Bolehkah Mambaca Mushaf dalam Shalat?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Bagi kehidupan seorang muslim, ibadah shalat memegang peranan penting. Menjaga kekhusyukan dalam shalat menjadi sangat penting dan perlu diupayakan dengan maksimal oleh seorang muslim. Selain itu, dalam shalat kita juga disunnah untuk membaca surah-surah Al-Qur’an setelah Al-Fatihah.

Dalam praktiknya, ada sebagian muslim yang membacanya dengan menggunakan mushaf. Pertanyaan yang sering muncul di kalangan umat Islam, apakah boleh membaca Al-Quran (mushaf) saat menjalankan shalat?

Pertanyaan ini menciptakan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Beberapa mengatakan bahwa hal ini diperbolehkan, sementara yang lain meragukan keabsahan praktik ini dalam shalat. Sebagaimana dikutip dari Muhammadiyah.or.id, simak penjelasannya sebagai berikut.

OpiniQu: Di Manakah Rasa Kemanusiaan Itu?

Tidak Boleh

Ada pandangan yang melarang praktik ini dengan alasan bahwa membaca mushaf, membolak-balik halamannya, dan melihat isi mushaf merupakan gerakan yang dianggap berlebihan dan tidak seharusnya dilakukan selama shalat. Menurut mereka, shalat seharusnya menjadi momen ketenangan dan khusyu’ di mana orang menghadap Allah dengan sepenuh hati.

Ketenangan dan khusyu’ dalam shalat sangat penting karena membantu mencapai tujuan utama shalat: mendapatkan rahmat, maghfirah, dan hidayah dari Allah. Allah sendiri menekankan pentingnya khusyu’ dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) [المؤمنون: 1-3]

“Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 1-3).

Dalam hadis, Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan bahwa saat beribadah, seorang muslim seharusnya mengkonsentrasikan diri seolah-olah Allah swt. berada di hadapannya. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:

“Suatu hari, Nabi Muhammad keluar dan bertemu dengan seorang laki-laki yang bertanya kepadanya: “Apa itu iman?” Nabi menjawab: “Iman adalah keyakinan kepada Allah, para malaikat-Nya, mempercayai pertemuan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan keyakinan kepada hari kebangkitan.” Laki-laki tersebut kemudian bertanya: “Apa itu Islam?” Nabi menjawab: “Islam adalah menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya, melaksanakan shalat, membayar zakat fardhu, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” Lalu, laki-laki itu bertanya lagi: “Apa itu ihsan?” Nabi menjawab: “Ihsan adalah menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, meskipun sebenarnya kamu tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR. Bukhari)

Iqra! Bagaimana Ta’lim al-Muta’alim Mendidik Para Pencari Ilmu?

Dibenci

Pandangan kedua meragukan praktik membaca mushaf dalam shalat karena khawatir akan menyerupai praktik ahli kitab. Meskipun ada perbedaan pendapat, mayoritas ulama merujuk pada hadis yang mencatat bahwa Aisyah ra. pernah diimami oleh budaknya yang membaca dari mushaf.

Diperbolehkan

Kebolehan membaca mushaf dalam shalat didasarkan pada hadis berikut:

عَن ابْنِ أَبِي مُلَيكَةَ وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ [رواه البخاري]

“Dari Ibnu Abi Mulaikah, Aisyah ra. pernah diimami oleh budaknya yang bernama Dzakwan dan dia membaca dari mushaf.” [HR. al-Bukhari secara Muallaq, dan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf]

Jadi, praktik membaca mushaf harus dijalankan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan individu tanpa memberatkan atau menyulitkan diri sendiri.

Dalam menanggapi perbedaan pandangan ini, dapat disimpulkan bahwa membaca mushaf dalam shalat tidak secara khusus dilarang, terutama jika ada kebutuhan seperti dalam shalat malam Ramadan yang panjang, di mana imam mungkin khawatir tentang kesalahan bacaan Al-Quran atau kekurangan hafalan.

Muslim Hack: Ingin Kedudukan Terpuji? Gapai dengan Shalat Tahajud dan Witir

Meskipun boleh, sebaiknya seseorang berusaha menghafalkan Al-Quran agar tidak perlu membawa mushaf saat shalat atau menjadi imam. Tetapi, perlu diingat agar tindakan ini tidak mengganggu konsentrasi dan khusyu’ dalam shalat.

Ketika kita mengeksplorasi berbagai pandangan seputar membaca mushaf dalam shalat, kita menyadari bahwa ibadah adalah perjalanan pribadi yang melibatkan ketulusan hati dan kesadaran spiritual. Kendati ada perbedaan pendapat, esensi dari shalat adalah menghadirkan diri di hadapan Allah dengan penuh ketenangan dan khusyuk. Kita dapat memahami bahwa membaca mushaf dalam shalat bisa jadi sesuai dengan kebutuhan individu. Namun harus dilakukan dengan bijak dan tanpa mengganggu fokus ibadah.

Akhirnya, dalam shalat, seorang muslim melakukan koneksi yang mendalam dengan Sang Pencipta. Khusyuk dan kesadaran akan kehadiran-Nya adalah kunci utama, tanpa peduli apakah kita membaca mushaf atau tidak. SahabatQu, semoga artikel ini memberikan pencerahan dalam menemukan makna sejati dari ibadah shalat, suatu pengalaman rohani yang sangat personal dan mendalam.

2 thoughts on “Bolehkah Mambaca Mushaf dalam Shalat?”

Leave a Comment