So Sweet, Nabi Mencintaimu

Kasih bintang post

GenQu Media—Dialah Rasulullah, insan mulia yang kelahirannya menggetarkan istana adidaya kerajaan Kisra. Menara-menara kokoh lambang kesombongan ditampuk singgasana kekuasaan para penyembah api runtuh porak-poranda. Kobaran api di altar pemujaan seluruh negerinya padam seketika. Hancur lebur kedigdayaan Kisra terguncang dengan peristiwa dahsyat kelahiran Nabi Muhammad saw.

Hadirmu Selalu Dinanti

Dialah Rasulullah, yang kelahirannya dinanti-nantikan seluruh penghuni langit dan bumi. Dengan pancaran kebahagiaan yang tak terbendung. Langit bercahaya, bintang-bintang menari, semesta pun bersolek menebar wangi harum ke seluruh jagad. Seakan tak sabar menyambut cahaya kenabian Muhammad saw. dari rahim Aminah wanita istimewa pilihan Allah.

Dialah Rasulullah, yang kelembutan dan kesabarannya pada istri-istrinya membuat umatnya terpesona. Suami idaman yang memilih puasa sunnah saat di rumah istrinya tidak ada makanan. Kesabarannya mendengarkan obrolan istrinya di tengah kesibukannya yang padat sebagai kepala negara. Tiada seorang pun yang sanggup menandingi kebijaksanaan beliau saat menanggapi cemburu istri-istrinya.

Dialah Rasulullah, yang dengan keperkasaannya memperjuangkan harkat dan martabat seorang muslimah saat dilecehkan di pasar bani Qainuqa. Mengeksekusi mati para pelaku pelecehan dan mengepung bani Qainuqa berhari-hari hingga memaksa mereka menyerah tanpa syarat.

Dialah Rasulullah, yang pasang badan mempertaruhkan nyawa, mengorbankan waktu, keringat, air mata, harta, dan darah. Demi membela kehormatan kita umatnya. Rela dihina, dicemooh, dilempari batu, diludahi, dihujani kotoran unta. Demi menyelamatkan manusia dari kekafiran. Tidak pernah sekalipun mengkhianati kita umatnya. Beliau penuh kesetiaan dan cinta melebihi pada dirinya sendiri hingga di hari akhirat nanti.

Ummatii

Dialah Rasulullah, yang hingga ajal menjemput masih sempat bertanya kepada malaikat Jibril “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”. Bahkan memohon kepada Allah agar rasa sakit saat sakaratul maut ditimpakan semua pada dirinya. Jangan sampai umatnya merasakan sakitnya sakaratul maut seperti dirinya. “Ummatii, ummatii, ummatii” begitulah suara merdu nan lembut yang mengalun dari lisannya. Tiada henti memikirkan umatnya hingga nyawa berpisah dari raganya.

Ya Rasulullah, menyusuri lembaran sirahmu semakin menyesakkan dada. Pahit getir perjuanganmu demi menebar cahaya kebenaran hingga tersebar ke seluruh dunia terbentang dari Maroko hingga Marauke. Musuh-musuh pun kagum, mengakui kehebatan dan pengaruhnya. Meraih kemenangan di banyak mision impossible, peperangan yang tidak seimbang.

Apakah kini kita bisa menaati seluruh petuahnya? Ataukah jangan-jangan sekadar menghargai pengorbanannya saja kita tak bisa. Lantas apa hujjah yang akan kita sampaikan di yaumul akhir nanti. Bila perilaku kita rasa-rasanya tak pantas mendapatkan syafa’atnya.

Salam untuk Kekasih Hati

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Bait syair indah karya Syekh Ja’far Al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim tersebut rasa-rasanya sudah tak asing lagi bagi siapapun yang mendengarnya. Romantisnya cinta Barzanji menggerakkan relung hatinya untuk menulis kitab. Berisi riwayat hidup Nabi Muhammad saw. dan sanjungan puji-pujian sebagai Rasul mulia.

Atau romantisnya cinta para muslimah. Ketika Rasulullah menyampaikan firman Allah tentang perintah berjilbab, maka sami’na wa atha’na. Dengan bersegera mereka mengambil apapun kain yang ada di rumah untuk dijulurkan di atas tubuhnya.

Juga romantisnya para sahabat yang ketika diseru untuk berdakwah dan jihad. Di manapun diseru, seketika itu juga langkahnya ringan meninggalkan dinar dan dirham yang sudah dalam genggamannya. Bergegas menuju panggilan dakwah dan jihad. Sekalipun nyawa menjadi taruhannya dan kembali hanya tinggal nama.

Betapa romantisnya cinta Asma yang menghadap Nabinya untuk meminta kesetaraan amal sholeh dengan kaum lelaki. Mereka diperintah berjihad di medan tempur dan kewajiban sholat Jum’at. Nabi saw. pun tersenyum mendengar aspirasi tuntutan bombastis yang belum pernah didengar sebelumnya.

Sweet Cintamu

Ya Rasulullah, sungguh sweet cintamu pada umat ini. Tak terjangkau tingginya akhlakmu.

Tidak terlukis indahnya pekertimu, sesungguhnya engkau Rasul mulia sebagaimana Allah swt. telah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (TQS al-Ahzab:21).

Lalu bagaimana dengan kita? romantiskah cinta kita pada Nabi saw.?

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ

"Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS. An-Nisa' Ayat 80)

Leave a Comment