Bagaimanakah Hukum Puasa Rajab?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Selama bulan Rajab, kaum muslim dianjurkan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Lantas bagaimanakah hukum berpuasa di bulan Rajab, apakah termasuk sunah atau bid’ah?

Untuk mengetahui bagaimana hukum Puasa Rajab, silakan SahabatQu simak penjelasan berikut ini sebagaimana dikutip dari islamweb.net.

Amalan yang Disukai

Pandangan ulama tentang puasa bulan Rajab bervariasi. Beberapa di antara mereka menyukainya karena dua alasan:

Pertama, berdasarkan anjuran umum untuk berpuasa yang memiliki dasar yang sangat luas dan banyak dalilnya.

Kedua, berdasarkan anjuran khusus untuk berpuasa pada bulan-bulan haram. Bulan Rajab termasuk di dalamnya secara sepakat. Juga, terdapat anjuran khusus mengenai puasa bulan Rajab. Sebagian besar ulama sepakat bahwa berpuasa pada bulan-bulan haram secara umum dan Rajab secara khusus disukai (disunahkan).

Hadis Tentang Puasa Rajab

Para ulama yang berpendapat bahwa berpuasa di bulan Rajab disunahkan didasarkan pada beberapa hadis, antara lain:

  1. Hadis dari Abu Mijlaz al-Bahili, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepadanya. “Berpuasalah di bulan-bulan haram (yang dimuliakan) dan tinggalkan. Shaumlah di bulan-bulan haram dan tinggalkan.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud, dan versi Ahmad menyebutkan, “Berpuasalah di bulan haram dan berbukalah.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan dan dalam al-Shu’ab dan Ibnu Saad.
  2. Hadis dari Usamah bin Zaid, dia berkata: “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebulan penuh sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.’ Beliau bersabda, ‘Itu adalah bulan yang dilalaikan orang, di antara Rajab dan Ramadhan. Itu adalah bulan di mana amal perbuatan diangkat kepada Tuhan semesta alam, dan aku suka amalku diangkat ketika aku dalam keadaan berpuasa.‘” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Nasai dan Ahmad.

Al-Alamah al-Shawkani dalam kitab “Nail al-Awtar” 4/293 menjelaskan bahwa perkataan Rasulullah ﷺ dalam hadis Usamah menunjukkan bahwa disukainya Puasa Rajab. Maksudnya mungkin adalah orang-orang lalai terhadap penghormatan terhadap bulan Sya’ban dengan berpuasa, sebagaimana mereka menghormati Ramadhan dan Rajab dengan berpuasa. Kemungkinan besar maksudnya adalah kelalaian mereka dalam memuliakan bulan Sya’ban dengan berpuasa. Ini sebagaimana mereka menghormati Rajab dengan menyembelih hewan ternak, sesuai dengan tradisi jahiliyyah yang tetap dihormati pada saat itu.

Yang dimaksud dengan “orang-orang” adalah para Sahabat. Sebab, pada saat itu, syariat telah berhasil menghilangkan jejak-jejak kebiasaan jahiliyah. Namun, maksudnya adalah memberi tahu mereka tentang keutamaan berpuasa di bulan Rajab, dan ini tidak menunjukkan lebih dari kebolehan melakukannya. Ada bukti yang menunjukkan keterpilihan berpuasa di bulan Rajab secara umum dan khusus.

Madzhab Ulama tentang Puasa Bulan Rajab

Puasa Rajab
sumber; perchance.org

Secara umum, hadis-hadis yang menyatakan anjuran berpuasa pada bulan-bulan haram, yang termasuk di dalamnya Rajab, merupakan hal yang disepakati. Begitu pula hadis-hadis yang menyatakan keabsahan puasa secara umum. Selanjutnya, terdapat hadis-hadis yang menyebutkan keutamaan berpuasa pada bulan Rajab yang diriwayatkan oleh at-Tabrani, al-Baihaqi, Abu Nu’aim, dan Ibn Asakir.

Namun, Ibnu as-Sabki meriwayatkan dari Muhammad bin Mansur al-Sam’ani bahwa dia berkata, “Tidak ada hadis yang tetap menunjukkan disunahkan berpuasa pada bulan Rajab secara khusus. Hadis-hadis yang disebutkan dalam hal ini lemah, tidak dapat diandalkan oleh seorang ulama. Ibnu Abi Shaibah dalam musannafnya meriwayatkan bahwa Umar pernah memukul tangan orang-orang pada bulan Rajab. Hingga akhirnya mereka menaruhnya di wadah dan berkata, ‘Makanlah, ini hanya bulan yang dimuliakan orang-orang Jahiliyah.'”

Juga diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa Rajab, maka beliau bersabda, ‘Di mana (posisi) kalian ketika bulan Sya’ban?‘” Juga diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ada indikasi dia membenci (memakruhkan) puasa pada bulan Rajab. Dia berkata, “Tidak diragukan lagi, jika keistimewaan tidak menunjukkan anjuran berpuasa pada bulan tersebut, maka anjuran berpuasa secara umum akan dijadikan acuan. Tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa puasa pada bulan Rajab makruh kecuali jika ada ketentuan yang khusus menunjukkannya. Adapun hadis Ibnu Majah dengan kata-kata, “Rasulullah ﷺ melarang puasa pada bulan Rajab,” terdapat dua perawi yang lemah: Zaid bin Abd al-Hamid dan Dawud bin Ata.”

Azz bin Abd al-Salam mengecam orang yang melarang orang-orang berpuasa pada bulan Rajab. Ini seperti yang dikutip oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra. Beberapa ulama yang mengkritik puasa bulan Rajab adalah para pengikut madzhab Hanbali. Mereka mendukung pendapat mereka dengan merujuk pada hadis Ibnu Abbas dan larangan Umar kepada orang-orang untuk berpuasa pada bulan tersebut. Ini sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam kutipan dari Imam al-Shaukani.

Perbedaan Pendapat tentang Puasa Rajab

Imam Ibnu Qudamah dalam kitab “Al-Mughni” menyatakan, “Disunahkan menghindari berpuasa secara khusus pada bulan Rajab.” Mengenai bulan-bulan haram, madzhab Hanbali sepakat dengan mayoritas ulama dalam menyukai berpuasanya. Dimakruhkannya puasa pada bulan Rajab dapat dihilangkan dengan berbuka puasa pada salah satu hari di bulan tersebut.

Al-Mardawi dalam kitab “Al-Insaf” menyatakan, “Dimakruhkannya puasa pada bulan Rajab secara khusus ini adalah pendapat mazhab ini. Hal ini dikuatkan oleh mayoritas ulama dan menjadi salah satu pendapat yang dipegang teguh. Pendapat ini termasuk dalam kerangka doktrin madzhab tersebut.

Syekh Taqi al-Din dalam kitab “Tahrim Ifradhihi” menyatakan, “Mungkin pendapat ini diambil dari pendapat memakruhkannya dari Imam Ahmad.”

Dia kemudian menyatakan, “Pemahaman dari kata-kata penulis adalah bahwa tidak ada kebencian terhadap puasa khusus pada bulan selain Rajab. Ini benar dan tidak ada perbedaan pendapat tentangnya. Al-Majd berkata, ‘Tidak ada perselisihan dalam hal ini. Dia juga mengatakan, ‘Kemakruhannya tersebut dapat dihilangkan dengan berbuka puasa pada bulan Rajab. Bahkan hanya satu hari, atau dengan berpuasa pada bulan lain dalam setahun.’ Al-Majd berkata, ‘Meskipun tanpa menggantinya.'”

Dari pembahasan ini, jelas bahwa masalah ini kontroversial di antara ulama. Ini tidak boleh menjadi sumber perselisihan dan perpecahan di antara umat Islam. Siapa pun yang mengikuti pendapat mayoritas ulama tidak akan dihukum, begitu pula yang mengikuti pendapat Hanbali.

Adapun puasa sebagian dari bulan Rajab, ini disepakati sebagai sunah oleh para ulama dari keempat madzhab, bukan bid’ah.

2 thoughts on “Bagaimanakah Hukum Puasa Rajab?”

Leave a Comment