Kitab Kuning, Orisinilitas Keilmuan Islam

Kasih bintang post

GenQu Media—Sebenarnya, tidak ada aturan khusus mengenai kapan suatu karangan disebut kitab kuning. Apakah semua kitab yang dicetak di atas kertas berwarna kuning disebut dengan istilah yang sama? Lalu, apakah kitab-kitab lain yang tidak dicetak di atas kertas kuning lantas tidak bisa disebut sebagai kitab klasik (kuning)?

Apa Itu Kitab Kuning?

Istilah ini sejatinya merujuk ke semua karangan ulama salaf dalam berbagai disiplin ilmu. Kebetulan, semua karangan itu di cetak di atas kertas berwarna kuning. Maka dari itu, kalangan masyarakat menyebutnya sebagai kitab kuning. Terkait alasan mengapa harus dicetak di atas kertas kuning, banyak pendapat yang berbeda-beda tiap kalangan. Ada yang berpendapat bahwa kertas kuning dipilih sebagai media untuk mencetak tulisan arab dengan tujuan supaya para pembacanya merasa nyaman.

Hal ini dikarenakan kertas berwarna kuning jauh lebih redup dan tidak mencolok saat dibaca. Ada juga yang berpendapat bahwa kertas-kertas yang digunakan pertama kali untuk menulis kitab adalah kertas berwarna kusam yang agak kekuning-kuningan. Maka dari itu banyak penerbit kitab yang ingin mempertahankan bentuk asli dari karangan ulama salaf tersebut.

FYI: 8 Jejak Peninggalan Dinasti Abbasiyah yang Terlupakan

Namun, terlepas dari itu semua, kitab kuning merupakan bagian paling nyata dari orisinalitas keilmuan Islam. Kitab ini menjadi bentuk konkrit dan pengejawantahan dari para intelektual muslim. Bayangkan, para ulama yang hidup ratusan tahun yang lalu masih bisa dibaca karya-karyanya hingga saat ini—seakan-akan mereka belum meninggal.

Melalui kitab inilah, para ulama salaf ingin mendokumentasikan ilmu-ilmu keislaman agar dapat dipelajari dan dikaji oleh generasi mendatang. Mereka ingin menjaga eksistensi dan kemurnian ajaran Islam melalui karya-karya monumental. Awalnya, para ulama hanya menulis kitab-kitab matan (kitab kecil yang hanya berisi pokok-pokok bahasan/masalah tertentu).

Perkembangan Lebih Jauh

Di kemudian hari, seiring meluasnya daerah Islam dan semakin beragamnya corak dan pola pikir manusia, mulailah banyak pertanyaan dan permasalahan baru tentang Islam. Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam kitab matan yang sifatnya global. Umat muslim membutuhkan rujukan yang lebih rinci untuk menjawab permasalah-permasalah mereka.

Atas dasar itulah, para ulama akhirnya mulai menjelaskan kitab-kitab matan yang ada dengan penjelasan yang lebih detail dan rinci. Akhirnya lahirlah kitab-kitab syarah yang menjawab problem umat tersebut. Syarah Fathul Qorib, Syarah Minhajul Abidin, Syarah Ihya Ulum al-Din, Syarah Al-Hikam, merupakan contoh dari kitab syarah yang dikarang oleh para ulama.

Kitab kuning ditulis dengan bahasa yang baku dan aturan formal dalam kaidah ilmu nahwu (gramatika bahasa Arab). Kaidah ini hampir serupa dengan kaidah-kaidah yang digunakan dalam dirasatul hadist, maupun pembelajaran tafsir Al-Qur’an.

Muslim Hack: Wujudkan Mimpi dengan Shalat Hajat, Inilah Tata Caranya

Ragam Disiplin Ilmu

Ada beberapa komponen utama agar seseorang mampu mempelajari kitab klasik. Beragam disiplin ilmu harus dikuasi, seperti ilmu nahwu (sintaksis), ilmu sharaf (morfologi), ilmu balaghah (sastra Arab. Di dalamnya mencakup ilmu bayan, ma’ani dan badi’), ilmu mantiq (logika), dan sederet ilmu-ilmu lainnya. Dari beberapa cabang ilmu tersebut, minimal seseorang harus mahir dalam ilmu nahwu dan sharaf agar mampu membedah ilmu yang tersimpan dalam kitab klasik.

Membaca dan mempelajari kitab kuning sama maknanya dengan berguru secara langsung kepada para ulama-ulama salaf. Sebab, kitab ini merupakan buah pikiran dan ajaran langsung dari mereka. Kitab ini merupakan warisan keilmuan paling orisinil setelah Al-Qur’an dan Al-Hadist. Maka dari itu, mempelajarinya merupakan upaya mengembalikan nilai-nilai keislaman kembali kepada ajaran salafus salihin. 

StoryQu: Ketika Nabi Musa Membelah Lautan, Di Manakah Terjadinya?

Karena hal itulah, pesantren yang ada di Indonesia tetap mempertahankan kitab ini sebagai kurikulum utama bagi tiap santrinya. Pesantren ingin menjaga para santri agar tetap berpedoman pada keilmuan ulama salaf. Di tengah goncangan dan fitnah yang merebak, kembali kepada khittah ahlussunah wal jama’ah merupakan pondasi agar tetap selamat dunia akhirat.

Berbagai disiplin ilmu, seperti tauhid, tajwid, hadis, tafsir, akhlak dan adab, sejarah, kedokteran, astronomi, logika bahkan matematika telah termaktub di dalam kitab klasik. Tugas kita saat ini adalah menjaga dan melestarikan bagian dari orisinilitas keilmuan Islam tersebut. Sebagai warisa dan bagian yang terpisahkan dalam dunia intelektual Islam, maka kitab kuning telah hadir untuk menyelamatkan dan mempertahankan ilmu para ulama dari kepunahan dan kebinasaan. Wallahu a’lam bissawab.

Leave a Comment