Bagaimanakah Skema Dana Darurat dalam Islam?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Salah satu aspek keuangan yang sering terlupakan oleh banyak orang adalah perencanaan dana darurat. Dana darurat merupakan fondasi dasar dari proses perencanaan keuangan, agar tidak mengganggu kondisi keuangan dan cashflow bulanan yang ada.

Tanpa adanya dana darurat, seseorang mungkin akan terpaksa mencari pinjaman dari berbagai sumber, seperti keluarga, teman, atau bahkan lembaga keuangan informal, seperti pinjol atau rentenir, dengan risiko tingginya bunga atau bahkan risiko gagal bayar.

SahabatQu, pasti penasaran apakah dana darurat ini sudah ada di zaman nabi? Berapa idealnya dana yang harus dipersiapkan? Agar tidak penasaran, yuk lanjutkan membaca artikel ini.

Dana Darurat dalam Al-Qur’an

Dalam Islam, dana darurat sudah lebih dulu dipraktikkan pada zaman nabi. Salah satu kisah inspiratif yang dapat kita teladani terdapat dalam Al-Qur’an Surah Yusuf ayat ke 43-49, yang menceritakan kisah tentang Nabi Yusuf as. yang memberikan penafsiran tentang mimpi seorang raja.

Berawal dari Raja Mesir mengalami mimpi yang membuatnya gelisah di mana ia melihat 7 ekor sapi betina gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina kurus, serta 7 bulir gandum yang hijau dan 7 lainnya kering. Setelah terbangun dari tidurnya, sang raja merasa sangat penasaran dengan makna dari mimpi tersebut. Untuk mencari jawaban atas kebingungannya, sang raja memanggil para ahli penafsir mimpi terkemuka untuk mengartikan mimpi tersebut. Namun, semua ahli tafsir mimpi menyatakan bahwa mimpi tersebut tidak memiliki makna khusus dan hanya merupakan mimpi biasa belaka.

Tidak puas dengan penjelasan tersebut, sang raja terus mencari siapa yang mampu menafsirkan mimpi tersebut dengan jelas. Akhirnya, seorang pelayan istana mengungkapkan bahwa ada seorang pemuda penafsir mimpi yang mungkin bisa membantu. Pemuda tersebut adalah Nabi Yusuf as, yang saat itu sedang dipenjara. Sang pelayan kemudian pergi menemui Nabi Yusuf as di penjara untuk menceritakan mimpi yang dialami oleh sang raja.

Nabi Yusuf as. kemudian menjelaskan bahwa mimpi tersebut merupakan pertanda dari Allah swt. tentang

datangnya musim subur selama 7 tahun berturut-turut yang diikuti oleh 7 tahun paceklik yang sulit. Beliau menyarankan agar masyarakat menyimpan hasil panen dengan baik selama masa subur untuk digunakan selama masa paceklik. Nabi Yusuf juga menekankan pentingnya menggunakan hasil panen dengan bijak, membaginya antara kebutuhan sehari-hari dan menyimpannya untuk masa depan agar cukup untuk mengatasi masa-masa sulit selama paceklik.

Setelah masa paceklik berlalu, musim hujan yang melimpah akan datang, membuat negeri tersebut menjadi subur kembali dan menghasilkan panen yang berlimpah. Ini menggambarkan siklus alamiah dari kehidupan yang penuh dengan tantangan, tetapi juga penuh dengan harapan dan kemakmuran setelah melewati masa-masa sulit.

Dari cerita tentang Nabi Yusuf as, kita dapat belajar untuk tidak menghabiskan seluruh kekayaan yang kita miliki. Artinya, kita perlu memikirkan masa depan dan bersiap untuk menghadapi situasi sulit yang mungkin timbul, seperti musibah, penyakit, atau kebutuhan mendesak lainnya di masa yang akan datang.

Dana Darurat
sumber: Genqu Media

Berapa Dana Darurat yang Harus Dipersiapkan

Setiap orang tentu memiliki kebutuhan yang berbeda, tergantung pada gaya hidup, pengeluaran bulanan, dan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan. Oleh karena itu, untuk menentukan jumlah dana darurat dalam Islam yang harus disiapkan, kita dapat mengikuti rumus berikut:

  1. Untuk yang masih single atau hidup sendiri, disarankan untuk menyimpan dana darurat sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan.
  2. Untuk yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak, disarankan untuk menyimpan dana darurat sebesar 6-9 kali pengeluaran bulanan.
  3. Untuk yang sudah menikah dan memiliki anak, disarankan untuk menyimpan dana darurat sebesar 9-12 kali pengeluaran bulanan.

Kapan Dana Darurat Harus Digunakan

Seperti yang tergambar dari namanya, dana darurat dalam Islam hanya digunakan dalam situasi darurat atau keadaan yang mendesak. Keadaan darurat atau mendesak merujuk pada kondisi yang memerlukan penanganan secepat mungkin dengan adanya konsekuensi jika menundanya.

Contohnya, seseorang yang menggunakan motor setiap pergi dan pulang kerja, tiba-tiba motornya rusak. Ini dianggap sebagai keadaan mendesak yang harus segera diatasi karena jika tidak akan menyulitkan orang tersebut untuk bekerja. Namun, beda untuk seseorang yang menggunakan kendaraan umum atau berjalan kaki untuk kerja, jika motor di rumahnya rusak tidak perlu perbaikan segera karena baginya hal ini bukanlah kebutuhan yang mendesak.

Kejadian darurat lainnya adalah ketika seseorang kehilangan pekerjaan dan harus mengandalkan dana darurat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Atau, jika seseorang jatuh sakit dan penyakitnya tidak di cover oleh asuransi, maka dana darurat dalam bisa digunakan untuk pengobatan agar tidak semakin parah.


Setelah sebagian atau seluruh dana darurat digunakan dan keadaan darurat berhasil diatasi, penting untuk kembali menabung dana darurat. Dengan memiliki simpanan dana darurat, kita dapat lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya situasi darurat atau mendesak kapan pun.

Dana Darurat Simpan Di Mana?

Dana Darurat sebaiknya disimpan di tempat yang aman, likuid, dan mudah diakses (ALIM), seperti tabungan, reksa dana pasar uang, deposito, atau tabungan emas. Tidak disarankan untuk menyimpannya pada instrumen investasi yang berisiko tinggi, seperti saham atau kripto, agar dapat diakses secara cepat saat diperlukan dan menghindari risiko alokasi turun saat dibutuhkan.

Sebagai seorang muslim terbaik adalah yang memiliki banyak pos atau simpanan untuk berbagai kebutuhan berbeda. Bukan cuma simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga simpanan untuk keadaan mendesak. Dengan memiliki simpanan yang cukup, kita dapat melewati fase sulit tanpa harus membebani orang lain dan kesiapan finansial yang tidak mengganggu keadaaan keuangan kita, seperti hal nya yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf as.

Leave a Comment