7 Kesalahan Fatal Jika Terlalu Banyak Bicara

Kasih bintang post

GenQu Media—Akhir-akhir ini, kita sering menyaksikan puluhan orang yang pandai bicara—lebih tepatnya, orang yang banyak bicara hadir di sekeliling kita. Terlebih, ketika sedang terjadi suatu peristiwa atau kejadian yang menghebohkan, maka semua orang belomba-lomba untuk mengambil bagian dengan ikut bicara. Bicara apa saja asalkan kelihatan ikut bicara.

Bicara Seenaknya di Zaman Digital

Syahdan. Kita telah hidup di era saat diam dianggap tidak tahu apa-apa, sedangkan ikut bicara berarti tahu tentang segalanya. Membicarakan suatu hal tentu saja bukan sesuatu yang terlarang apabila dilandasi dengan ilmu dan kebenaran. Namun, jika pembicaraan itu tak lebih dari asumsi, pendapat pribadi, atau bahkan malah ketidaktahuan yang dipaksakan, bukankah itu hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain?

Terlalu banyak bicara hal yang tidak penting juga bukan merupakan akhlak seorang muslim sejati. Seorang muslim yang bijak akan selalu menjaga lisannya, serta memerhatikan segala sesuatu yang terucap dari kedua bibirnya. Hal ini menjadi penting mengingat mulut manusia sering tergelincir untuk berkata yang tidak seharusnya, serta kerap mengucapkan kata-kata yang tidak berdasar dan justru merugikan.

Tentu saja, seseorang yang banyak bicara tidak memiliki waktu yang cukup untuk menimbang apakah yang dia ucapkan merupakan hal yang benar atau justru salah. Akibatnya, ucapannya tidak berdasar dan keliru. Orang yang mendengarnya juga mungkin menjadi bosan dan si pembicara akan kehilangan semangatnya.

Beruntungnya, semua masalah ini telah diperjelas dalam ucapan-ucapan agung Imam Ali Ra. Beliau berkata, “Terlalu banyak bicara itu mengganggu orang banyak.”

Artikel FYI: 10 Fakta Unik Tentang Mukjizat Al-Qur’an

Di kesempatan yang lain, beliau berkata, “Terlalu banyak bicara dapat menyebabkan seorang bijak menjadi sesat dan membuat orang yang sabar menjadi depresi. Karenanya, jangan terlalu banyak bicara, karena engkau akan membuat manusia terganggu dan menyebabkan orang banyak tidak lagi respek terhadapmu.”

Imam Ali mengingatkan kita agar jangan terlalu banyak bicara hal yang tidak penting. Seseorang yang banyak bicara biasanya kerap menggunakan perasaan dan praduganya sendiri dalam membahas sesuatu. Sudut pandang pribadi dan asumsi menjadi dominan ketika suatu hal yang sejatinya sederhana justru dibicarakan panjang lebar. Contohnya, ketika dua orang sedang membicarakan jalan desa yang rusak. Inti dari pembicaraan itu hanya terpusat pada jalan rusak.

Sebab Mudahnya dalam Berasumsi

Kesalahan Fatal Banyak Bicara
sumber: pexels.com

Penyebabnya karena kendaraan yang kelebihan muatan sering lewat sehingga menghancurkan badan jalan. Hanya itu saja—sederhana sekali. Namun, jika pembicaraan diperluas, maka akan merambah ke prasangka bahwa pemerintah mulai lalai mengurus jalan. Pemerintah desa salah. Kepala desa salah. Anggaran pembangunan di korupsi. Bahkan hingga Presiden pun ikut salah. Hal itu tidak lain karena pembicaraan yang terlalu banyak dan tidak perlu, sehingga mengarah kepada praduga yang menyesatkan.

Selain itu, banyak bicara membuat orang lain menjadi tidak respek dan kurang antusias kepada kita. Semakin banyak kata yang dikeluarkan, semakin sedikit makna dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Obrolan yang panjang lebar biasanya hanya berupa pengulangan dari pembicaraan sebelumnya. Atau boleh jadi pembicaraan yang meluas itu justru hanya berupa prasangka dan ucapan tidak berdasar.

Imam Ali Ra juga berkata, “Hindarilah terlalu banyak bicara, karena hal itu hanya akan menambah kesalahan-kesalahanmu dan melahirkan kebosanan bagi orang lain.”
Banyak bicara hanya akan menambah kesalahan dari si pembicara karena saat berbicara panjang lebar, dia kerap lupa terhadap apa yang sedang dibicarakannya.

Dia sering ‘keceplosan’ untuk menggibah orang, menilai dan mengorek kesalahan orang lain, juga bermaiin-main dengan prasangka dan perasaannya sendiri yang kerap mendorong pada kekeliruan. Pembicaraan yang tidak perlu hanya melahirkan salah ucap dan kesalahan-kesalahan. Si pendengar pun akan dibuat bosan karena ucapan kita yang terlalu panjang lebar.
Beliau juga berkata, “Terlalu banyak bicara dapat meluaskan lingkup pembicaraan dan mengurangi makna-maknanya. Tidak ada orang yang dapat mengambil manfaat darinya.”

Artikel MotivasiQu: Cara Islami Atasi Overthinking

Menakar Setiap Ucapan

Sebagaimana yang telah kita ketahui, memperbincangkan banyak hal hanya akan meluaskan tema dan menyempitkan makna dari esensi pembicaraan itu sendiri. Banyak bicara hal yang tidak penting merupakan kesia-siaan yang tidak perlu. Seorang muslim yang bijak adalah mereka yang mampu mengukur dan menakar setiap ucapan yang dikeluarkan. Apakah ucapan tersebut bermanfaat, atau justru punya potensi untuk mendatangkan mudharat.

Banyak bicara tentu tidak selalu menjadi hal yang terlarang. Adakalanya justru itu diperlukan, misalnya saat menjelaskan atau menjabarkan suatu permasalahan. Yang perlu digaris bawahi adalah nilai dari apa yang kita sampaikan—bukan sekedar ucapan yang asal bunyi.
Imam Ali Ra berkata, “Kurangilah kadar pembicaraanmu agar engkau menjadi aman dari celaan.”

Sedikit Bicara

Meminimalisir pembicaraan yang tidak perlu dapat menghindarkan kita dari perkataan yang merugikan. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bicara panjang lebar berpotensi mengarah pada ghibah atau justru membeberkan rahasia/aib diri sendiri. Hal semacam itu justru akan mendatangkan keburukan bagi diri kita sendiri.

Seringkali, orang yang banyak bicara berpotensi menjadi seorang pembual. Saat kita dicap seperti itu, maka hanya celaan dan cibiranlah yang kita dapatkan karena orang-orang sudah tidak percaya lagi terhadap sesuatu yang kita katakan.

Artikel StoryQu: Kenapa Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus?

Tips Terhindar dari Banyak Bicara

Menanggapi hal ini, setidaknya ada beberapa cara agar kita terhindar dari banyak bicara yang tidak perlu:

  1. Hindari kerumunan yang di dalamnya tidak terdapat percakapan tentang ilmu maupun tentang keagamaan.
  2. Utamakan berfikir dulu, baru bicara.
  3. Jangan gunakan prinsip yang penting bicara dulu, baru kemudian berfikir.
  4. Selalu latih diri kita masing-masing untuk senantiasa mengucapkan hal-hal yang dirasa penting dan bermanfaat.
  5. Hindari obrolan yang terlalu meluas dan mengarah pada ghibbah.
  6. Adakalanya diam merupakan solusi untuk memutus pembicaraan yang semakin luas cakupannya. Dengan diam, maka lawan bicara kita mengerti bahwa kita tak berkenan melanjutkan pembicaraan.
  7. Mawas diri dalam berucap merupakan kunci utama agar selamat. Banyak sekali orang-orang yang tergelincir karena ucapan mereka sendiri.
    Pada akhirnya, sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajiban bagi kita agar senantiasa menjaga lisan dan ucapan. Banyak sekali mudharat yang ditimbulkan apabila kita tidak hati-hati dalam berucap.“Ada begitu banyak orang yang menyesal karena banyak bicara, tapi tak pernah kutemukan itu pada orang yang diam.”
    Begitulah maqolah yang sering kita dengar tentang pentingnya menjaga ucapan.
    Al-Insan makhalul khatha wa nisyan. Yang artinya, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Manusia memang memiliki kecenderungan untuk berbuat salah dan lupa. Begitu pula saat dia berbicara. Manusia mudah sekali terpleset pada kesalahan karena ucapannya. Manusia juga berpotensi lupa diri saat bicara, atau bahkan lupa bahwa ucapannya merupakan sesuatu yang tidak pantas. Untuk mengantisipasi itu semua, maka jauh-jauh hari Imam Ali Ra telah memperingatkan kita agar tidak terlalu banyak bicara. Itu tentu saja demi kebaikan kita sendiri.
    .

Leave a Comment