Mengaku Cinta Nabi, Buktikanlah dengan Sikapmu

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Rabi’ul awwal bulan kelahiran Baginda Nabi Muhammad saw. Gaung memperingati kelahiran sang kekasih Allah sudah mulai bergema di seantero penjuru negeri. Berbagai ragam kegiatan untuk menunjukkan rasa cinta kepada sang Nabi, seperti pembacaan shalawat, tablig akbar, dan beragam perlombaan seperti perlombaan pembacaan kitab Barjanji atau pun marhabaan. Kegiatan tersebut sebagai bentuk syukur atas kelahiran beliau.

Kaum muslim saat ini tidak hidup di bawah naungan Islam. Tetapi hidup di bawah sistem kapitalisme-sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga banyak dari petunjuk  dan aturan yang dibawa Rasul  diabaikan bahkan dicampakkan. Mencukupkan diri ketika sudah melakukan ibadah ritual seperti, shalat, puasa, zakat dan berhaji.

Muhammad, Sang Leader

Padahal Rasulullah saw. diutus Allah untuk menyampaikan risalah-Nya. Yakni untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Di antaranya hubungan manusia dengan Allah yaitu ibadah dan akhak. Hubungan manusia dengan dirinya yaitu makanan, minuman dan pakaian. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesama yaitu muamalah.

Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin segala bidang. la pemimpin umat di masjid, di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. la tampak seperti psikolog yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab. la juga seorang politisi yang berhasil menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad. Ia juga pemimpin ruhani yang melalui aktivitas peribadahannya telah mengantarkan jiwa pengikutnya ke alam kelezatan samawiyah dan keindahan suasana ilahiah.

FYP: Mengapa Rasulullah Begitu Dicintai?

Hakikat Cinta Nabi

Sebagai seorang muslim, kita wajib mencintai Rasul. Bahkan mencintai-Nya adalah bagian dari rukun iman, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah swt. Katakanlah: “Jika ayahmu, buah hatimu, familimu, permaisurimu, sanak saudaramu, bisnis yang kamu hasilkan, aset yang kamu khawatirkan akan hilang, dan graha yang kamu cintai untuk ditempati, lebih kamu gemari daripada Allah swt. dan Rasul-Nya dan (untuk) berjuang di jalan-Nya, kemudian menunggu Allah mengambil keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasik.  (At-Taubah: 24).

Kualitas iman kita sangat ditentukan oleh kecintaan kita kepada Nabi Muammad saw. Orang yang beriman sempurna selalu mendahulukan cintanya kepada beliau di atas cintanya kepada orang lain. Kecintaannya kepadanya melebihi kecintaannya kepada orang tua, istri, suami, anak bahkan dirinya sendiri.

Sebagaimana sabda Rasulullah: “Tidak ada seorang pun di antara kamu yang sempurna imannya, maka aku lebih digemari daripada ayah bundamu, buah hatimu, dan seluruh kaum manusia.” (HR. Bukhari). Nabi juga berkata: “Belum sempurna keimanan seseorang sebelum ia dicintai lebih  dari mencintai dirinya sendiri.” (HR. Ahmad)

Dengan demikian bukti cinta kita kepada-Nya yaitu  mengikuti dan terikat seluruh syariatnya yang dibawanya tanpa pilih-pilih dan tanpa nanti. Artinya ketika seorang muslim menyatakan bahwa kecintaannya yang tertinggi adalah kepada Allah dan Rasul-nya, dia wajib untuk mengekspresikan rasa cintanya dengan meneladani  perilaku beliau dalam segala lini kehidupan. Allah swt. berfirman,

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُول الله أَسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (QS.al Ahzab [33]: 21)

StoryQu: Romantis! Kisah Cinta dalam Diam Ali dan Fatimah

Metode Mencintai Nabi

Rasa cinta kepada Rasulullah saw. sangat dangkal kalau hanya diungkapkan dalam acara-acara ritual seperti peringatan mengenang kelahiran beliau. Kecintaan semacam ini tidak bermakna apa-apa. Jika dalam aspek kehidupan nyata, ajaran yang dibawa oleh beliau justru banyak ditinggalkan. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan mencintai Nabi Muhammad, sementara teladan kehidupan real dia ambil dari selain beliau.

Misal dalam berekonomi dia meneladani Adam Smith dan David Richardo. Dalam kehidupan sosial dan perubahan masyarakat dia mencontoh konsep Karl Marx, Lenin, dan Stalin. Dalam pendidikan dan psikologi dia berkaca pada teori Sigmund Freud, dst. Padahal, hanya Rasulullahlah yang layak dijadikan teladan pada semua aspek di atas.

Kecintaan dan pengagungan kita kepada Nabi Muhammad saw. mengharuskan kita untuk menyelaraskan semua hal. Baik yang terkait dengan pribadi maupun sosial kita dengan tuntunan beliau maupun yang lainnya. Meneladani beliau dalam ibadah mahdhah diwujudkan dalam bentuk ketundukan dalam menjalankan dan memelihara shalat  sesuai dengan tuntunan beliau.

Kecintaan kita kepada Rasul dapat kita tunjukkan dalam  hubungan kita dengan diri. Seperti cara berpakaian seorang muslimah harus menutup aurat. Ketika hendak keluar rumahnya maka diharuskan memakai jilbab (baju kurung) dan khimar (kerudung). Memakan makanan dan minuman halal dan thayib.

Lalu kecintaan kita kepada Rasul dapat kita tunjukkan juga dalam hubungan sesama manusia (muamalah). Meneladani beliau diwujudkan dalam bentuk ketundukan  dalam menjalankan muamalah. Seperti bagaimana Rasul bergaul dengan lawan jenis, tidak terjadi ikhtilat, kholwat, dan menundukkan pandangannya.

Juga harus meneladani Rasul dalam berkeluarga, Rasul adalah contoh bapak RT yang baik. Seorang suami  adalah qawam yang harus melindungi keluarganya dari panasnya api neraka. Rasul adalah lelaki yang mencintai dan menyayangi istri-istrinya.

NetQu: GenQu Media, Sahabat Literasi Muslim Muda

Beliau Juga Politisi Ulung

Selain itu, kita juga harus meneladani bagaimana ketika rasul berpolitik, Rasul adalah seorang politisi ulung. Beliau mmiliki ketajaman analisis politik. Terekam bagaimana strategi perubahan masyarakat yang beliau jalankan. Ia tidak bersedia menerima kekuasaan kaum Quraisy. Meskipun suku ini kuat secara politik dan militer, namun rapuh dalam hal kekuatan ideologi.

Sebaliknya, ia menempuh jalan yang tidak konvensional dengan menyatukan kelompok-kelompok yang sebelumnya terpecah, Aus dan Khajraz. Melalui kekuatan keyakinan ideologi Islam. Kelompok yang sebelumnya kecil dan terpencar ini berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang secara fisik lebih kuat. Strategi pergantian kekuasaan ini nampaknya sangat canggih dan memiliki kekuatan ideologis yang optimal.

Rasul juga seorang hakim (qadhi) yang adil ketika mengambil keputusan. Sekaligus seorang ekonom. Rasulullah menjadi orang dipercaya di Mekkah, meskipun banyak yang membencinya sebagai Rasul. Namun diakui kredibilitasnya beliau dan keamanahannya sehingga digelari al-amin. Beliau juga tempat menyimpan titipan (wadiah). Beliau  menerapkan sistem ekonomi yang memberikan kemakmuran nyata secara per individu. Bukan kemakmuran semu seperti dalam sistem kapitalisme.

Dengan demikian cara mencintai dan mengagungkan Nabi Muhammad saw, adalah dengan mencontoh Rasul saw secara total, tidak boleh parsial. Untuk mewujudkan itu semua hanya dengan melangsungkan kembali kehidupan Islam secara paripurna diseluruh muka bumi ini. Wallahu a’lam bish shawab.

Leave a Comment