Sering Merasa Hilang Arah, Inilah Tujuan Hidup Menurut Al-Qur’an

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, mungkin kamu merasakan hidup di zaman yang serba instan dan cepat ini membuat kamu lelah. Rasanya tidak jeda untuk kamu bisa istirahat sejenak. Tidak ada waktu bagi kamu untuk merenungkan lebih dalam tentang makna hidup yang kamu jalani saat ini. 

Kamu mungkin saat ini merasa benar-benar bosan, hilang arah dan tak tahu kamu akan melangkah ke mana. Luangkanlah waktu dan ambil jeda sejenak di sela-sela kesibukanmu akan dunia ini yang tidak ada habisnya. Renungkanlah kembali tentang tujuan hidupmu yang sebenarnya berdasarkan tuntunan Al-Qur’an. Beginilah tujuan hidup dalam Islam.

Tujuan Hidup Manusia Allah yang Menetapkan

SahabatQu, suka atau tidak sebenarnya kita harus mengakui bahwa kita itu adalah produk kreasi Allah. Kita ini makhluk (yang diciptakan) dan Allah adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta) yang menciptakan kita dan seluruh alam semesta. 

Artikel FYI: 11 Fungsi Al-Qur’an dalam Kehidupan Sehari-Hari

Dalam menetapkan tujuan hidup, kita tidak benar-benar ahli. Sebab, kita hanyalah makhluk yang membutuhkan manajerial (pengaturan) dari Allah swt. Karena itu, Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah-Nya dan menjalankan perintah-Nya. 

Allah menyeru kita dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56, bahwa tujuan Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Pada ayat lain, surah Al-Baqarah ayat 21, Allah dengan tegas menyeru kepada manusia untuk menyembah Allah yang telah menciptakan kita dan orang-orang terdahulu agar kita mencapai derajat orang bertakwa. 

Hanya Hamba

Sejatinya kita hanya hamba Allah yang tidak punya kemampuan apa-apa. Kita benar-benar lemah di hadapan-Nya yang Mahagagah. Kita sangat bergantung pada Allah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang lemah, sudah seharusnya kita hanya mengabdi (beribadah) kepada-Nya tanpa menduakan-Nya dan menghindari pembangkangan (ingkar/kufur) terhadap segala aturan-Nya.

Beribadah kepada Allah tentu kita maknai dalam cakupan yang amat luas. Sebab, ibadah juga dibedakan menjadi ibadah mahdhah (langsung) yang sifatnya ritual seperti shalat, puasa, baca Al-Qur’an dan lain sebagainya.

Selain itu, ada juga ibadah ghair mahdhah (ibadah tak langsung), yaitu segala aktivitas diluar ibadah ritual yang semuanya diniatkan atau ditujukan hanya untuk Allah, seperti pemenuhan kebutuhan pribadi (makan, minum, tidur), muamalah, berumah tangga, berpolitik, dan lain sebagainya.

Artikel Lainnya: 10 Masjid Terunik di Dunia, Punya Jejak Sejarah dengan Arsitektur Megah & Indah

 Khalifah Allah di Bumi

Dalam dimensi yang lebih luas lagi, aktivitas ibadah kita di bumi adalah menjadi khalifah (wakil Allah) untuk memakmurkan bumi ini. Bila menelusuri sejarah, kakek kita Nabi Adam as. adalah khalifah pertama di bumi.

Sebagai wakil Allah, namanya juga wakil, perilaku kita dalam mengurus bumi ini agar makmur tidaklah sekehendak hati, akan tetapi berdasarkan guidelines yang Allah turunkan lewat para nabi dan utusan-Nya. Allah telah menjadikan Rasulullah sebagai nabi dan rasul pamungkas dengan membawa petunjuk Al-Qur’an yang begitu paripurna. 

Dengan demikian, akhir zaman ini seharusnya bumi ini dimakmurkan dengan cara melanjutkan apa yang telah dilakukan oleh Rasulullah dan para pengikutnya yang lebih dulu, yaitu menerangi peradaban dunia ini dengan Islam dan memakmurkan bumi dengan risalah Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh alam). Menjadi khalifah Allah di bumi merupakan salah satu tujuan hidup dalam Islam.

SahabatQu Baca Juga: 7 Kunci Rahasia Surah Al-Fatihah, Manfaat Banget Dunia-Akhirat

Ini jelas bukan sekadar jargon, Khalifah Umar bin Khattab telah membuktikannya. Kepeduliannya pada nasib rakyatnya dibuktikan dengan memanggul sendiri karung gandum dan memasaknya untuk kemudian diberikan kepada sosok ibu yang memasak batu untuk anaknya.

Namun lebih dari itu, ia juga tidak hanya peduli pada keselamatan rakyat, tetapi juga pada hewan sekalipun. Dia tidak membiarkan jalan di Baghdad berlubang karena kuatir keledai bisa terperosok. 

Bayangkan, padahal saat itu pusat kekhalifahan saat ia memimpin berada di Madinah, tetapi ia begitu peduli pada kondisi kota Baghdad dan pada keselamatan hewan sekalipun.

Apalagi untuk keselamatan manusia. Ini semua ia lakukan, karena ia sadar bahwa jabatan khalifah yang diembannya merupakan perwujudan ibadah kepada Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

SahabatQu, demikianlah uraian mengenai tujuan hidup dalam Islam. Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi reminder berharga. Boleh jadi mungkin kamu sebelumnya lupa tak tahu arah saat melangkah, semoga tulisan ini bisa mengembalikan ingatanmu akan tujuan hidup yang sebenarnya sekaligus memompa semangatmu yang sebelumnya sempat kendor.

Leave a Comment