Kontroversi Momika, Penista Al-Qur’an di Swedia

Kasih bintang post

GenQu Media—Swedia, sebuah negara yang dikenal dengan nilai-nilai toleransi dan kebebasan, mendapat sorotan internasional yang tak menyenangkan ketika Salwan Momika, seorang pengungsi asal Irak, melakukan aksi kontroversial dengan membakar salinan Al-Qur’an di depan masjid di Stockholm.

Tindakan tersebut terjadi pada momen Iduladha 2023/1444 H yang lalu dan memicu kecaman dari berbagai pihak, khususnya negara-negara Islam. Kejadian ini menimbulkan perdebatan tentang batasan kebebasan berekspresi serta meningkatkan ketegangan antara muslim dan non-Muslim di Swedia.

Siapakah Salwan Momika?

Salwan Momika adalah seorang pengungsi yang melarikan diri dari Irak pada tahun 2014 ketika ISIS merebut kota kelahirannya, Mosul. Pada tahun 2015, ia tiba di Swedia dan diberikan status suaka.

Namun, beberapa tahun terakhir, Momika semakin vokal dalam menentang agama Islam. Melalui media sosial, ia memposting video yang mengajukan seruan agar Al-Qur’an dilarang, dan aktif dalam berbagai protes anti-Islam.

Artikel FYP: Islamofobia Kembali Terulang, Akankah Selesai dengan Kecaman?

Pada tanggal 29 Juni 2023, Momika melakukan aksinya yang kontroversial dengan membakar salinan Al-Qur’an di depan masjid di Stockholm. Tindakan ini segera mengakibatkan penangkapannya dan ia didakwa atas kejahatan kebencian.

Kasus Momika menarik perhatian dunia, dengan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mengutuk tindakannya dan pemerintah Arab Saudi menyebutnya sebagai “serangan terhadap Islam dan Muslim”.

Tidak hanya umat Muslim, pemerintah Swedia juga mengutuk tindakan Momika. Menteri Kehakiman, Morgan Johansson, menyatakan bahwa tindakan tersebut adalah “kejahatan serius” dan Momika akan dituntut seberat-beratnya sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal ini menegaskan bahwa Swedia tidak mentoleransi tindakan yang memprovokasi kebencian dan menyerang agama tertentu.

Puncak Gunung Es Islamofobia

Kasus Momika mencerminkan puncak gunung es insiden Islamofobia yang terjadi di Swedia dalam beberapa tahun terakhir. Pembakaran masjid dan penistaan terhadap Al-Qur’an adalah beberapa contoh kasus lain yang menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Muslim dan non-Muslim di negara ini. Kasus seperti ini menjadi peringatan akan pentingnya membangun toleransi, penghormatan, dan pemahaman antarumat beragama di Swedia.

Artikel StoryQu: Asyura: Hari Pertobatan Nabi Adam dan Hikmahnya yang Berharga

Bukan hanya di Swedia, berbagai kasus serupa sering terjadi di negara-negara Barat dan Eropa. Kasus-kasus tersebut mirip dengan puncak gunung es. Kasus-kasus tersebut menunjukkan betapa islamofobia dari hari ke hari di Barat itu terus meningkat.

Dampak dari kasus Momika meluas ke skala internasional. Negara-negara Muslim mengutuk tindakannya dan menuntut penuntutan hukum terhadap pelakunya. Ketegangan antara Muslim dan non-Muslim di Swedia semakin meningkat, dan isu ini menjadi topik perdebatan dan diskusi yang hangat di berbagai media.

Kasus Salwan Momika menjadi pengingat penting akan perlunya menjunjung tinggi toleransi beragama dan menghormati keyakinan orang lain. Kebebasan berekspresi harus dibatasi oleh tanggung jawab yang mempertimbangkan dampaknya terhadap harmoni sosial. Kejahatan kebencian terhadap kelompok mana pun, tanpa memandang agama atau latar belakangnya, tidak boleh dibiarkan berkembang di masyarakat yang menghargai kebebasan dan keragaman.

Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah Swedia perlu terus memperkuat kerangka hukum yang melindungi hak asasi manusia dan mempromosikan pemahaman antaragama. Penting bagi masyarakat Swedia, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk bekerja sama dalam membangun masyarakat yang inklusif dan saling menghormati.

Kasus penistaan Al-Qur’an oleh Salwan Momika di Swedia menjadi peringatan bagi semua pihak tentang pentingnya menghormati keyakinan orang lain, menghindari tindakan yang memprovokasi kebencian, dan memperkuat toleransi yang sebenarnya dalam masyarakat yang majemuk. Namun tentunya bagi seorang muslim, toleransi dipahami secara benar, tidak menjadi ajang untuk membenarkan semua agama.

Artikel NetQu: GenQu Media, Sahabat Literasi Muslim Muda

Atas Nama Kebebasan Berekspresi?

Dalam kehidupan berdemokrasi, kebebasan berekspresi menjadi pilar yang harus senantiasa dijaga. Namun sayang, pilar ini kerap kali dijadikan alibi, alasan, dalih, atau tameng oleh orang-orang yang meyakininya untuk melakukan provokasi, menebarkan kebencian, menghina, dan menjatuhkan keyakinan orang lain.

Dari kasus kontroversi penista Al-Qur’an di Swedia dan berbagai kasus serupa lainnya, SahabatQu setidaknya bisa melihat efek buruk yang timbul dari kebebasan berekspresi, antara lain:

  1. Penistaan dan penghinaan agama. Kebebasan berekspresi yang melampaui batas dapat menghasilkan tindakan penistaan dan penghinaan terhadap Islam. Ketika simbol-simbol keagamaan, termasuk Al-Qur’an, dihina atau dilecehkan, hal ini dapat menimbulkan rasa sakit, kemarahan, dan ketidakpuasan di kalangan umat Muslim. Tindakan seperti itu dapat merusak perasaan kebersamaan dan mengganggu kerukunan antarumat beragama.
  2. Semakin meluasnya Islamofobia. Kebebasan berekspresi yang digunakan untuk menyebarkan narasi negatif dan stereotip tentang Islam dapat memperkuat Islamofobia. Hal ini dapat menyebabkan diskriminasi, kebencian, dan tindakan kekerasan terhadap umat Muslim. Islamofobia mengancam hak-hak dan kesejahteraan umat Muslim serta menciptakan ketegangan sosial yang merugikan.

Demikianlah kasus penista Al-Qur’an di Swedia. Semoga kasus ini dan kasus serupa lainnya bisa menjadi pelajaran untuk semua untuk tidak menodai agama sesuka hatinya. Bagi kaum muslim, semoga kasus ini dapat memperkuat ukhuwah agar bisa bersatu menjaga Islam dan ajarannya dari segala bentuk pelecehan atau penodaan dari pihak mana pun.

Leave a Comment