Andrea Hirata, Sang Inspirator Literasi

Saya selalu terpikat dengan rangkaian kalimat yang disusun oleh seorang Andrea Hirata. Saya selalu ingin membaca lagi dan lagi.
Total
1
Shares
Andrea Hirata
Kompas.com
Kasih bintang post

GenQu Media—Mengenal Tetralogi Laskar Pelangi merupakan anugerah dan kebahagiaan tersendiri bagi saya. Jauh sebelum film Laskar Pelangi muncul, saya telah membaca buku tersebut. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bukan karena saya tidak mengerti, tapi saya selalu terpikat dengan rangkaian kalimat yang disusun oleh seorang Andrea Hirata. Saya selalu ingin membaca lagi dan lagi. Laskar Pelangi adalah novel pertama yang benar-benar membuat saya jatuh cinta pada dunia literasi.

Terpikat Laskar Pelangi

Sebelum mengenal novel Laskar Pelangi (2005), sebenarnya saya sudah sering membaca beberapa novel tipis (yang saya lupa nama pengarangnya), kumpulan cerpen, juga buku-buku non fiksi yang cukup serius pada saat itu. Tapi hanya Lakar Pelangi yang benar-benar membuat saya mabuk untuk terus membacanya. Saya mengenal Laskar Pelangi saat awal masuk SMP. Sewaktu masih SD, saya diajak oleh salah satu teman bernama Satria untuk pergi ke Perpusda (perpustakaan daerah). Kala itu, sepulang sekolah Satria meminta saya untuk menemani dirinya mengembalikan buku yang sudah jatuh tempo pengembalian. Saya bersedia karena kebetulan tidak ada kegiatan khusus yang perlu saya kerjakan. Masih menggunakan seragam SD, saya dan Satria berboncengan menggunakan sepeda.

Kami berangkat dari rumah Satria ke Perpusda yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Sampai di sana, saya disuguhi dengan pemandangan rak-rak buku dari kayu yang cukup tinggi. Berbagai genre buku ada di sana, ditulis dan diberi kode huruf untuk masing-masing jenis buku. Mulai dari buku fiksi, agama, sains, teknologi dan masih banyak lagi. Satria membawa saya ke rak buku fiksi. Di kunjungan kami yang pertama, dia menyarankan agar saya menjadi member perpus supaya dapat meminjam buku dengan gratis, dan saya mengikuti saran itu.

Iqra! Kenapa Rasulullah Menyebutnya Lelaki Penghuni Surga?

Jadi Rutin Ke Perpusda

Sejak saat itu, hampir setiap Minggu, saya mengunjungi Perpusda—meminjam dua buku (maksimal peminjaman adalah dua buku), dan mengembalikannya seminggu kemudian. Begitu seterusnya. Saat masuk jenjang SMP, saya dan Satria berbeda sekolah. Berita baiknya, saya diterima di salah satu SMP yang dekat dengan gedung Perpusda (meski sebenarnya tidak dekat-dekat amat). Saat pulang sekolah , sering secara sengaja saya jalan kaki ke perpusda hanya untuk membaca buku. Pulang jam satu siang—mampir ke perpusda—menghabiskan waktu dengan membaca buku di sana—biasanya sampai jam 3 atau jam 4 sore. Saya bahkan pernah di Perpusda sampai hampir tutup. Awal-awal di SMP, saya sering ke perpusda sendirian (karena waktu itu belum ada teman yang sama-sama suka membaca) baru di kelas 8 saya punya dua teman yang punya kesamaan hobi.

Pilihan Diksi yang Indah

Kembali ke novel Laskar Pelangi. Semenjak sering ke Perpusda, saya berkenalan dengan banyak novel, salah satunya Laskar Pelangi. Dulu, ketika pertama kali membaca novel ini, saya merasa tidak ingin cepat-cepat menuntaskannya. Terus terang, saya terpikat dengan pilihan diksi yang indah dan memikat karangan Andrea Hirata. Sering saya membaca berkali-kali halaman yang sama, tersenyum sendiri, membayangkan, membaca lagi dan tersenyum lagi. saya merasa dunia pendidikan yang disajikan oleh Andrea Hirata penuh dengan kejujuran dan sarat dengan unsur lokalitas yang kuat. Andre Hirata sempurna membawa saya melihat sisi lain dari pulau Belitung, yang sampai detik ini pun, saya belum pernah menginjakan kaki di sana.

FYI: Asal Mula Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Arab

Sang Pemimpi

Tidak puas hanya membaca Laskar Pelangi, saya melanjutkan ke sekuel keduanya, yaitu Sang Pemimpi (2006). Saat itu, novel Andrea Hirata benar-benar digandrungi oleh para pembaca. Stok buku-buku karyanya  selalu habis tiap minggunya. Saya membaca Sang Pemimpi hampir beberapa minggu (karena seperti yang saya katakan tadi, saya tidak ingin cepat-cepat menyelesaikannya). Untungnya, di perpusda terdapat fasilitas perpanjang buku, sehingga saya tidak perlu khawatir buku itu akan digaet peminjam lain, sedangkan saya belum selesai membacanya.

Edensor

Kemudian saya meneruskan dengan membaca novel berikutnya, yaitu Edensor(2007). Membaca ketiga novel Andrea Hirata memberikan saya kesimpulan bahwa: sang pengarang merupakan orang yang cerdas memainkan kata-kata, juga cerdas menyajikan hal ilmiah dalam sebuah novel. Di ketiga novel tersebut, selain perasaan saya dipermainkan oleh diksi yang memikat, pikiran saya juga tergelitik dengan banyak istilah-istilah ilmiah yang disajikan oleh Andrea. Saya sering dibuat melongo dengan istilah-istilah tersebut, mengingat saya membacanya saat masih SMP. Tapi justru itu yang membuat saya semakin tertarik dan penasaran dengan novel-novel tersebut. Andrea berhasil memantik rasa penasaran dan imajinasi yang terpendam di otak saya.

Maryamah Karpov

Menuntaskan cerita dengan membaca Maryamah Karpov (2008) juga tidak lantas memuaskan hasrat saya untuk kembali melahap karya-karya Andrea. Membaca empat karya Andrea justru semakin membuat saya haus membaca. Karena saat itu saya belum memiliki fasilitas untuk mengakses internet dengan baik, saya mencari-cari informasi di majalah tentang karya-karya Andrea yang lain. Saya akhirnya mengetahui bahwa Andrea Hirata juga menerbitkan novel Cinta Dalam Gelas (2010) dan Padang Bulan (2010). Tapi saat itu kedua buku itu belum ada di daerah saya. Saya menanti dengan tidak sabar kedua novel ini.

Saat novel ini terbit, saya langsung memburunya dan seperti yang saya duga, saya masih saja terpesona dengan kedua karya monumental ini. Saya membacanya berkali-kali. Selalu saja tidak pernah bosan. Bahkan hingga saat ini, terkadang saya masih suka membacanya. Singkatnya, novel Andrea Hirata adalah cinta pertama saya pada dunia literasi. Sebagaimana cinta pertama pada umumnya, meski saya telah membaca sekian puluh buku, jujur saja, cinta pertama memang tidak akan pernah terlupakan.

Saat membaca novel Ayah (2015), saya diajak oleh Andrea Hirata untuk bermain alur yang sulit ditebak. Sedikit berbeda dengan novel-novel sebelumnya, di novel ini Andrea memainkan pikiran saya untuk selalu menebak ke arah mana sebenarnya cerita ini akan dibawa. Di akhir cerita, Andrea sukses membuat saya terkejut dengan ending yang tak sedikit pun terbayangkan.

Terakhir, saya membaca novel Orang-Orang Biasa (2019)  dan Sebelas Patriot (2011), yang  keduanya masih saja membuat saya terpikat. Novel  Andrea yang belum saya baca adalah Buku Besar Peminum Kopi (2020) dan Guru Aini (2020).

OpiniQu: Sarana dan Prasarana Sekolah masih Bermasalah

Profil Andrea Hirata

Andrea Hirata lahir di Gantung, Belitung pada 24 Oktober 1967. Saat masih kecil, orang tuanya sempat mengubah namanya sebanyak tujuh kali. Hal ini terjadi karena dalam tradisi orang melayu yang menyatakan jika ada ketidakberesan pada diri seorang anak (anak nakal, misalnya), maka namanya harus diganti. Andrea memulai pendidikan tinggi dengan gelar di bidang ekonomi dari Universitas Indonesia. Meskipun study mayor yang diambil oleh Andrea adalah ekonomi, tapi dia amat menggemari sains-fisika, kimia, biologi, astronomi dan sastra.

Setelah menerima beasiswa dari Uni Eropa, dia mengambil program master di Eropa. Pertama di Universitas Paris, lalu di Universitas Sheffield Hallam di Inggris. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari Universitas tersebut dan ia lulus cum laude.

Sosok Andrea Hirata telah memantik ketertarikan saya dalam dunia literasi. Berangkat dari ketertarikan membaca novel, saya menjadi gemar membaca buku apa saja. Baik fiksi ataupun non fiksi. Setelah gemar membaca, saya pun mulai punya ketertarikan untuk menulis. Boleh jadi, aktifitas membaca dan menulis memang berbanding lurus. Dua hal yang saya syukuri dalam hidup ini adalah: saya diberikan kegemaran membaca, dan saya diberikan kemampuan untuk menulis (meski tulisan saya masih jauh dari kata sempurna). Dua hal itu merupakan pemberian yang tak ternilai harganya, yang saya rasa tidak diberikan kepada setiap orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like