Bagaimana Ta’lim al-Muta’alim Mendidik Para Pencari Ilmu?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Mustahil bagi mereka yang mengaku pernah nyantri untuk tidak mengenal kitab Ta’lim al-Muta’alim. Ketenaran kitab ini setara dengan karya-karya agung seperti Ihya Ulum al-Din, Al-Hikam, bahkan Bidayatul Mujtahid.

Pasalnya, setiap santri baru ‘tan kena ora’ alias wajib mempelajari kitab ini sebelum melangkah ke kitab-kitab lainnya. Setidaknya, saya mengenal dua jenis kitab yang berhubungan dengan ta’lim (pembelajaran), yaitu kitabnya sendiri, dan Nadzam Ta’lim atau yang biasa disebut nadzam Alala. Selain kedua kitab itu, masih ada kitab senada, yaitu kitab Adab al-Alim wa al-Muta’alim karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Azhari.

Isi Kitab

Kitab yang dikarang oleh Syaikh Az-Zarnuji itu merupakan pelajaran wajib bagi tiap santri. Setidaknya ada 13 fasal di dalam kitab ini. Fasal-fasal itu adalah:

  1. Faslun fi Mahiyati al-Ilm wa al-Fiqh wa Fadlihi  (Fasal yang menerangkan keadaan ilmu, Fiqih, dan keutamaanya)
  2. Faslun fi Niyati fi Hali at-Ta’allum (Fasal yang menerangkan tentang niat ketika mencari ilmu)
  3. Faslun fi Ikhtiyar al-Ilm wa al-Ustadz wa as-Syarik wa as-Tsibat ‘alaih (Fasal yang menerangkan tentang memilih ilmu, guru, dan teman)
  4. Faslun fi Ta’dimi al-Ilm wa Ahlihi ( Fasal yang menerangkan tentang mengagungkan ilmu dan orang-orang yang memilikinya)
  5. Faslun fi al-Jid wa al-Muwadhobah wa al-Himmah ( Fasal yang menerangkan tentang arti penting bersungguh-sungguh, konsisten, dan bersemangat dalam mencari ilmu)
  6. Faslun fi bidayati as-Sabqi wa Qadrihi wa Tartibihi ( Fasal yang menerangkan tentang permulaan belajar dan urutannya)
  7. Faslun fi Tawakkuli ( Fasal yang menerangkan tentang arti penting dari Tawakkal)
  8. Faslun fi Waqti at-Tahsil ( Fasal yang menerangkan tentang waktu terbaik menghasilkan ilmu/waktu terbaik dalam belajar)
  9. Faslun fi Syafaqoh wa an-Nasihah ( Fasal yang menerangkan tentang sikap yang harus dimiliki oleh seorang ahli ilmu)
  10. Faslun fi al-Istifadah ( Fasal yang menerangkan tentang pentingnya istifadah/mengambil nilai kemanfaatan)
  11. Faslun fi al-Waro’i  ( Fasal yang menerangkan tentang pentingnya sifat wira’i)
  12. Faslun fi Ma Yaritsu al-Hifdza wa fi Ma Yaritsu an-Nisyan ( Fasal yang menerangkan tentang segala sesuatu yang dapat menjadikan mudah menghafal, dan segala sesuatu yang menjadikan lupa)
  13. Faslun fi Jalbi al-Rizqi ( Fasal yang menerangkan tentang segala sesuatu yang menarik rizqi)

FYI: Bagaimana Memahami Allah Bersemayam di Atas Arasy?

Pentingnya Ilmu

Kitab ini sejatinya menekankan pentingnya ilmu dan keutamaan untuk mencarinya. Di kitab ini juga dijelaskan adab-adab yang harus dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya agar ilmu yang di dapat mendapatkan kemanfaatan dan keberkahan.

Di beberapa bab yang saya jumpai, kitab ini seperti benar-benar mementingkan keberkahan ilmu dan kemanfaatannya dibandingkan penguasaan ilmu yang luas. Saya sempat bertanya-tanya mengapa harus begitu. Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa esensi dari ilmu justru terletak pada kemanfaatannya bagi orang lain. Dimensi keberkahan ilmu bisa diukur dari seberapa bermanfaatnya ilmu yang telah di dapat bagi kemaslahatan orang lain. Karena, saat ini kita sering menjumpai orang-orang yang pandai, mempunyai ilmu dan pengetahuan yang luas, tapi dia kurang memberikan kontribusi kepada masyarakat pada umumnya.

Adab Mencari Ilmu

Ta’lim al-Muta'alim
sumber: reneturos.com

Khusus pada Faslun fi Ta’dimi al-Ilm wa Ahlihi seorang santri di ajarkan bagaimana caranya menghormati ilmu, guru dan adab-adab saat mencari ilmu. Bahkan penghormatan kepada kitab/buku yang memuat ilmu itu sendiri juga tak luput dari perhatian sang pengarang. Hal ini menjadi penting mengingat semakin rendahnya penghormatan murid kepada para guru akhir-akhir ini. Semakin merebaknya degrades pola pikir juga menjadi kelaziman di kalangan murid. Anggapan bahwa menuntut ilmu hanya sebatas formalitas sudah menjadi gejala umum. Bahkan pemahaman bahwa sekolah tidak lebih untuk mencari pekerjaan sudah menjadi pola pikir standar hampir seluruh kalangan masyarakat.

Ta’lim al-Muta’alim membawa pemahaman baru tentang esensi ilmu kepada para santri. Tidak mengherankan jika kitab ini menjadi peelajaran wajib bagi tiap santri pemula. Kebanyakan pesantren menghendaki agar pola pikir para santri terhadap ilmu berubah terlebih dahulu, baru setelah itu mereka akan diajarkan ilmu-ilmu lainnya.

FYP: Mengapa Rasulullah Begitu Dicintai?

Konsisten dan Semangat

Pada Faslun fi al-Jid wa al-Muwadhabah wa al-Himmah pengarang menekankan para murid agar bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, serta terus konsisten dan semangat dalam menggapai kemuliaan ahli ilmu. Hal ini tentu saja mengingat cobaan terbesar seorang murid saat mencari ilmu adalah rasa malas, bosan dan putus asa. Syaikh Az-Zarnuji juga menekankan pentingnya kesabaran dan keuletan dalam mendapatkan ilmu. Di dunia ini, tidak ada sesuatu pun yang dapat diperoleh secara instan. Begitu pula dengan ilmu. Perlu ikltiar dan kesungguhan untuk mendapatkannya.

Kitab ini membuka pikiran para santri untuk memahami sisi lain dari dunia para pencari ilmu. Kitab ini punya tujuan utama mendidik pola pikir para santri agar nantinya mereka mendapat kemuliaan derajat dari ilmu yang di dapatkannya. Inilah yang membedakan antara pendidikan ala Pesantren dengan pendidikan pada institusi formal lainnya. Pendidikan di Pesantren menekankan perubahan sikap, perilaku, dan pola pikir terlebih dahulu. Setelah itu baru merambah ke aspek intelegensi para santrinya. Hal ini tentu berbeda dengan pendidikan di sekolah formal yang sedari awal hanya menekankan aspek pengetahuan dan dimensi kecerdasan siswanya. Seringkali institusi pendidikan formal justru lalai terhadap perilaku dan pola pikir siswanya.

StoryQu: Dr. Muhammad Kamal Ismail, Arsitek Brilian Tanpa Bayaran

Pribadi Berbudi Luhur

Sungguh, jika kita berkata jujur, saat ini kita tidak membutuhkan pribadi-pribadi yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Karena orang-orang seperti itu tidak terhitung banyaknya. Kita membutuhkan orang-orang yang berbudi pekerti luhur. Punya perilaku dan sikap yang baik, serta amanah dalam menjalankan setiap hal yang dititipkan kepada mereka.

Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad dala salah satu hadistnya menyatakan: Innama bu’istu li utammima makarimal akhlaq yang artinya, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Hal tersebut tentu saja benar adanya mengingat akhlak yang terpuji adalah pondasi awal seorang muslim. Sekalipun dia memiliki ilmu seluas samudera, tapi jika taka da akhlak yang terpuji pada dirinya, ilmu tersebut justru akan menjadi kerusakan bagi dirinya dan orang lain.

Akhir kata, Syaikh Az-Zarnuji melalui Ta’lim al-Muta’alimnya telah mengajarkan kepada kita semua tentang arti penting adab perilaku terpuji dalam menuntut ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang luhur, maka sudah seharusnya kita bersikap santun dan terpuji untuk meraihnya. Tidak ada yang akan mendapatkan kemuliaan ilmu, kecuali mereka yang mau terlebih dahulu memuliakannya.

Jangan lupa cantumkan mencantumkan kode kupon GENQUMEDIA untuk pemesanan kitab terjemahannya.

Leave a Comment