Adab dan Tata Krama Bukan Sekedar Formalitas

Kasih bintang post

GenQu Media—Di zaman yang semakin canggih ini, kita dihadapkan pada kenyataan berupa degradesi adab dan perilaku. Menurunnya nilai-nilai kesopanan dan tata krama sudah menjadi gejala umum yang terjadi di kalangan masyarakat luas. Lunturnya nilai-nilai luhur sebagai identitas bangsa juga turut menyumbang kemerosotan perilaku. Tidak mengherankan jika saat ini banyak anak muda yang tidak bisa menggunakan bahasa yang santun saat berkomunikasi (Jawa: Krama).

Krisis Adab

Kemerosotan adab dan tata krama ini juga tercermin dari perilaku sehari-hari saat berinteraksi dengan orang lain. Budaya ‘seenak gue’ seperti sudah menjadi gejala umum. Banyak  yang dengan seenaknya lewat di depan kerumunan orang-orang tanpa permisi, tetap saja duduk santai saat ada orang tua yang berdiri menunggu, berbicara sembrono dengan orang yang lebih tua, sulit untuk mengucapkan ‘maaf’ dan ‘terima kasih’, dan masih banyak lagi.

Padahal, Islam telah jauh-jauh hari mengingatkan kita agar senantiasa berperilaku yang santun. Nabi Muhammad saw. sendiri tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak dan perilaku umatnya.

Akhlak merupakan suatu esensi dan ruh paling penting dalam Islam. Orang yang tidak beilmu tapi berakhlak mulia tidak akan merugikan orang lain, sebaliknya orang yang berilmu tapi tidak berakhlak maka akan merugikan orang lain dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan dari ilmunya tersebut.

Dalam kultur budaya Jawa, tata krama juga merupakan sebuah hal yang fundamental. Tata krama meliputi segala hal dan kegiatan. Mulai dari tata krama saat di rumah, saat keluar rumah, saat bertemu dengan orang lain, tata krama dengan kerabat, tata krama dengan orang tua, tata krama saat makan dan minum, tata krama saat bertamu, dan masih banyak lagi. Kultur Jawa tidak membenarkan bagi seseorang untuk bertindak semaunya. Semua hal ada aturannya. Semua hal ada ‘tatrapannya’. Tidak boleh sembrono, apalagi membuat aturan-aturan baru. Biasanya, bagi orang yang bersikap seenaknya akan dianggap tidak memiliki tata krama atau tidak punya adab. Banyak pula yang menganggap tidak berpendidikan.

OpiniQu: Narkoba Bisa Beredar di Lapas, Kok Bisa?

Sinergi Kultur Jawa dan Islam

Sejatinya antara kultur budaya Jawa dan ajaran Islam saling bersinergi satu sama lain. Ada korelasi yang saling melengkapi antar keduanya. Jika Jawa akrab dengan budaya tata kramanya, maka Islam mengajarkan adab di dalam kitab-kitab yang dikarang para ulamanya.

Ada banyak kitab yang membahas pentingnya adab. Ihya Ulum al-Din karya Imam Ghazali, Adab ad-Dunya wa ad-Din karya Imam Mawardi, Adab al-Alim wa al-Muta’alim karya Hadratus Syaikh Hasyim Ashari merupakan beberapa nama kitab mu’tabar yang membahas tentang adab.

Sebagai ruh Islam, ketika seorang muslim sudah tidak lagi beradab, maka hakikatnya dia sudah tidak layak lagi untuk diberikan predikat sebagai seorang muslim. Dalam filsafat etika, seseorang yang sudah jauh menyimpang dan tidak lagi memiliki etika, bahkan sudah tidak pantas lagi disebut manusia. Akal dan pikiran tidak membenarkan adanya tindakan yang amoral. Hewan dengan segala perilaku dan kebebasannya tidak lain karena mereka tidak memiliki akal. Sebaliknya, jika manusia menghalalkan segala perilaku dan bertindak penuh kebebasan tanpa aturan, bukankah tidak layak lagi disebut manusia?

Bukan Hanya Formalitas

Sebagai sebuah nilai yang luhur, adab dan tata krama bukan sekedar formalitas dan kepatutan. Mempraktikan segala sesuatu dengan adab yang luhur akan membekas dalam jiwa seseorang, sehingga secara spontan segala perilakunya pun akan mencerminkan pribadi yang beradab dan tidak terkesan dibuat-buat.

Dalam kultur Jawa, orang yang mengerti tata krama akan dihormati oleh orang yang lebih muda, dan disegani oleh orang yang lebih tua. Orang yang mengerti tata krama akan mudah diterima dan membaur dalam suatu komunitas baru. Ruang lingkup pergaulan bagi mereka yang menerapkan tata krama akan semakin luas. Singkatnya, tata krama atau adab merupakan modal utama untuk berinteraksi dengan orang lain. Penerimaan suatu komunitas baru terhadap kita sejalan dengan bagaimana kita menunjukan diri kepada mereka.

Tentu bukan suatu perkara yang mudah untuk melatih diri agar senantiasa punya adab yang santun dan tata krama yang baik. Perlu latihan yang intensif, terlebih bagi mereka yang tidak terbiasa. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah kemauan untuk mengubah sikap menjadi lebih baik sudah terhitung sebagai perilaku baik.

Lingkungan dimana kita tinggal biasanya juga berpengaruh terhadap sikap dan perilaku kita masing-masing. Seorang individu yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi tata krama atau etika biasanya cenderung melahirkan sikap yang santun. Sebaliknya, lingkungan keluarga yang mengabaikan tata krama, bicara seenaknya, tidak mengenal tua atau muda, maka biasanya akan melahirkan individu yang ‘urakan’ dan tidak tahu sopan santun.

StoryQu: Kenapa Nabi Isa Diangkat ke Langit?

Atas dasar inilah, rasa-rasanya kita perlu menciptakan kondisi tempat tinggal yang memiliki nilai-nilai luhur dalam bersikap. Selain dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial kemasyaraktan dimana kita hidup juga turut mewarnai bagaimana kita bersikap dan bertindak. Kebiaasaan suatu komunitas akan membias kepada diri kita tanpa kita sadari.

Budaya mengumpat atau mengeluarkan nama-nama hewan akan ditiru oleh anak kecil yang mendengarnya. Hal itu akan diingat dan menjadi sebuah pemahaman baru bahwa hal itu boleh dilakukan karena orang lain juga melakukannya.

Bangsa Beradab

Suatu bangsa akan terus berkembang selama mereka punya adab yang baik. Saat adab telah rusak, maka telah dekat pula kehancuran dan kebinasaan bangsa tersebut. 

Orang-orang Pompeii dibinasakan karena begitu amoralnya perilaku mereka. Kota Sodom dan Gomora juga diluluhlantakan karena orang-orang yang tinggal di dalamnya sudah tidak punya adab lagi. Kekaisaran Romawi dan Persia akhirnya runtuh karena kebejatan dan degradesi moral dan adab yang menjadi gejala umum. Atas dasar itu semua, perlu bagi kita untuk bercermin dan bercermin—melihat segala perilaku yang sedang dan akan kita perbuat.

MotivasiQu: 3 Kunci Bahagia, Amalkan Agar Hidup Lebih Tenang

Kemerosotan adab yang sedang kita rasakan boleh jadi mengarah kepada kebinasaan kita sendiri. Perlu sekali introspeksi dan kesadaran untuk memperbaiki diri. Dorongan terbesar untuk melakukan perubahan tidak datang dari orang lain, melainkan dari diri sendiri. Jika kita saja tidak mau berbenah dan mengubah sikap, bagaimana mungkin orang lain akan mampu melakukannya?

Terakhir, sekali lagi adab dan tata krama bukan sekedar formalitas. Keduanya merupakan unsur yang penting dalam kehidupan manusia yang manusiawi. Di zaman sekarang, rasanya sulit untuk memanusiakan manusia. Lebih banyak manusia yang ingin menyimpang, bertindak sesuka hati , menganggap bahwa aturan sudah seharusnya dilanggar. Atau parahnya justru mencari-cari pembenaran atas tindakan mereka.

Menempatkan adab dan tata krama sebagai prioritas berarti menempatkan harkat dan kehormatan manusia sebagai suatu hal yang harus dijunjung tinggi. Sebaliknya, menyepelekan adab dan tata krama sama artinya dengan menginjak-injak kehormatan dari seorang manusia.           

Leave a Comment