3 Fungsi Hadis terhadap Al-Qur’an yang Perlu Diketahui

Kasih bintang post

GenQu Media—Dalam khazanah keilmuan Islam, setelah Al-Qur’an yang menjadi rujukan pertama, hadis menjadi rujukan kedua yang menyempurnakan ajaran Islam.

Al-Qur’an adalah kalam (ucapan) Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. lewat perantaraan Malaikat Jibril. Sementara hadis atau sunnah merupakan ucapan, perbuatan, dan taqrir (penetapan) dari Rasulullah yang redaksinya langsung dari Rasulullah.

Sebenarnya, hadis juga merupakan wahyu, hanya dibahasakan oleh lisan Rasulullah sendiri. Hal ini diperkuat dengan adanya hadis qudsi, yakni wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah tanpa perantaraan Malaikat Jibril, akan tetapi melalui ilham atau mimpi.

Al-Jurjani mengemukakan bahwa Hadis Qudsi adalah wahyu dari Allah kepada Nabi-Nya melalui ilham atau mimpi, yang kemudian disampaikan oleh Rasulullah saw. dengan menggunakan kata-kata yang merupakan ungkapan beliau sendiri.

Bila kita memahami keduanya, dilengkapi dengan sumber lainnya sebagai pelengkap, yakni Ijmak Sahabat dan Qiyas, tentu pemahaman kita terhadap ajaran Islam akan semakin sempurna.

Artikel FYI: 9 Ulama Perawi Hadis dan Kitabnya yang Legendaris

Lantas bagaimanakah posisi hadis atas Al-Qur’an? Dikutip dari Unida Gontor, ada 3 fungsi hadis terhadap Al-Qur’an. SahabatQu, simak penjelasannya sebagai berikut.

Bayan Al-Mujmal (Menjelaskan yang Masih Global)

Al-Qur’an, sebagai sumber utama agama Islam, merupakan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan mereka. Namun, terkadang ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an masih bersifat umum dan memerlukan penjelasan lebih lanjut. Di sinilah hadis Nabi Muhammad saw. memainkan peran penting sebagai perantara untuk memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat global.

Salah satu fungsi utama hadis Rasulullah adalah menjelaskan isi Al-Qur’an yang masih samar atau belum terperinci. Ini menjadi fungsi hadis terhadap Al-Qur’an yang pertama. Sebagai contoh, terdapat lebih dari 67 ayat yang memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan shalat, tetapi tidak dijelaskan dengan detail mengenai tata cara, waktu, jumlah rakaat, atau berapa kali shalat harus dilakukan dalam sehari.

Untuk mengatasi ketidakjelasan ini, Nabi Muhammad saw. datang sebagai penjelas yang mengambil inspirasi dari ayat-ayat Al-Qur’an yang masih minim penjelasan. Beliau menyampaikan pesan sebagai berikut:

“Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihatku shalat.”

Ringkasnya, melalui hadis Nabi saw. saat ini umat Islam bisa menunaikan shalat fardu 5 waktu lengkap dengan tata caranya yang sesuai dengan contoh Nabi. Melalui hadis nabi, umat Islam juga dapat menunaikan shalat-shalat sunnah dan berbagai ibadah lainnya secara terperinci.

Artikel Muslim Hack: Inilah Tata Cara Sujud Syukur dalam Islam

Ta’kid Al-Hukm (Penguat Hukum)

Inilah fungsi hadis terhadap Al-Qur’an yang kedua. Hadis Nabi juga berfungsi sebagai penguat hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh, terdapat perintah untuk bersuci sebelum melaksanakan sholat dengan berwudhu. Namun, Al-Qur’an tidak memberikan petunjuk yang rinci tentang tata cara berwudhu. Nabi Muhammad memberikan penjelasan yang lebih spesifik melalui hadis, seperti dalam pernyataannya:

“Tidak diterima shalat orang yang berhadas sampai ia berwudhu.”

Melalui hadis ini, Nabi Muhammad saw. memberikan penegasan bahwa wudhu adalah syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan shalat.

Artikel MotivasiQu: Cara Islami Atasi Overthinking

Takhshis Al-Aam (Mengkhususkan yang Umum)

Selanjutnya, fungsi kedua dari 3 fungsi hadis terhadap Al-Quran terakhir, mengkhususkan yang masih umum. Hadis juga memiliki fungsi untuk mengkhususkan ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum menjadi lebih terperinci dan spesifik. Misalnya, terdapat perintah dalam Al-Qur’an untuk menghukum dengan memotong tangan bagi pelaku pencurian.

Namun, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci mengenai panjang tangan yang harus dipotong, apakah tangan kanan atau kiri yang harus dipotong, atau apakah setiap tindakan mencuri harus langsung dihukum dengan pemotongan tangan. Semua ini tidak dijelaskan secara detail dalam Al-Qur’an.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad memberikan penjelasan yang terperinci tentang ayat ini melalui hadis, memperinci hukum dan penerapannya dalam ajaran Islam.

Melalui hadis Nabi, umat Islam dapat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang ajaran Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an. Hadis membantu menjelaskan ayat-ayat yang masih umum, memperkuat hukum yang telah ditetapkan, dan mengkhususkan ayat-ayat yang bersifat umum menjadi lebih spesifik.

Dengan memahami dan mengikuti petunjuk dalam hadis, umat Islam dapat menjalankan agama mereka dengan lebih baik dan sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an.

SahabatQu, itulah 3 fungsi hadis nabi terhadap Al-Qur’an. Semoga kita diberikan kemudahan untuk bisa memahami Al-Qur’an, hadis (sunnah), serta bisa mengamalkan seluruh ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Comment