Cara Mengajari Anak Hidup Sederhana

Masyarakat saat ini memang diedukasi, dipromosikan, atau diarahkan untuk hidup serbakonsumtif dan jauh dari gaya hidup sederhana.
Total
0
Shares
Hidup Sederhana
sumber: canva
5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Member di sebuah grup WA Rumah Sakinah yang dikelola oleh Pondok Digitalpreneur Abdurrahman bin Auf mengajukan sebuah pertanyaan. Dia bertanya, bagaimanakah mengajarkan anak tentang nilai-nilai seperti kesederhanaan, rasa syukur, dan empati dalam masyarakat yang serbakonsumtif?

Hidup Konsumtif Jadi Gaya Hidup

Saya rasa, pertanyaannya ini sebenarnya mewakili hampir semua orang tua di seluruh negeri ini. Masyarakat saat ini memang diedukasi, dipromosikan, atau diarahkan untuk hidup serbakonsumtif dan jauh dari gaya hidup sederhana.

Buktinya, Kalau kita buka berbagai media ya, entah itu sosial media televisi, dan lain-lain sering kita disodori dengan berbagai iklan produk yang itu tuh menuntut kita untuk berperilaku konsumsi di iming-imingi dengan berbagai diskon: diskon awal bulan, diskon gajian, diskon Ramadan, diskon spesial lebaran, dan berbagai diskon-diskon lainnya yang itu membuat kita jadi berperilaku konsumtif.

Gaya Hidup Konsumtif Bertentangan dengan Islam

Sementara konsumtif yang berlebih (boros) dalam Islam juga kan itu sangat bertentangan dengan Islam. Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. Allah berfirman,

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ

Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (QS. Al-A‘rāf [7]:31)

Bahkan Allah melabeli orang yang boros alias berlebih-lebihan itu adalah saudaranya setan.

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِ ۗوَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isrā’ [17]:27)

Sebaliknya dalam Islam kita diajarkan untuk hidup sederhana, bersyukur, dan berempati. Sayangnya nilai-nilai mulia itu makin tergerus dengan budaya hidup konsumtif saat ini.

Cara Mengajarkan Kesederhanan dalam Hidup

Nah, pertanyaannya sekarang bagaimana mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, rasa syukur, dan empati itu kepada?

Memang sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai ini kepada anak dari dini. Namun cara menanamkannya itu perlu dengan cara yang tepat agar anak-anak bisa memahami pesan yang kita sampaikan.

Nah, perlu perlu kita pahami bahwa istilah kesederhanaan rasa syukur dan empati itu adalah konsep yang abstrak. Buat orang dewasa sih nggak masalah, mereka bisa langsung paham.

Akan tetapi kalau buat anak kecil yang mungkin usianya masih SD, konsep abstrak itu harus dibuat jadi lebih konkret. Sebab anak SD itu secara umum masih berada dalam tahap berpikir konkret operasional. Pada tahap ini anak-anak baru bisa memahami kalau kalau sesuatu yang kita sampaikan itu bisa terindra atau terlihat secara fisik. Akan lebih tepat mungkin kalau ke anak SD dengan memberikan contoh langsung.

Ajarkan dengan Role Model

Jadi tidak bisa langsung menjelaskan konsep harus hidup sederhana, harus bersyukur harus empati, tapi sebaiknya ditunjukkan lewat aktivitas yang terlihat. Kita mungkin orang tua harus jadi role model yang nyontohin langsung ke mereka hidupnya itu sederhana lewat sikap dan keseharian kita.

Kemudian mencontohkan banyak-banyak bersyukur, syukurnya itu dalam bentuk yang konkret. Misal, banyak berzikir mengucap alhamdulillah dan juga lewat perbuatan dengan mencontohkan bersedekah kepada orang yanng membutuhkan. Dan aktivitas itu terlihat langsung secara konkret oleh anak. Begitu juga berempati langsung peduli ditunjukin di hadapan anak gimana cara berempati dan peduli itu.

Selanjutnya kalau ke fase usia yang sudah cenderung lebih besar, SMP dan SMA itu sudah bisa diajak berpikir abstrak. Jadi kita sudah bisa berdialog dengan mereka tentang konsep-konsep hidup sederhana. Ajak mereka untuk berpikir. Kita juga bisa jelaskan kayak gimana dalam Islam itu diajarin sederhana tuh kayak gimana. Tapi tentu ini juga dengan bahasa yang bisa dicerna oleh mereka.

Pendekatan Story Telling

Selain pendekatan roll model ngasih contoh langsung, semua usia, baik Anak SD, SMP, atau SMA itu bisa dengan pendekatan story telling (berkisah).

Kita bisa bercerita Kisah-kisah orang Saleh di zaman dulu yang hidupnya sederhana. Kita ceritakan bagaimana kesederhanaan Khalifah Abu bakar, seperti apa kesederhanaan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, atau sahabat-sahabat yang lain.

Tantangan Lingkungan

Ketika kita sudah berdialog dengan anak kita kemudian mencontohkan ke anak kita tapi pada kenyataannya lingkungan yang tidak mendukung, ya itu jadi PR besar untuk kita sebagai orang tua. Artinya kita sebagai orang tua, sebagai ayah, atau sebagai ibunya harus senantiasa membentengi mereka dari perlaku konsumtif dan negatif lainnya.

Tidak Bosan Menjelaskan

Kalau misal si anak ketika di luaran sana melihat sahabatnya, saudaranya, atau kerabatnya, atau menyaksikan di berbagai kanal media banyak yang berperilaku boros, hidup mewah, kurang bersyukur, terus nggak peduli sama orang, kita sebagai orang tua perlu jelaskan bahwa itu bukan hal yang wajar. Kita bilang kepada anak-anak kita bahwa itu merupakan perbuatan keliru. Kemudian kita jelaskan pula kepada mereka bagaimana perilaku yang dibenarkan menurut Islam.

Jalin Komunikasi Efektif

Jadi, memang harus pandai-pandai berdialog dengan anak untuk membandingkan dan mengkomunikasikan mana yang benar dan mana yang salah. Pada intinya harus lebih banyak lagi menjalin komunikasi, berdialog dengan anak begitu sekalipun anak masih berada dalam tahapan konkret operasional. Kita tetap bisa menjalin komunikasi dengan mereka dengan bahasa yang lebih sederhana yang bisa dipahami oleh mereka. Jadi harus pandai-pandai memilihkan bahasa yang tepat untuk mereka.

Kalau sering-sering kita mengomunikasikan dengan anak lama-lama akan tertanam di benak mereka bahwa yang benar itu begini dan yang salah seperti ini. Repetisi (pengulangan) pesan (komunikasi) yang dilakukan kepada anak pun itu menjadi penguat bahwa pesan itu akan masuk ke alam bawah sadar mereka. Kalau di awal mungkin masih belum terbiasa, lama-lama karena sering di kita sebut, sering kita bicarakan, berulang kali kita sampaikan itu akan menjadi habit atau kebiasaan mereka.

Wallahu’alam. Demikian semoga ada yang bisa dicoba dipraktikkan. Semoga Allah mudahkan kita semua selaku orang tua untuk bisa menanamkan gaya hidup sederhana, banyak bersyukur, dan selalu berempati kepada sesama. Allahumma amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like