5 Cara Menjadi Orang Tua Dambaan Surga

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Sebagai orang tua, satu-satunya harapan terbesar adalah melihat anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang baik dan diberkati oleh Allah swt. Namun, perjalanan ini tidaklah mudah, terlebih di era yang terus berubah dan penuh dengan tantangan. Dalam konteks ini, tidaklah cukup hanya menjadi orang tua secara fisik; lebih dari itu, kita harus menjadi pembimbing spiritual yang mampu membawa anak-anak kita menuju kebahagiaan abadi di surga. So, sudah siapkah kita menajdi orang tua dambaan surga?

Menjadi Orang Tua Itu Ladang Pahala

Mengasuh dan mendidik anak adalah ibadah yang sangat mulia menurut ajaran Islam. Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa amalan-amalan baik kita akan terus memberikan manfaat setelah kita meninggal dunia, salah satunya adalah memiliki anak yang saleh yang mendoakan kita. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk memahami bahwa tanggung jawab besar ini adalah ladang pahala yang tak ternilai.

Mengasuh dan mendidik anak adalah ibadah yang sangat mulia, amal shalih yang melahirkan pahala tak pernah putus. Rasulullah saw. bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ – رواه مسلم والترمذيّ وأبو داود والنسائيّ وابن حبّان عن أبي هريرة

Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka amalannya terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya. (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa`i, dan Ibnu Hibban bersumber dari Abu Hurairah ra.)

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إِنَّ فِى الْجَنَّةِ دَارًا يُقَالُ لَهَا دَارُ الْفَرَحِ لَا يَدْخُلُهَا إِلاَّ مَنْ فَرَّحَ الصِّبْيَانَ}.

Nabi saw. bersabda, “Sungguh di dalam surga itu ada rumah yang disebut rumah kebahagiaan yang tidak dimasuki kecuali orang yang membahagiakan anak-anak kecil.” (HR. Imam Abu Ya’la dari Aisyah ra.)

Tidak Meninggalkan Generasi Lemah

Allah memperingatkan kita untuk memperhatikan betul masalah generasi. Coba renungkanlah ayat berikut:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (QS. An-Nisa [4]: 9)

Sayyid Qutub dalam Tafsir Fi Dzilal Al-Quran menyatakan sebagaimana berikut:

“Wasiat keras ini ditujukam terhadap realita yang terjadi di Arab Jahiliyah, yakni penelantaran hak-hak orang lemah, pada umumnya. Khususnya terhadap anak yatim dan wanita. Kebobrokan ini masih terjadi di beberapa circle masyarakat muslim (yang merupakan pecahan asli dari masyarakat jahiliyah) saat itu, hingga akhirnya Al-Quran menjelaskannya, menghapusnya. Kemudian menumbukan semangat, perasaan, pengetahuan, dan kisah yang baru dalam kelompok muslim.”

Said bin Jubair dan Qatadah berkata: “Orang-orang musyrik menjadikan harta warisan hanya untuk laki-laki dewasa dan mereka tidak memberi warisan sedikitpun kepada perempuan dan anak-anak kecil.

Cara Menjadi Orang Tua Dambaan Surga

Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua agar bisa menjadi orang tua shalih yang dirindukan surga.

Bangunlah Karakter Islami pada Anak

Dalam membangun karakter Islami pada anak, orang tua perlu menitikberatkan pengasuhan yang mampu menyentuh aspek kognitif dan emosi Anak.

Membangun karakter islami pada anak memerlukan perencanaan dan pendekatan yang tepat. Mulai dari memilih pasangan hidup yang sejalan dalam nilai-nilai keagamaan sebelum menikah, hingga memberikan pendidikan intens di usia emas anak (0-6 tahun), setiap langkah harus dipersiapkan dengan cermat dan penuh kesadaran akan tanggung jawab tersebut.

Dalam mengembangkan karakter islami pada anak, sejak dini tanamkanlah habit positif dan Islami sedari dini. Selalu menguatkan kognitif anak dengan akidah Islam disertai dengan pengamalan syariah Islam yang menyentuh sisi emosial anak agar anak menjadi terbiasa.

Pahami Kebutuhan Anak

Anak memiliki kebutuhan yang kompleks, termasuk kebutuhan fisik, psikologis, dan spiritual. Sebagai orang tua, penting bagi kita untuk memahami setiap aspek ini dan memberikan perhatian yang sesuai. Ini termasuk memberikan nutrisi yang baik, kasih sayang yang konsisten, dukungan emosional, serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual mereka.

Jalin Bonding yang Kuat dengan Anak

Hubungan yang kuat antara orang tua dan anak adalah kunci utama dalam mendidik anak dengan baik. Ini dapat dicapai melalui komunikasi efektif, interaksi yang intens, menjadi pendengar yang penuh empati. Berilah dukungan yang tak tergoyahkan pada setiap kebaikan yang dilakukan anak. Ketika anak merasa didengar dan didukung, mereka akan lebih terbuka untuk menerima bimbingan dan nasihat dari orang tua.

Dalam Smart Mom Secret, Risa Arisanti memberikan tips untuk bisa melakukan komunikasi efektif dengan anak, yaitu:

  1. Memulai dengan bertanya
  2. Sampaikan melalui cerita
  3. Tersenyum dan tunjukkan rasa humor
  4. Jangan lupakan pujian

“Orang tua perlu mengisi ember harga diri anak dengan sangat tinggi sehingga seluruh dunia tidak mampu mengurasnya sampai kering.“ (Alvin Price)

Untuk menjalin bonding yang kuat dengan anak, bersikaplah dengan penuh kasih sayang terhadap mereka. Rasulullah memberikan kita teladan demikian.

“Sesungguhnya setiap pohon memiliki buah. Buah hati adalah anak. Sesungguhnya Allah tidak menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Jiwaku yang berada di tangan-Nya. Tidak akan masuk surga selain orang yang penyayang.” (Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Ibnu Umar ra.)

Mengambil Teladan dari Para Pendahulu

Dalam Islam, banyak sosok teladan tentang bagaimana mendidik anak dengan baik. Dengan menelani mereka, kita akan bisa menjadi orang tua dambaan surga.

Contohnya, Nabi Ibrahim as. yang menunjukkan kesabaran dan keteguhan iman dalam mendidik anaknya. Beliau kerap melakukan dialog dan komunikasi yang efektif dengan putranya. Misalnya, bagaimana saat beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih Ismail. Nabi Ibrahim mengomunikasikan hal tersebut kepada putranya dengan sangat baik.

Selain itu, Luqman yang memberikan nasihat bijak kepada anaknya tentang kehidupan. Luqman memanggil anaknya dengan panggilan penuh sayang, “Ya Bunayya”. Bunayya jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia sama dengan “Nak”. Mengambil teladan dari mereka dapat membimbing kita dalam menjadi orang tua yang lebih baik.

Maka jadilah teladan (uswah/role model) untuk putra-putri kita tercinta.

“Anakmu akan meniru perilakumu. Jika tidak saat ini, kelak pasti terjadi.” (Philippa Perry)

Menghadapi Tantangan Mendidik Anak

Anak kita kita hidup di zaman yang berbeda ketika kita masih kecil. Ini menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, orang tua harus selalu siap untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut dan mencari solusi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan memahami zaman dan memperbarui strategi pendidikan kita, kita dapat mengatasi tantangan ini dengan lebih baik. Ingatlah pesan ini.

“Didiklah anak sesuai dengan zamannya karena mereka hidup pada zamannya bukan pada zamanmu.” (Ali Bin Abu Thalib)

“Anak adalah untuk zaman yang akan datang, bukan untuk zaman kita. Salahlah pendidikan orang tua yang hendak membuat anaknya seperti mereka juga.” (Buya Hamka)

Kisah Umar bin Khattab dan Orang Tua Durhaka

Ahmad Rifai Rif’an dalam buku Jangan Jadi Orang Tua Durhaka mengutip sebuah kisah yang terjadi di zaman Khalifah Umar bin Khattab. Begini ceritanya, suatu ketika ada seorang Bapak yang mengeluh kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab, mengenai anaknya yang durhaka. Orang itu mengatakan bahwa putranya selalu berkata kasar kepadanya dan seringkali memukulnya. Maka, Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.

“Celaka engkau! Tidakkah engkau tahu bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah?” Bentak Umar.

“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin. Jangan tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau memang seorang ayah memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?” tanya si anak.

“Benar,” jawab Umar. “Lantas, apa hak anak terhadap ayahnya?” lanjut sang Anak.

“Ada tiga,” jawab Umar.

“Pertama, hendaklah ia memilih calon ibu yang baik untuk putranya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga, hendaklah ia mengajarinya al-Quran.”

Sang Anak lantas mengatakan, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku tidak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku. Setelah aku lahir pun ayah menamaiku Ju’al, dan ia tidak pernah mengajariku menghafal al-Quran walau seayat.”

Ju’al bisa diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional.

“Pergi sana! Kaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil, pantas kalau ia durhaka kepadamu sekarang,” bentak Umar kepada si Ayah.

Semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah ini. Dengan membaca artikel ini, semoga kita bisa menjadi orang tua dambaan surga. Amin.

Leave a Comment