-Qur’an Allah memang sering menggunakan istilah-istilah jasadiyah dalam menyifati diri-Nya sendiri, seperti:

Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Atau dalam petikan ayat yang lain:

Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangaku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu merasa termasuk orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad: 75)

Akan tetapi, yang perlu dipahami di kedua contoh ayat tersebut adalah, penggunaan istilah jasadiyah yang Allah sebutkan lebih bersifat majazi atau kiasan. Ulama-ulama terdahulu telah menggunakan metode ta’wil untuk mengantisipasi tuduhan umat muslim bahwa wujud Allah seperti seorang manusia. Hal ini penting mengingat salah satu sifat wajib bagi Allah adalah mukhalafatu lil hawadis yang artinya Allah berbeda dari mahluk-Nya. Selain itu, Allah telah menisbatkan diri di dalam al-Qur’an bahwa dzat-Nya berbeda dengan semua bentuk mahluk. Dalam hal ini, Allah berfirman:

(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia adalah dzat Yang Maha Mendengar, juga Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

FYP: So Sweet, Nabi Mencintaimu

Allah Bersemayam di Atas Arasy

Arasy
sumber: Freepik.com/@Sketchepedia

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arasy” (QS. Thaha: 5)

Ayat ini sangat menarik sekali karena menyebutkan tiga hal paling fundamental dalam kajian teologi Islam. Pertama, kata Ar-Rahman yang bermakna Yang Maha Pengasih; sebagai manifestasi dari salah satu sifat-Nya. Kedua, kata Arasy yang bermakna singgasana-Nya; sebagai perwujudan keagungan dan kemahabesaran-Nya. Ketiga, kata “Istawa” yang bermakna bersemayam atau mengambil tempat; sebagai bentuk perilaku-Nya.

Allah Maha Pemurah

Allah menyebutkan kata Ar-Rahman  sebagai pengabsahan bahwa Dia adalah dzat Yang Maha Pengasih. Maha Pemberi kepada seluruh manusia. Dia Maha Pengasih tidak hanya kepada orang yang beriman saja, tapi kepada orang yang durhaka dan terang-terangan menentangnya sekalipun. Karena, biar bagaimanapun, manusia yang menentangnya juga merupakan bagian ciptaan-Nya sendiri. Allah menunjukan sifat Pemurah-Nya dengan tidak membeda-bedakan.

Inilah perbedaan mendasar antara Allah dengan Raja atau pemimpin umat manusia. Seorang Raja akan membinasakan siapa saja yang berani menentang dan melawannya, tapi Allah tetap akan mengasihi orang-orang yang bahkan berani merendahkan nama-Nya. Dia akan selalu memberikan kesempatan demi kesempatan, hingga tibalah saatnya memberikan peringatan kepada orang-orang tersebut apabila telah melampaui batas. Dan sekalipun dia memberi peringatan berupa cobaan atas kedurhakaan seseorang, Dia tetap akan menunjukan kasih sayang-Nya dengan memberikan kesempatan lagi apabila para pendosa itu mau meminta ampunan.

Muslim Hack: Merindu Baginda Nabi? Amalkan 7 Shalawat Ini

Arasy Allah

Arasy merupakan makhluk Allah yang paling tinggi dan paling agung. Dia adalah simbol kemahabesaran Allah sekaligus menunjukkan sifat superior yang Allah miliki—yang tentu berada di atas kekuatan semesta. Arasy merupakan simbol kekuasaan dan legalitas Allah sebagai satu-satunya Dzat yang pantas disembah. sebagaimana singgasana para raja, Arasy menempati posisi sebagai simbol kemuliaan Allah. tidak ada yang boleh menempatinya, kecuali hanya Allah semata.

Satu hal yang menarik, sekalipun Arasy merupakan ciptaan yang paling agung, dia harus tunduk pada satu kenyataan bahwa seagung apapun Arasy, dia tetaplah bagian dari mahkluk-Nya. Antara Arasy dan Dzat-Nya tidak bersifat egaliter atau sama. Keagungan dan kemuliaan Arasy hanya karena Allah telah menjadikannya simbol kemuliaan dan kebesaran. Sama seperti singgasana seorang Raja. Singgasana itu dikatakan memiliki kemuliaan ketika diduduki oleh seorang Raja, saat Raja tidak berkenan duduk di atas singgasananya, atau bahkan dia menolak singgasana itu, maka singgasana itu tidak ada bedanya dengan kursi-kursi lain di pinggiran jalan.

Makna Istawa

Penggunaan kata istawa yang bermakna bersemayam atau menetap tidak lantas memperbolehkan kita untuk mengatakan bahwa Allah duduk di atas Arasy sebagaimana seorang Raja duduk di atas singgasananya. Sejatinya, kata istawa ini lebih cocok jika dimaknai dengan menguasai. Karena, hakikatnya Allah menguasai Arasy dengan segenap kemuliaannya. Allah ingin menunjukan bahwa dia memiliki kuasa atas apapun juga, bahkan kepada mahkluk yang paling agung dan mulia sekalipun. Kendati sifat kemuliaan melekat pada Arasy, semua kemuliaan itu tetap kembali kepada Allah sebagai penciptanya. Sederhananya, segala sesuatu yang meliputi langit, bumi, tumbuhan, hewan, malaikat, jin, iblis, dan manusia, berada dalam satu genggaman, yaitu genggaman Allah Yang Maha Agung.

Sebagai kesimpulan, ayat ini sering digelincirkan dari makna aslinya. Banyak orang yang salah persepsi dan mengira ayat ini merupakan bukti dan penegasan bahwa Allah berada dan menetap di atas Arasy. Itu merupakan pemahaman yang keliru dan salah besar. Allah tidak membutuhkan tempat sebagaimana seorang makhluk membutuhkannya. Dia tidak membutuhkan singgasana untuk duduk. Karena, jika dia membutuhkan sesuatu selain dirinya, itu berarti Allah memiliki kelemahan, seperti seorang raja yang membutuhkan kursi (singgasana) untuk duduk karena tidak kuat jika terus menerus berdiri.

Maksud ayat kelima adalah penegasan terhadap sifat ketuhanan Allah yang dimanifestasikan dalam sifat Ar-Rahman, disimbolkan dengan Arasy, dan dibuktikan dengan Istawa atau penguasaan-Nya terhadap segala sesuatu yang mewujud.  Wallahu a’lam bissawab.

Leave a Comment