Masikah, Budak Muslimah yang Menolak Jadi Wanita Penghibur

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Masa jahiliah sebelum datangnya Islam sedikit banyak berimbas kepada kaum perempuan. Tak sedikit kaum perempuan yang dijadikan komoditi atau disamakan layaknya barang, tidak ada harganya.

Nasib Masikah

Adalah Masikah, seorang budak muslimah yang hidup di era jahiliah ini. Sebelum mengenal Islam, Masikah menjadi ‘korban’ kejam dan tercelanya budaya jahiliah. Ketika itu, dia merupakan seorang hamba sahaya milik Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin kaum munafik.

Sebagaimana diketahui bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul adalah tokoh kaum munafik yang digadang-gadang akan dijadikan raja oleh kaumnya di Madinah. Namun saat Rasulullah saw. dan para sahabat hijrah ke Madinah, harapan itu menjadi hancur. Maka tak heran bila Abdullah bin Ubay selalu memusuhi Islam. Lisannya mengaku beriman, tetapi dalam hatinya menyimpan kebencian terhadap Islam. Itulah sikap kaum munafik.

Abdulllah bin Ubay masih menerapkan budaya jahiliah bahwa para budak wanita bisa dijadikan komoditi untuk menghasilkan uang. Bahkan, dia mengumpulkan para wanita cantik dari golongan Yahudi dan selain Yahudi di beberapa rumah yang ditandai dengan bendera merah. Dia menjadi menjalankan bisnis kotor: pergundikan!

NetQu: GenQu Media, Sahabat Literasi Muslim Muda

Rasa Penasaran Pada Islam

Masikah sendiri sebelum datangnya Islam ke Madinah, ia tidak mau dijadikan budak seks oleh majikannya, Ibnu Salul. Masikah didukung dan ditolong oleh temannya bernama Mu’adzah yang sama-sama menentang kelakuan sang majikan. Saat Islam masuk ke Madinah, Ibnu Salul mewanti-wanti kepada Masikah dan Mu’adzah agar jangan sampai tergoda oleh agama baru ini. Bahkan, sang majikan berjanji akan mencukupi kebutuhan mereka berdua.

Namun, larangan itu justru memicu keingintahuan Masikah tentang agama Islam. Lalu, dia dibantu Mu’adzah mencari tahu apa itu Islam kepada para wanita Anshar. Usai mendapat pencerahan, keduanya lalu memeluk Islam. Di benak keduanya, hanya Islamlah yang bisa menyelamatkan mereka dari perlakuan Ibnu Salul. Bahkan, Islam bisa mengangkat derajat wanita ke tempat terpuji.

Menolak Jadi Budak Seks

“Sungguh, perkara yang memaksa kita berada di dalamnya (perbudakan seks) tidak ada kebaikan di dalamnya sama sekali. Kita harus meninggalkannya!” ujar Masikah kepada temannya, Mu’adzah.

Dan aku akan menolak perkara yang keji ini,” lanjut Masikah, “Tidak peduli dengan siksaan apa yang akan ditimpakan Ibnu Salul, si munafik itu kepadaku.”

Mu’adzah mengomentari, “Aku mendukungmu dalam urusan ini. Kita tidak butuh harta dari jalan yang haram. Aku mendengar bahwa Islam menghargai kaum budak dan bahwa sahabat-sahabat Muhammad menyukai pernikahan daripada pergundikan!”

Lalu Mu’adzah membaca firman Allah: “Pezina laki-laki tidak boleh menikah kecuali dengan pezina perempuan, atau dengan perempuan musyrik; dan pezina perempuan tidak boleh menikah kecuali dengan pezina laki-laki atau dengan laki-laki musyrik.” (QS. an-Nûr [24]: 3)

Masikah memotong, “Betul, saudariku! Aku telah mendengar bahwa ayat itu diturunkan berkenaan dengan seorang wanita bernama Ummu Mahdun sebagai pekerja seks komersial. Ia ingin menikah dan melindungi dirinya dengan lelaki muslim, juga agar mendapat nafkah darinya. Si lelaki ini lalu pergi menemui Rasulullah dan meminta izin untuk menikahi Ummu Mahdun. Maka turunlah Jibril menyampaikan ayat tersebut.”

“Alangkah buruknya jika kita seperti itu, walaupun kita benci melakukan hal tesebut dan yang lain menyukainya,” ujar Mu’adzah. Akhirnya, Masikah dan temannya, Mu’adzah pulang.

StoryQu: Kenapa Nabi Yusuf Dijebloskan ke Penjara?

Ibnu Salul Marah

Suatu ketika, Ibnu Salul memeriksa rumah yang dijadikan pergundikan. Ia mendapati banyak wanita pekerja seks yang pulang dan tak kembali lagi. Lalu dia bertanya kepada para pekerjanya dan mendapat jawaban bahwa hal itu dikarenakan oleh ulah Muhammad.

“Betul! Tidak salah lagi, ini karena ulah Muhammad melalui ajaran-ajarannya yang melarang pekerjaan ini! Dulu aku tidak jadi raja gara-gara dia, sekarang dia menghancurkan bisnisku ini!” umpat Ibnu Salul marah.

Tak lama kemudian, datanglah rombongan dari suku yang jauh ke rumah bordir milik Ibnu Salul. Tenu saja, mereka semua ingin berpesta melakukan kemungkaran. Salah seorang dari mereka yang tengah mabuk berkata, “Wahai Ibnu Salul, mana wanita-wanita cantiknya?”

“Siap! Kami akan menyiapkan untuk kalian apa yang kalian mau,” jawab Ibnu Salul.

Menolak Perintah Majikan

Ibnu Salul kemudian bertanya kepada salah seorang pekerjanya, “Mana Masikah dan Mu’adzah? Mereka akan menghabiskan uangnya di sini. Cepat panggil keduanya!”

Si pekerja menemui Masikah menyuruhnya untuk melayani mereka. Namun, di luar dugaan, Masikah berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bermaksiat kepada Allah selamanya mulai hari ini, kendati tubuhku tercabik-cabik dan ajalku menjemput!”

“Apakah ini keputusanmu? Pikirkanlah kembali dengan baik!” ujar si pekerja.

“Aku memohon ampun kepada Allah, sungguh, telah kupikir baik-baik. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita yang lalu. Cukuplah Allah sebagai penolong dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Aku memohon kepada-Nya agar mengeluarkan kami dari neraka ini, menerima tobat serta mengampuni kami.”

Si pekerja kembali menemui Ibnu Salul yang sedang duduk dikelilingi kawan-kawannya. Dia berbisik kepada majikannya, “Tuan, Masikah menolak perintah Tuan! Dia juga tidak akan kembali melayani para lelaki hidung belang selamanya, walaupun nyawa taruhannya.”

Wajah Ibnu Salul merah karena marah mendengarnya. Lalu, dia disertai pekerjanya pergi menemui Masikah. Dia tidak akan luput dari siksaku… bisiknya dalam hati.

Sesampainya di rumah yang disediakan untuk Masikah, Ibnu Salul menendang pintu. Didapatinya Masikah sedang melaksanakan shalat. Tanpa rasa kasihan, Masikah disiksa pakai tongkat di sekujur tubuhnya. Ia menyembunyikan rasa sakitnya dan berharap kesabarannya tersebut sebagai penebus dosa-dosanya.

Muslim Hack: Beginilah Tata Cara Shalat Jenazah dalam Islam

Di Bawah Ancaman

“Celaka kamu jika tidak menaatiku! Aku akan membunuhmu jika kamu tidak menurutiku…” umpat Ibnu Salul dengan marah.

Tiba-tiba, salah seorang bawahannya maju berusaha mencegah seraya berkata, “Tenang dulu, hai Abal Habab!”

“Apa katamu? Aku merasa bahwa Muhammadlah penyebabnya. Apakah aku harus sabar? Aku tahu bagaimana cara melenyapkan wanita ini…” ujar Ibnu Salul.

Kemudian Ibnu Salul keluar diikuti para pekerjanya, sedang Masikah duduk sambil membersihkan darah yang keluar dari lukanya. Ia berharap semua itu bisa menyucikan dari dosa-dosanya dan sebagai jalan agar taubatnya diterima. Ia sudah berjanji tidak akan kembali ke lembah hitam.

Tak lama kemudian, datanglah Mu’adzah, menghibur dan meringankan bebannya juga menyeka air matanya. Tengah malam, kedua sahabat ini berujar, “Apa yang bisa kita perbuat untuk menghadapi lelaki ini (Ibnu Salul) yang memaksa untuk melakukan kemungkaran?”

Menemui Baginda Nabi

Tetiba Masikah berkata, “Bagaimana kalau kita besok mengadu kepada Rasulullah tentang urusan kita ini?”

Esoknya, mereka berdua pergi menemui Baginda Rasul. Di tengah jalan, keduanya bertemu dengan Abu Bakar yang kaget melihat wajah Masikah lebam dan penuh luka. Keduanya mengadu kepada Baginda Rasul atas apa yang menimpanya. Kemudian turunlah firman Allah,

Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Siapa yang memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.” (QS. an-Nûr [24]: 33)

Itulah ketentuan Allah swt. Masikah dan Mu’adzah gembira atas turunnya firman Allah tersebut yang berkenaan dengan urusannya. Masikah menangis gembira, air matanya tumpah karena tobatnya diterima. Lalu ia bersama Mu’adzah melakukan sujud syukur.

Kisah luar biasa ini ada dalam buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga. Ikut juga kisah-kisah romantik sahabat dan sahabat lainnya.

Spesfikasi Buku

Berat: 334 g
Dimensi: 21 × 14 × 3 cm
Cetakan: Juni 2023
Halaman: 334
Cover: Soft Cover
Penulis: Fuad Abdurahman
Penerbit: Rene Islam

SahabatQu juga bisa mendapatkan diskon spesial dengan mencantumkan kode kupon GENQUMEDIA untuk pemesanan di sini. 

4 thoughts on “Masikah, Budak Muslimah yang Menolak Jadi Wanita Penghibur”

Leave a Comment