Keutamaan dan Manfaat Membaca Surah Hud

5/5 - (2 votes)

GenQu MediaSurah Hud merupakan surah makkiyah. Dalam mushaf Al-Qur’an, surah ini merupakan ke-11. Adapun urutannya dalam penurunan wahyu, surah ini adalah surah ke-25, diwahyukan setelah Surah Yunus. Jumlah ayatnya adalah 123 ayat. Seperti apakah keutamaan dan manfaat surah ini? Simak penjelasan selengkapnya sebagaimana GenQu Media kutip dari surahquran.com.

Mengenal Surah Ini

Surah ini disebut dalam semua mushaf dan kitab-kitab tafsir serta sunnah sebagai Surah Hud. Tidak ada nama lain yang dikenal selain itu. Surah ini dinamai Hud karena nama tersebut muncul dalam surah ini sebanyak lima kali. Sebab, kisahnya lebih panjang dibandingkan dengan surah-surah lainnya. Karena kaum ‘Ad disebutkan di dalamnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Allah swt. “Ingatlah, kaum ‘Ad telah mendustakan Rasul-rasul.” (QS. Hud: 60).

Nabi Muhammad saw. menyebutnya sebagai Surah Hud. Seperti yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, bahwa Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, telah ada uban pada dirimu.” Rasulullah saw. menjawab, “Hud dan Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, ‘Amma Yatasailun, dan ‘Idza As-Syamsu Kuwwirat.” Dan dalam riwayat lain: “Hud dan saudara-saudaranya.”

Al-Qurtubi setelah mengemukakan beberapa hadis tentang keutamaan surah ini. Dia berkata, “Dalam membaca surah ini terdapat sesuatu yang dapat mengungkapkan kekuasaan dan keganasannya bagi hati-hati yang mengerti. Sehingga jiwa-jiwa gemetar dan kepala-kepala memutih karena ketakutan.”

Keutamaan dan Keistimewaan

  1. Merupakan salah satu dari dua surah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pengganti Zabur.
  2. Barangsiapa ingin melihat hari Kiamat seakan-akan dia melihatnya secara langsung, maka hendaklah dia membacanya. Dari Ibnu Umar, Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ingin melihat hari Kiamat seakan-akan dia melihatnya secara langsung, maka hendaklah dia membaca: ‘Idza As-Syamsu Kuwwirat, wa Idza As-Sama’un Fatarat, wa Idza As-Sama’un Shaqqat, dan saya menduga bahwa beliau juga menyebutkan Surah Hud.”
  3. Diperintahkan untuk membacanya pada hari Jumat. Dari Ka’ab, Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Surah Hud pada hari Jumat.”
  4. Merupakan salah satu dari surah-surah yang membuat uban pada rambut Rasulullah saw. Dari Ibnu Abbas, Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, telah ada uban pada dirimu.” Beliau menjawab, “Hud, Al-Waqi’ah, Al-Mursalat, ‘Amma Yatasailun, dan ‘Idha As-Syamsu Kuwwirat.”

Dan dari Uqbah bin Amir, seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, saya melihat uban pada dirimu.” Beliau menjawab, “Hud dan saudara-saudaranya.”

Dari Abu Jahaifah, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat kamu mempunyai uban.” Beliau menjawab, “Hud dan saudara-saudaranya.”

Dan dari Imran bin Husain dari Nabi saw., “Hud dan saudara-saudaranya.”

Hal ini disebabkan karena surah-surah ini menggambarkan kengerian hari Kiamat dan peristiwa-peristiwa dahsyat yang menimpa umat-umat terdahulu.

Kapan Surah Ini Turun?

Surah Hud
sumber: perchance.org

Mayoritas ulama sepakat bahwa seluruh Surah Hud adalah Makkiyah. Ada juga yang berpendapat bahwa sebagian dari surah ini adalah Madinah, yaitu tiga ayat:

  1. “Maka mungkin kamu hendak membiarkan sebagian dari wahyu yang telah diturunkan kepadamu dan hatimu sangat berat karena dia, (Ayat 12).
  2. “Maka adakah orang yang berdiri di atas bukti yang nyata dari Tuhannya dan di bawahnya mengikuti seorang saksi dari-Nya?” (Ayat 17).
  3. “Dirikanlah shalat di kedua ujung siang dan pada waktu malam yang agak gelap. Dan (dirikanlah pula shalat) pada beberapa saat dari waktu malam.” (Ayat 114).

Yang kami anggap lebih mungkin adalah bahwa seluruh Surah ini adalah Makkiyah. Saat kami menafsirkan ayat-ayat yang disebutkan sebagai Madaniyah, akan kami lihat bahwa hal tersebut mendukung pendapat kami.

Kisah di Balik Surah Ini

Kami juga menganggap bahwa turunnya surah ini terjadi setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebab, seperti yang kami sebutkan sebelumnya, turunnya surah ini setelah Surah Yunus, dan Surah Yunus turun setelah Surah Al-Isra’, yang dimulai dengan peristiwa tersebut.

Periode ini yang mengikuti peristiwa Isra’ Mi’raj adalah salah satu periode paling sulit, menantang, dan berat dalam sejarah dakwah Islam.

Kehilangan Dua Pendukung Dakwah

Pada periode ini, Abu Thalib paman Rasulullah saw. dan pembelanya serta Khadijah, istri Rasulullah saw. yang menjadi penghibur baginya dalam kesulitan, keduanya meninggal.

Kehilangan dua pendukung yang sangat penting bagi Rasulullah saw. tersebut menyebabkan beliau kehilangan perlindungan yang kuat dan dukungan moral. Rasulullah saw. juga menghadapi berbagai bentuk pelecehan dan penindasan yang melebihi yang pernah terjadi sebelumnya. Bahkan, perang terbuka yang dilancarkan oleh musyrikin terhadap beliau dan dakwahnya mencapai tingkat yang paling keras dan paling ekstrem.

Ibnu Ishaq berkata dalam keterangannya tentang periode ini: “Kemudian, pada tahun yang sama, Khadijah binti Khuwailid dan Abu Thalib meninggal dunia dalam waktu satu tahun. Rasulullah saw. mendapat cobaan bertubi-tubi setelah kematian Khadijah, yang menjadi tempat dia berbagi kesedihan atas semua peristiwa yang menimpanya, dan kematian Abu Thalib, yang menjadi sandaran dan pembelanya dalam urusan Islam dan yang melindungi dan membela terhadap kaumnya, dan itu terjadi tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.”

Ketika Abu Thalib meninggal, Quraisy mengambil tindakan terhadap Rasulullah saw. dengan cara yang tidak mereka harapkan sebelum kematian Abu Thalib, bahkan seorang dari orang bodoh Quraisy melemparkan debu ke atas kepalanya.

Ibnu Ishaq melanjutkan: “Hisham bin Urwah mengatakan kepada saya, dari ayahnya, Urwah bin Az-Zubair, dia berkata, ‘Ketika orang bodoh itu melemparkan debu ke atas kepala Rasulullah saw., beliau memasuki rumahnya dengan kepala penuh debu, dan salah satu putrinya datang dan membersihkan debu dari kepala beliau sambil menangis, dan Rasulullah saw. berkata padanya: “Jangan menangis, anakku, karena Allah akan melindungi ayahmu.” Dan dia berkata di antara itu: “Quraisy tidak pernah menyebabkan saya mengalami sesuatu yang lebih menyakitkan dari ketika Abu Thalib meninggal.”

Ketika kami meninjau Surah Hud, kami akan melihat bahwa surah ini menggambarkan periode tersebut secara menyeluruh.

Kaitannya dengan Surah Yunus:

Al-Alusi berkata: “Keterkaitan surah ini dengan Surah Yunus adalah bahwa dalam Surah Yunus disinggung secara singkat kisah Nuh – Alaihis Salam, sementara dalam Surah ini, kisah tersebut dijelaskan lebih rinci dan mendalam daripada surah lainnya.

Selain itu, awal Surah Hud sangat berkaitan dengan akhir Surah Yunus. Karena dimulainya dengan ‘Alif Lam Ra. Kitab yang ayat-ayatnya telah ditentukan dan dinyatakan dengan jelas.’ Sementara di akhir Surah Yunus, kita temui ‘Tilka ayatul kitabil hakim. Yang demikian itu adalah ayat-ayat Al-Kitab yang bijaksana.’ Antara awal Surah ini dan akhir Surah Yunus, hubungannya sangat erat karena di akhir keduanya menolak penyekutuan, mengikuti wahyu, sementara di awal keduanya memperjelas wahyu dan memperingatkan tentang penyekutuan.”

Tujuan Surah Hud

Surah ini diturunkan Allah dengan berbagai tujuan tertentu. Adapun di antara tujuannya adalah sebagai berikut.

Kabar gembira dan peringatan

Al-Quran digambarkan sebagai kitab yang mengandung hukum-hukum dan rincian, baik dalam konteks memberi kabar gembira maupun peringatan. Ini menuntut penempatan setiap hal pada tempat yang paling tepat dan pelaksanaannya dengan cara yang paling baik dan paling adil.

Kekuasaan dan pengetahuan Allah

Perhatian terhadap segala makhluk di bumi, dengan kemampuan atas segala sesuatu dari kebangkitan dan sebagainya. Ini menuntut pengetahuan tentang segala hal yang diketahui, dan menunjukkan keunikan Allah dalam penguasaan-Nya.

Peringatan

Surah ini mengadopsi gaya dakwah dengan memberikan peringatan, dan oleh karena itu, ayat-ayatnya mengandung ancaman, penguatan, dan ancaman, seperti yang disebutkan dalam firman-Nya: “Janganlah kamu menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi kamu dari-Nya.” (Ayat 2), dan firman-Nya yang mulia: “Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takutkan kepadamu azab hari yang besar.” (Ayat 3-4). Maksud ini lebih ditegaskan dalam kisah kaum Hud ketika Allah berfirman: “Dan kaum ‘Ad telah mendustakan ayat-ayat Tuhannya dan telah melanggar pesan-pesan rasul-rasul-Nya dan mengikuti tiap-tiap orang yang sombong lagi bermaksiat, dan telah diikuti di dunia ini oleh laknat, dan pada hari kiamat. Ingatlah! Sesungguhnya kaum ‘Ad telah kafir kepada Tuhannya. Ingatlah! Kecelakaan besarlah bagi kaum ‘Ad.” (Ayat 59-60).

Inti Ajaran Islam

Surah ini memuat pokok-pokok keyakinan Islam seperti tauhid, kebangkitan, balasan, amal saleh, dan membenarkan kenabian Muhammad saw, serta kisah-kisah para rasul.

Sunnatullah Umat Terdahulu

Surah ini menjelaskan sunnatullah pada umat-umat, seperti menjelaskan akibat bagi orang-orang zalim dan pembuat kerusakan di muka bumi. Dan bahwa penyebab kezaliman dan kejahatan yang menyebabkan kehancuran umat adalah karena banyak dari mereka mengikuti kehidupan yang mewah dalam kenikmatan, hawa nafsu, dan kesenangan. Orang-orang yang hidup mewah adalah penyebab kerusakan dan kehancuran umat. Ini diperkuat oleh fakta bahwa segala bentuk kerusakan yang kita saksikan dalam zaman kita, semuanya berakar dari godaan kehidupan mewah, dan mengikuti apa yang diperlukan oleh kemewahan, seperti kemaksiatan, kezaliman, pemborosan, dan kelebihan.

Baik dan Buruk

Surah ini berbicara tentang sifat-sifat jiwa dan akhlaknya, baik yang baik maupun yang buruk, yang merupakan sumber dari perbuatan baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kerusakan. Dan menunjukkan keutamaan para rasul dan orang-orang mukmin yang harus diteladani, serta kejelekan orang-orang kafir yang jiwa mereka harus disucikan dari itu.

Demikianlah beberapa tujuan penting yang termuat dalam Surah Hud, dan masih ada tujuan-tujuan lain di baliknya, yang tidak tersembunyi bagi siapa pun yang memperhatikan surah ini dengan teliti dan mempertimbangkan setiap aspeknya.

Leave a Comment