Saat Berbuat Baik Sering Diabaikan

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Salah seorang member di Grup WhatsApp Rumah Sakinah mengajukan pertanyaa. Dia bilang, “Kang mau minta bimbingannya supaya kita bisa menyikapi kehidupan ini dengan bijak dan kuat. Kadang kita ini sudah berbuat baik kepada orang lain tapi ketika suatu saat kita membutuhkan pertolongan orang lain, kita sering diabaikan dan tidak ada yang menolong bahkan itu terjadi di kalangan keluarga kita sendiri.”

Saat menyimak pertanyaannya, membuat siapa pun tentu merasa sangat prihatin dan terenyuh. Bayangkan bagaimana jika kita berada di posisi seperti itu. Tentu rasanya sakit banget kan?

Kenyataan Jauh dari Ideal

Kondisi yang ideal dalam hidup memang yang terbaik adalah hubungan timbal balik yang positif. Bila kita membantu, pastinya kita pun berharap ketika membutuhkan bantuan, ada orang yang mengulurkan bantuan. Namun kenyataan ternyata berkata lain. Alih-alih mendapatkan bantuan, kita mendapatkan pengabaian.

Sebagian besar orang mungkin pernah mengalami hal seperti ini. Kita sudah berbuat baik sama orang, tetapi ketika kita berkebalikannya, kita lagi butuh bantuannya kita malah diabaikan. Lebih menyakitkan lagi, kelakuan seperti itu malah dari keluarga sendiri.

Dari kejadian ini, sebenarnya Allah ingin memberikan hikmah atau pelajaran kepada kita. Sebab dari setiap kejadian, apapun itu, menyakitkan ataupun kejadian yang menyenangkan bagi diri kita, dalamnya tetap terselip hikmah yang bisa kita petik.

Pelajaran untuk Merenung Lebih Dalam

Dari kejadian yang dialami di atas, kita bisa renungkan beberapa hal:

Jaga Keikhlasan

Pertama, belajar tentang keikhlasan dalam melakukan kebaikan. Ketika kita berbuat baik, sebaiknya selalu memperbarui niat menjaga niat kita agar tetap ikhlas, Karena Allah, lillahi ta’ala.

Jika niat kita sudah ikhlas, sudah terjaga hanya karena Allah, maka yang kita tuju hanya Allah. Artinya di sini kita tidak mempedulikan lagi orang-orang atas apa yang kita lakukan. Karena yang kita cari adalah keridaan Allah, bukan keridhaan manusia.

Dengan begitu, ketika orang tidak membalas kebaikan kita dengan kebaikan yang setimpal, maka itu sudah tidak lagi jadi persoalan, kita hanya mengharapkan alasan dari Allah semata. Ini bukan sekadar kata atau konsep semata, dicontohkan langsung oleh Rasulullah.

Nabi Muhammad saw. tidak pernah berhenti berbuat kebaikan kepada seorang Yahudi pengemis buta, orang tersebut kerap kali menghina dan menjelek-jelekkan beliau. Namun beliau dengan telaten memberi makan menyuapinya tangannya sendiri yang mulia.

Tepislah Rasa Pamrih

Kedua, keluarga sendiri yang mengabaikan padahal pernah kita bantu memberikan pelajaran tersendiri kepada kita. Di sinilah pentingnya kita untuk tidak pamrih dalam melakukan kebaikan. Ketika berbuat baik, janganlah kita berharap mendapatkan balasan yang setimpal atau sama dari orang yang telah kita bantu.

Jauhkan sama sekali pikiran itu, gantikan dengan pikiran yang lebih positif, kita akan dibantu pasti dibantu oleh Allah ketika mengalami kesulitan, mempunyai keinginan atau kebutuhan. Dari sini, hikmahnya kita pun belati untuk tidak bergantung kepada makhluk dan hanya bergantung kepada Allah. Dan inilah sebenarnya esensi dari akidah Islam, ikhlas atau mengesakan Allah.

Allah swt. berfirman:

اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ

Allah tempat meminta segala sesuatu. (QS. Al-Ikhlāṣ [112]: 2)

Allah, Sang Pemberi Jalan Keluar

Ketiga, yakinilah bahwa jika kita sudah ikhlas dalam berbuat baik, Allah akan memberikan kita jalan keluar dengan cara-Nya. Bahkan mungkin tak terpikirkan oleh logika kita. Jika kita mungkin terbatas, membatasi dan membayangkan bantuan akan datang dari orang yang sudah kita bantu atau dari keluarga kita sendiri.

Namun Allah dengan cara-Nya akan memberikan jalan dari arah lain yang mungkin tak pernah kita pikirkan. Bisa saja misalnya, seorang karyawan yang ikhlas bekerja tidak dihargai secara setimpal oleh kantor tempat dia bekerja. Akat tetapi, siapa sangka berkat keikhlasan dan dedikasinya ternyata Allah mudahkan rezekinya dari tempat lain. Bisa saja misalnya dia dapat kesempatan bekerja di tempat lain yang lebih menghargainya, dst. Lagi-lagi dengan cara-Nya Allah yang indah.

Teruskan Kebaikan dengan Penuh Keikhlasan

Sekali lagi, jangan pernah menyesal atas kebaikan apa pun yang kita lakukan, karena Allah telah menjamin pahala dan balasannya. Teruslah berbuat kebaikan, karena pada saat yang sama Allah pasti menggerakkan hati orang-orang yang ikhlas untuk membantu kita saat kita benar-benar membutuhkan bantuan.

InsyaAllah, pertolongan Allah itu sangat dekat. Jangan pernah berhenti bergantung pada-Nya dan teruslah berbuat baik karena-Nya. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap semangat dan selalu menjaga keikhlasan dalam berbuat baik.

SahabatQu, kita telah belajar bahwa keikhlasan dalam berbuat baik adalah kunci untuk menjaga hati yang tentram di tengah kerasnya kehidupan. Ketika kita berbuat baik, lakukanlah semata untuk Allah, tanpa mengharapkan balasan dari siapapun. Allah Yang Maha Bijaksana akan mengatur segalanya dengan cara-Nya yang sempurna.

Teruslah berbuat kebaikan, karena pada saat yang tepat, pertolongan Allah akan datang dengan cara yang tak terduga. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjaga keikhlasan dalam berbuat baik dan tetap bergantung pada-Nya dalam segala keadaan. Amin.

Leave a Comment