Investasi, Why Not? Menapaki Investasi Ala Rasulullah

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Dalam perjalanan menuju kebebasan finansial, mengandalkan dana di rekening tabungan saja tidaklah cukup. Selain minim keuntungan, nilai uang dapat tergerus oleh inflasi dan biaya jasa bank bulanan. Oleh karena itu, ahli keuangan menyarankan untuk beralih ke instrumen investasi, khususnya yang sesuai dengan prinsip syariah Islam, seperti Mudharabah.

Sebagian dari SahabatQu mungkin masih dilema terkait hukum investasi seperti apa? Para ulama setuju bahwa investasi, sesuai hukum ijma’, diperbolehkan asalkan mematuhi Al-Qur’an dan hadis.

Secara khusus, fatwa DSN-MUI No. 80/DSN-MUI/III/2011 memberikan panduan mengenai pemilihan investasi yang sesuai dengan prinsip syariah dan melarang kegiatan yang tidak sesuai prinsip syariah dalam konteks investasi dan bisnis.

Pembagian keuntungan dan kerugian harus adil, dengan risiko dibagi proporsional antara investor dan penerima modal sesuai kesepakatan. Konsep investasi sejatinya adalah agar uang yang kita punya bisa bekerja (bertambah) nilainya dan tidak berkurang di masa depan. Investasi bukan hal baru dalam islam, Rasulullah saw sendiri telah melakukan berbagai kegiatan investasi sesuai prinsip syariah Islam. Berikut investasi sesuai syariat Islam yang pernah dilakukan oleh beliau agar menjadi teladan dan inspirasi yang bisa kita contoh.

Tanah & Properti

Investasi yang pernah dilakukan Rasulullah yaitu dengan menyewekan lahan dan properti yang dimilikinya. Rasulullah mengalokasikan lahan dan propertinya untuk disewakan kepada kaum Yahudi, dengan keuntungan yang diperoleh melalui sistem bagi hasil. Hal terdapat dalam hadis yang disampaikan oleh Bukhari dan Muslim:

“Rasulullah saw menyerahkan kebun kurma dan ladang di daerah Khaibar kepada bangsa Yahudi. Mereka menggarapnya dengan biaya mereka sendiri. Dalam perjanjian tersebut, Rasulullah saw menerima setengah dari hasil panen”

(HR. Bukhari No 2329 dan Muslim No 1551).

Dalam investasi ini, hasilnya dibagi secara adil melalui sistem pembagian 50:50, yang dikenal sebagai Mudharabah. Namun, sebelum menyewakan lahan dan properti, pemilik lahan harus membuat surat perjanjian sebagai bentuk pertanggungjawaban hukum jika timbul masalah. Contoh investasi semacam ini mencakup lahan kosong yang disewakan untuk pertanian, ruko, toko, atau rumah yang tidak terpakai.

Bisnis

Rasulullah saw terkenal dengan jejak karir yang luar biasa. Seluruh wilayah Jazirah Arab mengakui keahlian dagang yang sangat luar biasa. Sejak usia 12 tahun beliau diajak untuk terlibat dalam dunia perdagangan oleh pamannya, Abu Thalib, dan juga ikut serta dalam perjalanan bisnis ke Suriah. Berkat pengalaman tersebut, keterampilan berbisnis Rasulullah saw menjadi terasah. Beliau memulai usaha pertamanya dengan berdagang di sekitar Ka’bah di Mekkah. Keahliannya dalam dunia bisnis tentu saja menghasilkan kesuksesan yang luar biasa, seperti yang tercatat dalam Al-Quran Surat Al-Ahzab ayat 21 yang menyatakan:

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan Hari Kiamat serta selalu menyebut-nyebut Allah.”

(QS. Al-Ahzab: 21).

Adapun prinsip-prinsip berdagang ala Rasulullah saw yang dapat kita terapkan dalam bisnis, antara lain:

  • Penjual harus menghindari berbohong dan menipu. Rasulullah SAW pernah mengatakan, “Ketika melakukan penjualan, sampaikanlah kejujuran tanpa ada unsur penipuan.”
  • Berikan waktu tenggat pembayaran kepada pelanggan yang tidak mampu membayar secara penuh. Rasulullah SAW sering memaafkan jika pembeli tidak dapat melunasi utangnya.
  • Penjual dan pembeli harus melakukan transaksi dengan cara yang adil, dan penjual harus jujur dalam menimbang dan mengukur barang. Pembeli juga dihimbau untuk tidak menjual barang yang dibelinya sebelum barang tersebut sepenuhnya dibayarkan.
Investasi
pexels.com

Emas

Emas, sebagai safe haven , telah memegang peranan penting sepanjang sejarah Islam.

Bahkan, pada masa Rasulullah saw emas dalam bentuk dinar dan dirham diakui sebagai alat tukar yang sah.

Dinar dan dirham adalah koin yang terbuat dari logam mulia. Dinar terbuat dari emas dan dirham terbuat dari perak atau silver. Logam mulia, seperti emas, memiliki nilai yang tinggi sejak zaman dahulu, dan diakui sebagai alat perdagangan yang sah. Bahkan orang-orang zaman dahulu menggunakan emas sebagai barang untuk menunjukkan kekuasaan dan kekayaan.

Tidak hanya itu, emas juga terbukti memiliki nilai yang tidak terpengaruh oleh inflasi, hingga saat ini menjadikannya pilihan investasi yang diminati. 

Sejak zaman dahulu, emas telah menjadi instrumen investasi yang populer karena dianggap memberikan banyak keuntungan bagi pemiliknya. Keunggulan ini didasarkan pada sifat emas yang likuid, memungkinkan untuk dicairkan dengan mudah. Di zaman modern, emas dimanfaatkan sebagai instrumen investasi jangka panjang dan simpanan, baik berupa perhiasaan ataupun emas batangan. Harga emas cenderung mengalami kenaikan dalam jangka waktu yang panjang, menjadikannya sebagai pilihan investasi yang menjanjikan hasil di masa depan. Bahkan nilainya cenderung tetap, seolah tidak pernah tergerus inflasi.

Ternak Hewan

Sebagai umat Muslim, kita tentu akrab dengan kisah sejarah Rasulullah saw yang mencatat bahwa beliau dulu seorang penggembala dan merawat puluhan ekor unta. Hewan-hewan ternak ini menjadi bagian dari kekayaan Rasul. Di era modern, investasi dalam hewan ternak tetap menjadi pilihan yang menjanjikan. Terutama ketika memilih jenis ternak yang selalu diperlukan, seperti domba untuk kurban Idul Adha, aqiqah, dan arisan daging potong idul fitri. Kita dapat memulai dengan membeli beberapa ekor untuk dipelihara. Namun, saat menerapkan konsep investasi ala Rasulullah dengan beternak hewan, kita atau pengelola harus memastikan perawatan yang baik terhadap hewan-hewan tersebut.

Hal ini mencakup ketidakbolehan menelantarkan atau menyiksa hewan, sebab Allah swt tidak menyukai perlakuan semena-mena terhadap makhluk-Nya.

Deposito Syariah

Praktik-praktik menerima titipan harta, memberikan pinjaman uang, dan melakukan pengiriman uang telah menjadi kebiasaan sejak zaman Rasulullah saw. Fungsi-fungsi perbankan modern seperti menerima deposito, menyalurkan dana, dan melakukan transfer dana, telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan umat islam. Dalam konteks perbankan, deposito syariah merupakan investasi dana berdasarkan akad mudharabah dan termasuk instrumen investasi jangka menengah, di mana penarikan dana hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai dengan akad antara nasabah dan bank syariah. Akad ini melibatkan nasabah sebagai shahibul maal dan bank sebagai mudharib, dengan tenggang waktu seperti 1 bulan, 3 bulan, dan seterusnya.

Landasan transaksi mudharabah terdapat dalam riwayat Thabrani mengenai Abbas bin Abdul Muthallib, disebutkan bahwa;

Saat menyerahkan hartanya melalui akad mudharabah, Abbas menetapkan beberapa syarat. Dia meminta agar hartanya tidak diperdagangkan melalui lautan, tidak melewati lembah-lembah tertentu, dan tidak digunakan untuk membeli hewan ternak yang sakit atau tidak dapat bergerak. Jika ketiga syarat tersebut dilanggar, pengelola modal harus mengganti rugi. Syarat-syarat ini kemudian sampai kepada Rasulullah SAW, dan Rasulullah membenarkannya.

Bersedekah

Sedekah bukan hanya perbuatan amal, tetapi juga investasi akhirat dengan pahala tidak ternilai. Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 261 menjelaskan

“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah ibarat sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, dan pada setiap tangkai terdapat 100 biji. Allah melipatgandakan pahala-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.”

(QS. Al-Baqarah: 261)

Setiap hamba yang memberikan sedekah dengan tulus akan mendapatkan lipatan rezeki dari Allah. Konsep ini mirip dengan prinsip investasi, apa yang ditanamnya akan bertumbuh dan memberikan hasil lebih besar di masa depan.

Hikmah

Investasi dalam Islam dapat menjadi langkah bijak untuk meraih financial freedom. Mengikuti jejak investasi Rasulullah saw, kita dapat memilih instrumen investasi yang sesuai syariat dan tujuannya baik jangka panjang maupun jangka pendek, seperti tanah, berdagang, emas, ternak hewan, deposito syariah, dan sedekah. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip Islam kita menjadi melek dunia keuangan syariah. Kita dapat mencapai kesuksesan finansial di dunia dan akhirat.

Leave a Comment