5 Tahun Tak Dinafkahi, Rumah Tangga Terancam Kandas

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Beberapa hari lalu ada teman saya yang curhat dan meminta arahan terkait kedua orang tuanya yang akan bercerai. Ibunda teman saya itu ingin sekali bercerai dengan suaminya. Akan tetapi merasa kasihan kepada anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Hal itu disebabkan karena suaminya sudah 5 tahun lalai menafkahi baik secara lahiriyah maupun batiniah. Si bapak sempat mengasuh anaknya sendiri tapi intensitasnya jarang. Begitupun sikap suaminya kepada sang istri jarang diberi kasih sayang.

Sampai saat ini rumah tangga orang tua teman saya dalam kondisi tidak harmonis tapi semuanya masih tinggal satu atap. Belum resmi bercerai. Adapun tanggapan dari keluarga ibunda teman saya, dari keluarganya sendiri mengajurkan bercerai saja. Namun dari keluarga pihak bapak dari teman saya itu seakan-akan tidak ada kepedulian.

Permasalahan keluarga dalam pertanyaan di atas memang terbilang pelik. Ternyata cukup panjang juga ya sudah berlangsung 5 tahun tidak dinafkahi dan juga tidak dicerai. Kalau dari sisi istri, dari pertanyaan yang diajukan itu sudah terlihat sebenarnya keinginan istri itu ingin berpisah.

Anak-Anak Masih Kecil

Hanya satu hal besar yang mengganjal, yaitu kondisi anak-anak yang masih kecil. Kelihatannya ini menjadi pertimbangan bagi seluruh kaum perempuan juga. Masalah satu ini kerap kali menjadi pertimbangan ketika ingin berpisah dengan suami.

Ini pertimbangan yang cukup beralasan, anak-anak yang masih kecil masih memerlukan perhatian dan kasih sayang. Selain masalah nafkah, banyak dampak psikologis bagi perkembangan anak-anak bila orang tuanya bercerai.

Selanjutnya keinginan istri untuk bercerai ini juga diperkuat juga oleh saran dari keluarga istrinya untuk berpisah. Kondisi seperti ini menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dengan baik. Perlu dipikirkan dengan matang untuk bisa memutuskan ke depannya seperti apa keputusan yang bulat nanti akan diambil.

Dialog dan Mediasi

Permasalahan sebenarnya yang harus diselesaikan di sini adalah pertama dari suami. Ini menjadi sumber utamanya. Kemudian selanjutnya dukungan dari keluarga suami yang dirasa kurang. Nah, untuk suami, karena masih satu rumah apakah masih memungkinkan untuk berdialog lebih intens dialog? Apakah suami ini masih bisa untuk lebih baik memperbaiki hubungan ke depannya.

Jika dirasa istri belum sanggup melakukan dialog berdua dengan suami, sebaiknya istri mungkin melibatkan pihak ketiga yang dirasa bisa dipercaya. Mungkin dari keluarga istri atau dari keluarga suami jika ada. Atau bisa juga dari tokoh setempat, mungkin ustaz atau ulama yang bisa dipercaya untuk menjadi mediator. Dalam proses mediasi tersebut, perlu disampaikan tentang kewajiban suami dan istri, kemudian penekanan atas tanggung jawab utama suami. Di sini, mediator mencoba untuk mengingatkan bagaimana tanggung jawabnya. Mediator juga mencoba memberikan upaya penyadaran dan nasihat bagaimana seharusnya suami itu menafkahi dan melindungi keluarganya.

Jadi melalui mediasi itu diharapkan suami itu bisa berubah pemikiran atau kesadarannya. Harapannya ada keinginan untuk bisa kembali bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya.

Dalam mediasi itu juga perlu dipastikan suami ini seperti apa sikapnya. Sikapnya terhadap masa depan rumah tangga sertadan tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya dapat diketahui. Sebenarnya kalau mediasi itu berjalan dengan baik, istri dan yang pihak yang membantu dalam mediasinya bisa melihat sikapnya dari awal. Apakah dia ada keinginan untuk berubah atau ingin memperbaiki sikapnya sehingga jauh lebih bertanggung jawab sebagai suami.

Berikan Tenggat Waktu

Mungkin istri juga bisa mengarahkan kepada pihak mediatornya untuk memberikan durasi atau jangka waktu kepada suami untuk bisa berubah. Dalam jangaka waktu tertenu, suami diberikan kesempatan untuk berubah menjadi suami yang lebih bertanggung jawab, sikapnya terhadap anak-anak, dan seterusnya. Jadi mungkin diberi kesempatan seminggu, dua minggu, sebulan, atau mungkin lebih sesuai dengan kondisi dan situasi yang memungkinkan. Soal waktu ini, istri yang lebih paham berapa lama untuk menetapkan.

Dalam masa mediasi, juga disarankan suami ini untuk bisa punya pembimbing atau yang mengarahkan. Entah mungkin tokoh atau kiai setempat yang bisa mengarahkan supaya suami ini bisa lebih paham dengan ajaran Islam. Terutama mengenai bagaimana rumah tangga yang islami, seperti apa tugas suami, tanggung jawabnya dan seterusnya.

Saya yakin suami pun sudah paham mengenai hak dan kewajiban dan tugas dia dalam keluarga. Hanya mungkin ketika dalam kondisi seperti ini ada hal-hal yang membuat dia lupa. Nah, ketika ada orang yang mendampingi dan kembali mengingatkan mudah-mudahan bisa dia lebih memahami lagi kekeliruannya itu.

Ketika mediasi dilakukan ada baiknya dipantau bagaimana perubahan sikap yang terjadi pada suami ini. Apakah dia menyadari kekeliruannya, ataukah ingin berubah memperbaiki hubungan dengan istri dan anak-anak. Nah itu dipantau sekian lama, misal beberapa pekan ke depannya.

Evaluasi Lagi

Kemudian setelah diberikan kesempatan dalam jangka waktu tertentu untuk memperbaiki hubungan, sikap, dan seterusnya, istri selanjutnya melakukan evaluasi. Apakah yang dilakukan oleh suami ini dalam masa itu apakah sudah sesuai dengan harapan istri atau tidak. Kalau ada perkembangan baik (positif), tidak ada salahnya untuk memberikan lagi kesempatan lebih jauh untuk bisa bersikap lebih baik lagi. Siapa tahu nanti ketika diberikan kesempatan untuk memperbaiki lebih jauh ada hasil yang lebih baik lagi. Siapa tahu, Allah menggerakkan hatinya untuk menjadil lebih baik dan penyayang kepada keluarga.

Bagaimana kalau dalam masa pantau itu, tidak ada perkembangan ke arah yang lebih baik? Maka pilihan untuk berpisah akan jauh lebih baik. Langkah ini perlu diambil sekalipun berat, terutama anak-anak yang masih kecil. Masalahnya dalam keluarga itu istri itu berperan sebagai wakil dalam. Sebab dalam rumah tangga itu suami yang menjadi pemimpin utama. Kalau tidak ada pemimpin yang kuat, tangguh, dan shalih, kehidupan keluarga tidak akan bisa berjalan sebagaimana yang seharusnya.

Bukti di sini suami lalai bukan lalai lagi tapi berdosa. Sebab, tidak menafkahi lahir batin dan tidak memperhatikan masa depan anak-anaknya. Melihat kondisi yang ada yang dialami oleh ibu ini memang cukup pelik ya karena tidak adanya kepedulian dari pihak suami.

Ingatkan Kewajiban Suami dan Keluarganya

Jadi ketika nanti perceraian pun misal resmi terjadi, tetap perlu ada komunikasi. Tetap berusaha menjalin komunikasi dengan pihak suami. Bahwa tanggung jawab terhadap anak, pendidikannya, nafkahnya, dan lain-lainnya itu tidak dibebankan kepada istri. Sekalipun sudah berpisah tetap ada tuntutan kepada pihak suami. Terutama kalau suaminya misalnya tidak masih abai berarti ini menjadi tanggung jawab pihak keluarga laki-laki untuk menuntut nafkah.

Memang ini cukup sulit, tetapi tetap harus dikomunikasikan kepada suami dan juga pihak keluarga laki-laki. Sebab, bagaimanapun mereka punya tanggung jawab untuk menafkahi dan mengurus kebutuhan anak-anak.

Karena sebenarnya ini juga yang sepertinya dikhawatirkan oleh istri atau ibu yang ingin bercerai ini. Jadi kekhawatirannya ketika bercerai, suami atau keluarga laki-laki itu abai. Padahal kan bagaimanapun dalam Islam itu suami itu tetap punya tanggung jawab ya terhadap anak-anaknya sekalipun sudah berpisah.

Minta Dukungan Keluarga

Untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga laki-laki, sebaiknya istri meminta bantuan kepada keluarganya sendiri yang bisa dipercaya. Misalnya wali, saudara laki-laki, paman atau yang lainnya untuk bisa mengomunikasikan hal ini kepada keluarga dari pihak laki-laki. Ini penting supaya ketika perceraian ini terjadi istri tidak menanggung semua hal yang menjadi kebutuhan anak-anak.

Barangkali itu langkah-langkah yang mungkin bisa dilakukan oleh pihak ibu yang tengah mengalami masalah keluarga yang pelik. Bisa dicoba dulu langkahnya satu per satu serta jangan lupa untuk berdoa kepada Allah. Pilihan apa pun yang nanti diambil itu adalah pilihan yang terbaik.

Ada baiknya Ibu juga mendoakan khusus suami setelah shalat malam, usai shalat wajib, atau di waktu-waktu mustajab lainnya. Didoakan khusus agar hati suami ini diberikan kelembutan. Panjatkan doa agar diberikan kesadaran. Agar dia kembali bisa menjalankan fungsinya sebagai suami dan ayah. Agar dia lebih bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Semoga saran ini bisa dijalankan. Semoga ibu yang sedang menghadapi masalah ini bisa kuat menghadapi ujian ini. Kemudian Allah juga berikan jalan yang terbaik dalam menyelesaikan masalah rumah tangga yang Ibu hadapi.

Leave a Comment