5 Pikiran Toksik, Hindari Agar Sehat Mental dan Spiritual

Pikiran toksik bisa meracuni hati dan jiwa seseorang. Oleh sebab itu, sebaiknya setiap muslim menjauhinya agar hati dan jiwanya terjaga.
Total
0
Shares
Pikiran Toksik
sumber: perchance.org
5/5 - (2 votes)

GenQu Media—Islam mengajarkan pemeluknya untuk menjaga kebersihan hati dan pikiran merupakan kunci untuk mencapai kesehatan spiritual. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi hal ini adalah pikiran toksik atau negatif.

Pikiran yang toksik bisa meracuni hati dan jiwa seseorang. Oleh sebab itu, sebaiknya setiap muslim menjauhinya agar hati dan jiwanya senantiasa bersih dan terjaga dari segala keburukannya.

Nah, dalam artikel ini, akan disajikan 5 pikiran negatif yang harus dihindari dalam Islam beserta ajaran dan panduan dari Al-Qur’an dan Hadis untuk mengatasi dan menghindarinya. Apa saja pikiran negatif yang harus dijauhi? Simak sampai tuntas artikel ini ya.

Hasad (Iri Hati)

Hasad, atau iri hati, adalah salah satu bentuk pikiran toksik yang harus dihindari dalam Islam. Allah juga meminta kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan orang yang memiliki karakter hasad atau dengki. Dia berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ ࣖ

dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki. (QS. Al-Falaq [113]: 5)

Sifat hasad sudah muncul pada manusia sejak dahulu, yaitu sejak zaman Nabi Adam as. Bahaya hasad sebagaimana digambarkan dalam kisah Qabil dan Habil. Dalam kisah tersebut, Qabil merasa iri terhadap saudaranya, Habil, karena kurban yang diterima Habil oleh Allah lebih disukai daripada kurban yang diterima Qabil.

Akibatnya, Qabil menjadi iri hati dan membunuh saudaranya. Kisah ini dituturkan dalam Surah Al-Maidah ayat 27-31. Ini mengajarkan kita betapa berbahayanya iri hati dan betapa pentingnya untuk menjaga hati kita dari perasaan tersebut.

Suudzann (Prasangka Buruk)

Dalam Islam, memiliki prasangka buruk terhadap orang lain tanpa bukti yang jelas merupakan sikap yang tidak dianjurkan. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Ḥujurāt [49]:12)

Abū Qilābah meriwayatkan bahwa telah sampai berita kepada ‘Umar bin Khaṭṭāb, bahwa Abū Miḥjan aṣ-Ṣaqafī minum arak bersama-sama dengan kawan-kawannya di rumahnya. Maka pergilah ‘Umar ke rumahnya kemudian masuk ke dalam, tetapi tidak ada seorang pun di rumah kecuali seorang Abū Miḥjan sendiri. Maka Abū Miḥjan berkata, “Sesungguhnya perbuatanmu ini tidak halal bagimu karena Allah telah melarangmu untuk mencari-cari kesalahan orang lain.” Kemudian ‘Umar keluar dari rumahnya.

Allah melarang pula bergunjing atau mengumpat orang lain. Yang dinamakan gībah atau bergunjing itu ialah menyebut-nyebut suatu keburukan orang lain yang tidak disukainya sedang ia tidak berada di tempat itu, baik dengan ucapan atau isyarat, karena yang demikian itu menyakiti orang yang diumpat. Umpatan yang menyakitkan itu ada yang terkait dengan cacat tubuh, budi pekerti, harta, anak, istri, saudaranya, atau apa pun yang ada hubungannya dengan dirinya.

Bencian atau Dendam

Pikiran Toksik
sumber: perchance.org

Islam mengajarkan pentingnya memaafkan dan melepaskan perasaan dendam. Coba resapi ayat berikut:

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nūr [24]: 22)

Ayat tersebut turun berkaitan dengan kisah tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang memaafkan kerabatnya, Mistah bin Atsatsah. Misthah adalah anak dari saudara perempuan Ibunya Abu Bakar ra. ia seorang fakir miskin, berhijrah dari Makkah ke Madinah yang turut bersama Rasulullah saw, memperkuat pasukan kaum Muslimin di Perang Badar.

Meskipun Mistah menyebarkan gosip palsu tentang Aisyah, istri Nabi, yang membuat Abu Bakar sangat marah, Abu Bakar memaafkan Mistah setelah mendengar penjelasan yang memuaskan dari Mistah. Kisah ini diungkapkan dalam Surah An-Nur ayat 11-20. Kisah ini menunjukkan kekuatan dan kebesaran hati dalam memaafkan.

Putus Asa

Putus asa adalah salah satu pikiran toksik yang harus dihindari dalam Islam. Allah mengingatkan,

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar [39]: 53)

Kisah Nabi Yunus as. memberikan inspirasi tentang kekuatan doa dan tawakal kepada Allah. Saat Nabi Yunus terjebak dalam perut ikan besar setelah merasa putus asa karena dakwah kepada umatnya tak kunjung mendapatkan sambutan hangat.

Dalam perut ikan, beliau menyadari kekeliruannya dan memohon kepada Allah dengan doa yang penuh kerendahan hati. Allah pun mengabulkan doanya dan menyelamatkan Nabi Yunus. Kisahnya diungkapkan dalam firman Allah:

وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ

(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis,493) “Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 87

Kisah dakwah Nabi Yunus as. mengajarkan kita pentingnya untuk tidak pernah kehilangan harapan kepada rahmat Allah.

Takabur (Sombong)

Takabbur, atau sifat sombong, adalah salah satu sifat yang sangat dibenci dalam Islam. Allah berfirman,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (QS. Luqmān [31]: 18)

Ada pelajaran yang sangat berharga dari kisah si iblis yang sombong dan menolak bersujud kepada Adam. Dari kisah ini kita bisa melihat betapa berbahaya sikap takabur. Meskipun iblis memiliki pengetahuan dan ibadah yang tinggi, sifat sombongnya membuatnya terjatuh dari kenikmatan Allah. Kisahnya dituturkan dalam Surah Al-A’raf ayat 11-18. Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya untuk tetap rendah hati dan tunduk kepada kehendak Allah.

Melalui kisah-kisah yang menginspirasi dan ajaran Islam yang mulia, kita dapat belajar untuk menghindari pikiran negatif seperti hasad, suudzann, kebencian, putus asa, dan takabbur. Dengan memahami bahaya pikiran yang toksik ini serta cara mengatasi dan menghindarinya sesuai dengan ajaran Islam, kita dapat memperkuat iman dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga artikel ini dapat memberikan inspirasi dan memberikan panduan yang bermanfaat bagi kita semua dalam meningkatkan kesejahteraan spiritual kita.

SahabatQu, demikianlah uraian singkat mengenai 5 pikiran toksik yang wajib dijauhi. Semoga uraian ini memberikan semangat kepada kita untuk senantiasa mengembangkan pikiran yang positif agar kita tetap menjadi pribadi yang sehat mental dan spiritual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like