Cara Rasulullah Menghilangkan Kesedihan

Kasih bintang post

GenQu Media—Sedih adalah lawan kata dari bahagia. SahabatQu, apa pun di dunia ini selalu ada pasangannya. Suka dipasangkan dengan duka. Gelap beriringan dengan cahaya. Setelah kejatuhan akan ada kebangkitan atau sebaliknya So, kehidupan di dunia ini memang tidak ada yang abadi dan kerap kali dipergilirkan. Setelah kesedihan pun pasti akan ada kebahagiaan.

SahabatQu, kamu pun tentu pernah mengalami sedih yang luar biasa menguras hatimu. Mungkin karena kehilangan sesuatu yang amat berharga atau tidak mampu meraih apa yang kamu benar-benar inginkan. Bahkan, para nabi dan rasul sama halnya seperti manusia. Mereka pernah berada di titik terendah dan mengalami kesedihan. Lantas bagaimanakah cara Rasulullah menghilangkan kesedihan?

Bila Rasulullah Sedih

SahabatQu, Nabi Muhammad saw. juga pernah mengalami kesedihan dalam beberapa episode perjalanan hidupnya. Beberapa kesedihan yang beliau alami antara lain:

Kehilangan orang-orang terdekat

Nabi Muhammad kehilangan ayahnya, Abdullah, sebelum beliau lahir. Ibunya, Aminah, juga meninggal ketika beliau masih kecil. Kemudian, saat beliau dewasa, Nabi Muhammad kehilangan istri tercintanya, Khadijah, yang merupakan pendukung utama beliau.

Penolakan dan persekusi

Rasulullah saw. memang diutus Allah untuk mengemban risalah Islam yang paripurna dan universal untuk seluruh umat manusia. Namun bukan perkara mudah saat menunaikannya. Beliau harus menghadapi penolakan dan persekusi yang berat dari suku Quraisy di Makkah. Beliau dan para pengikutnya mendapatkan perlakuan keras, termasuk pengucilan, penyiksaan fisik, dan embargo ekonomi.

SahabatQu Baca Juga: Cara Meraih Kehidupan yang Baik Menurut Islam

Kehilangan Putranya

Orang tua mana yang tidak merasa sedih ketika kehilangan permata hatinya. Rasulullah saw. dan Khadijah ra. pun pernah mengalami momen penuh duka ketika salah satu putra mereka yang bernama Ibrahim meninggal saat masih bayi.

Meninggalkan Makkah

Ketika keadaan di Makkah semakin tak bersahabat bagi beliau dan pengikutnya, Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Madinah. Meskipun hijrah tersebut membuka babak baru dalam sejarah Islam, itu juga merupakan momen pengasingan dari tempat kelahirannya dan Ka’bah (Masjidil Haram).

Pertempuran dan perang

Nabi Muhammad terlibat dalam serangkaian pertempuran dan perang saat menegakkan Islam dan mempertahankan umat muslim. Dia menyaksikan kehilangan nyawa sahabat-sahabat terdekatnya dalam pertempuran, termasuk dalam peristiwa-peristiwa seperti Perang Badar, Uhud dan Khandaq. 

Dalam Perng Uhud misalnya, beliau amat berduka karena pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib meraih syahid. Lebih menyakitkan lagi, jasad Hamzah diperlakukan dengan amat buruk oleh Hindun binti Utbah yang punya dendam karena ayah dan saudaranya tewas oleh Hamzah dalam perang Badar. 

Hamzah syahid akibat tombak seorang budak bernama Wahsyi yang sengaja oleh Hindun diperintah untuk menargetkan Hamzah. Setelah meninggal, Hindun merobek perut dan nyaris memakan jantungnya. Bahkan dia memutilasi jasad Hamzah dengan mengambil hidung dan telinganya, lalu dijadikan sebagai kalung.

SahabatQu Baca Juga: 11 Fungsi Al-Qur’an dalam Kehidupan Sehari-Hari

Ikhtiar Rasulullah untuk Menyelesaikan Masalah

Untuk menghilangkan kesedihannya, Rasulullah saw, menunjukkan contoh ikhtiar yang kuat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Beliau mengajarkan umatnya untuk tidak hanya mengandalkan doa semata, tetapi juga melakukan usaha dan tindakan konkret untuk mencapai tujuan.

Rasulullah sering kali berkonsultasi dan bermusyawarah dengan para sahabatnya untuk mencari nasihat dan pendapat mereka dalam menghadapi masalah. Beliau mendengarkan pandangan mereka dan mempertimbangkan saran yang diberikan sebelum mengambil keputusan. Ini menunjukkan sikap terbuka dan menghargai masukan dari orang-orang di sekitarnya.

Rasulullah sangat berhati-hati dalam perencanaan dan pengorganisasian tindakan. Beliau merumuskan strategi yang baik dalam menghadapi situasi yang kompleks, seperti dalam pertempuran dan perang. Rasulullah juga memberikan arahan kepada pasukan dan mengatur taktik yang efektif untuk mencapai kemenangan.

Rasulullah juga mencontohkan kegigihan dan ketekunan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan. Beliau tidak pernah menyerah dalam mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya. Rasulullah dan para sahabatnya bekerja keras dalam menyebarkan risalah Islam dan memperbaiki kondisi umat Muslim, meskipun mereka menghadapi berbagai tantangan dan penolakan.

Namun meskipun Rasulullah melakukan ikhtiar dan berusaha secara aktif, beliau juga menyadari bahwa segala keberhasilan tetap ada campur tangan Allah. Beliau selalu berdoa kepada Allah, memohon petunjuk-Nya, dan meminta pertolongan dalam setiap tindakan yang diambil.

SahabatQu Baca Juga: Sering Merasa Kehilangan Arah Hidup, Inilah Tujuan Hidup dalam Islam Menurut Al-Qur’an

Doa Rasulullah untuk Menghilangkan Kesedihan

Inilah salah satu doa yang beliau amalkan. Doa ini diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad.

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي.

“Allahumma inni ‘abduka, ibnu ‘abdika, ibnu amatika, naasiyati biyadika, maadin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qadauka. As’aluka bikulli ismin huwa laka sammayta bihi nafsaka aw anzaltahu fi kitabika aw ‘allamtahu ahadan min khalqika awi sta’tharta bihi fi ‘ilmil-ghaybi ‘indaka, an taj’alal-Qur’an ar-rabia qalbi, wa nura sadri, wa jalaa huzni, wa dhahaba hammii.”

“Wahai Allah, aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, anak perempuan hamba-Mu, tanganku berada dalam kekuasaan-Mu. Keputusan-Mu terhadapku adalah adil, takdir-Mu terhadapku adalah benar. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang Engkau berikan kepada diri-Mu sendiri, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada seseorang di antara makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam pengetahuan ghaib-Mu di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan Al-Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, dan penghilang kegelisahanku.” 

Optimisme Rasulullah

Rasulullah saw adalah sosok yang penuh optimisme dan positivisme dalam kesehariannya. Beliau senantiasa melihat sisi baik dan mencari peluang untuk memperbaiki situasi, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dalam hubungan dengan sesama manusia. 

Rasulullah memiliki kepercayaan yang kuat kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Beliau optimis bahwa Allah akan memberikan bantuan dan pertolongan dalam setiap situasi yang dihadapinya.

Rasulullah juga mencontohkan sikap tawakal, yaitu pasrah sepenuhnya kepada kehendak Allah. Beliau memiliki keyakinan bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah yang terbaik, dan beliau optimis bahwa Allah akan memberikan hasil yang baik dari setiap peristiwa.

SahabatQu, mulai sekarang buanglah jauh-jauh kesedihanmu. Tataplah masa depan dengan penuh optimistis. Insya Allah, gelap akan berganti terang, dan sedih akan berganti bahagia.

Leave a Comment