Filosofi Hidup di Pementasan Ebeg

Nama Ebeg diambil dari bahasa ngapak Banyumas, yaitu Ebleg atau Empleg yang berarti lumping atau anyaman-anyaman yang terbuat dari bambu.
Total
0
Shares
Ebeg
sumber: canva
Kasih bintang post

GenQu Media—Mungkin istilah Ebeg kurang familiar dibanding kuda lumping atau Jathilan. Akan tetapi, sebenarnya Ebeg adalah kudang lumping versi Banyumasan. Yang dimaksud Banyumasan disini adalah wilayah Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, bahkan hingga Wonosobo dan Kebumen. 

Apa Itu Ebeg?

Nama Ebeg sendiri diambil dari bahasa ngapak Banyumas, yaitu Ebleg atau Empleg yang berarti lumping atau anyaman-anyaman yang terbuat dari bambu. Zaman dulu, ebleg atau empleg digunakan sebagai pagar rumah.

Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang sejarah dan asal-usul kesenian ini. Sebagian menjelaskan bahwa ebeg dulunya adalah kesenian atau tarian yang menggambarkan Latihan perang prajurit Mataram saat akan melawan VOC (Belanda). Latihan perang itu kemudian dimodifikasi oleh para seniman dengan tujuan mengobarkan semangat rakyat, serta untuk membangkitkan optimisme dari para prajurit yang hendak berangkat melawan para penjajah.

Sementara sebagian yang lain menjelaskan bahwa ebeg dulunya merupakan tarian yang sakral, yang biasa diadakan pada upacara-upacara keagamaan.

Sederhananya, ebeg hampir sama dengan kuda lumping. Ebeg dilakukan oleh beberapa orang dengan menggunakan atribut kuda-kudaan. Setiap regu penari terdiri dari dua kelompok dan dua orang pemimpin.

StoryQu: Dr. Muhammad Kamal Ismail, Arsitek Brilian Tanpa Bayaran

Filosofi Ebeg

Ada dua warna kuda yang biasanya dipakai dalam pementasan. Kuda berwarna putih dan hitam atau merah. Kuda putih menggambarkan pemimpin yang berjalan menuju kebenaran sejati. Sedangkan kuda warna hitam atau merah menggambarkan pemimpin yang berjalan menuju kejahatan. Pada saat tertentu, kedua pemimpin saling bertemu dan berhadap-hadapan, serta saling menggelengkan kepala.

Ini memiliki makna filosofi bahwa antara kebenaran dan kejahatan tidak dapat saling bertemu. Kemudian mundur beberapa langkah, maju lagi bertemu, menggelengkan kepala, dan seterusnya. Seringkali tarian ebeg juga lebih bervariatif. Kombinasi gerakan kaki, tangan dan kepala sangat dominan sekali dalam pementasan ebeg.

Pernak-Pernik Ebeg

Atribut yang biasanya dipakai para pemain adalah celana panjang dilapisi kain batik motif kotak-kotak sebatas lutut, kaca mata hitam, mengenakan ikat kepala dari kain dan sumping di masing-masing telinga (di wilayah Banyumas biasanya para pemain ebeg tidak menggunakannya). Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang yang gemerincing saat digerakan.

Musik yang biasanya digunakan sebagai pengiring pementasan ebeg adalah calung Banyumasan. Sebelum pementasan, biasanya si dukun ebeg akan melakukan ritual upacara dengan membaca doa dan mantra-mantra tertentu. Kemenyan dibakar di atas bara. Sesaji berupa bunga-bunga, pisang raja dan pisang mas, kelapa muda, jajanan pasar dll juga turut dipersiapkan.

Lagu-lagu pengiring pementasan ebeg antara lain: ricik gumricik, waru-waru doyong, cobowo, gudril, blending, lung gadung, dan sebagainya. Semua lagi itu memiliki satu ciri khas, yaitu menggunakan irama banyumasan yang  dominan dengan instrument calungnya.

OpiniQu: Rempang Memanas:  Investor Disayang, Rakyat Dibuang

Bagaimana Keunikannya?

Seperti halnya pementasan kuda lumping, keunikan ebeg terletak pada momen wuru atau mendem (kerasukan) yang dialami para pemainnya. Bisanya untuk mendatangkan indang (jin khusus supaya pemain ebeg dapat kerasukan), si dukun ebeg akan mendekat ke tengah arena, merapalkan mantra, dan melecutkan pecut ke tubuh para pemain.

Setelah wuru, biasanya para pemain akan memakan apa saja. Bisa bamba (bara api merah), beling (pecahan kaca), potongan besi, mengupas kelapa dengan gigi, memakan ayam hidup-hidup, dan masih banyak lagi makanan ekstream yang masuk ke perut mereka.

Tahap ini merupakan filosofi inti dari acara pementasan ebeg. Namun, sepertinya tidak banyak orang yang memahaminya. Pada saat pemain ebeg wuru (kerasukan jin/indang) secara otomatis mereka akan dikuasai seutuhnya oleh si jin itu. Dengan begitu, maka dia bisa memakan apa saja yang sebenarnya mustahil untuk dimakan oleh manusia.

Muslim Hack: Ingin Kedudukan Terpuji? Gapai dengan Shalat Tahajud dan Witir

Filosofinya, begitulah gambaran manusia saat akal dan pikirannya telah dikuasai oleh jin/setan. Mereka bisa memakan (merampas) apa saja. Mereka bisa memakan gedung, memakan aspal, memakan badan jalan, juga memakan uang bantuan sosial, memakan semen untuk pembangunan rumah anak yatim, bahkan memakan kertas-kertas yang di dalamnya tertulis ayat-ayat suci.

Begitulah filosofi utama yang terdapat di dalam pementasan ebeg. Sebagai warisan budaya yang sarat dengan makna ini, sudah seharusnya kita semakin bijak dalam kehidupan. Terlepas dari kontroversi kebolehan pementasan ebeg menurut sudut pandang agama, kenyataanya budaya yang satu ini memang sarat dengan makna kehidupan yang dalam.           

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like