Fikih Kurban: Dalil, Hukum, Syarat, dan Adabnya

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Kurban termasuk salah satu ibadah yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah, termasuk di antara ketaatan dan ibadah yang besar. Berkurban merupakan tanda kesungguhan untuk beribadah kepada Allah semata, yaitu dalam rangka mengikuti perintah dan larangan-Nya.

Bagaimanakah fikih kurban dalam Islam? Ulama telah berbicara mengenai hukum-hukumnya. Simak penjelasan selengkapnya seperti yang GenQu Media lansir dari Islamweb.net.

Dalil Tentang Kurban

Kurban adalah penyembelihan hewan ternak pada hari-hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Taala. Ini adalah ibadah yang diwajibkan berdasarkan Al-Quran, Sunnah, dan Ijma (kesepakatan para ulama).

  1. Berdasarkan Al-Quran, Allah berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)
  2. Berdasarkan Sunnah, Nabi Muhammad saw bersabda: “Barangsiapa menyembelih setelah shalat Id maka hendaknya memenuhi nazar dan mengikuti sunnah umat Islam.” (HR. Bukhari)
  3. Selain itu, telah diterangkan bahwa Nabi saw. menyembelih dua ekor kambing, menyebut nama Allah, dan membesarkan-Nya, serta meletakkan kaki di samping kambing-kambing tersebut. (Muttafaqun ‘alaih)

Dengan demikian, kaum muslim sepakat bahwa kurban sebagai salah satu syiar agama.

Hukum Kurban

Mayoritas ulama sepakat bahwa kurban adalah sunnah muakkadah (sunah yang dianjurkan) bagi yang mampu. Ini sebagaimana hadis dari Ummu Salamah: “Jika sepuluh hari masuk dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih, maka hendaklah dia tidak memotong rambut dan kukunya.” (HR. Muslim)

Nabi Muhammad saw. menganjurkan kurban kepada siapa yang mampu melakukannya. Namun beliau juga menyembelih untuk mereka yang tidak mampu dari umatnya. Ini seperti yang tercatat dalam hadis-hadis dalam Sunan Tirmidzi dan lainnya, sehingga menghapus kewajiban itu dari mereka.

Beberapa ulama berpendapat bahwa kurban adalah wajib. Ini berdasarkan pada hadis “Untuk setiap keluarga adalah kurban”. Kemudian hadis “Barangsiapa yang mampu tetapi tidak menyembelih, maka janganlah ia mendekati shalat kami.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam musnadnya)

Oleh karena itu, seorang muslim sebaiknya tidak meninggalkan kurban jika mampu melaksanakannya. Sebab ini merupakan bentuk penghormatan dan peringatan terhadap Allah, serta merupakan pembersihan dari dosa-dosa.

Syarat-Syarat Kurban

Dalam fikih kurban, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dianggap sah dan diterima:

Jenis Hewan

Kurban harus berasal dari binatang ternak seperti unta, sapi, atau domba, sesuai dengan firman Allah swt: “Dan untuk setiap umat Kami telah menjadikan penyembelihan sebagai sarana untuk mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang telah diberikan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 34). Rasulullah saw. juga bersabda, “Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan yang sudah dewasa, kecuali jika sulit maka boleh menyembelih jantan domba.” (HR. Muslim). Hewan yang dewasa adalah unta, sapi, dan domba betina, dan tidak ada riwayat bahwa Nabi saw. menyembelih jenis lain atau memerintahkan pengikutnya untuk menyembelih selain jenis-jenis ini.

Usia Hewan

Hewan yang disembelih harus sudah mencapai usia dewasa menurut syariat. Unta dan sapi harus mencapai umur lima tahun, sapi dua tahun, domba setahun, dan jantan domba setengah tahun, seperti yang disebutkan dalam hadis Nabi saw.: “Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan yang sudah dewasa, kecuali jika sulit maka boleh menyembelih domba jantan.” (HR. Muslim).

Kondisi Fisik

Hewan harus bebas dari cacat yang menghalangi keabsahan kurban, seperti yang dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari Bara’ bin Azib: “Empat jenis hewan tidak sah untuk disembelih” (atau “tidak memadai untuk disembelih”): hewan yang buta kedua matanya, yang sakit hingga penyakitnya terlihat, yang lumpuh sehingga tak bisa berjalan, dan domba yang cacat pada rusuknya. Ada juga pendapat bahwa domba yang kurus dan terpelihat tulangnya bukanlah hewan yang pantas.

Waktu Penyembelihan

Kurban harus disembelih pada waktu yang ditetapkan oleh syariat, yaitu setelah shalat Idul Adha, jika orang yang menyembelih berada di tempat di mana shalat Idul Adha diadakan. Bagi yang tidak bisa shalat karena dalam perjalanan atau alasan lain, waktu kurban adalah sepanjang waktu yang mencukupi untuk shalat. Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Idul Adha, maka daging tersebut adalah hanya sebagai makanan bagi keluarganya, seperti yang tercatat dalam hadis dari Bara’ bin Azib yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Dengan mematuhi syarat-syarat ini, kurban dianggap sah dan dapat diterima sebagai ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah swt. sesuai dengan ajaran Islam.

Adab dalam Berkurban

sumber: NU Jabar Online

Sunah Menyembelih Sendiri

Disunahkan bagi orang yang berkurban untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri jika ia mampu, karena penyembelihan adalah ibadah dan bentuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, ia juga boleh mewakilkan penyembelihan kepada orang lain. Rasulullah saw. sendiri menyembelih 63 ekor unta dengan tangannya sendiri, dan menyerahkan penyembelihan sisanya kepada Ali.

Perhatikan Adab Menyembelih Hewan

Adab dalam penyembelihan harus diperhatikan, seperti berlaku baik kepada hewan dan membuatnya nyaman, serta menghadap ke arah kiblat. Jika hewan kurbannya adalah unta, maka penyembelihan dilakukan dalam posisi berdiri dengan kaki kirinya terikat, seperti yang dijelaskan dalam firman Allah: “Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelih dalam keadaan berdiri,” (QS. Al-Hajj: 36). Jika hewan kurbannya selain unta, maka disembelih dalam posisi berbaring pada sisi kirinya.

Disunahkan untuk meletakkan kaki di sisi leher hewan, lalu mengucapkan: “Bismillah, Allahu Akbar,” serta berdoa agar kurban tersebut diterima oleh Allah.

Jadikan sebagai Hadiah dan Sedekah

Seekor hewan kurban cukup untuk satu orang dan keluarganya, meskipun jumlah mereka banyak. Ini seperti yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub ra. “Pada masa Nabi saw., seseorang berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, mereka makan sebagian dan membagikan sebagian lainnya.” (HR. Tirmidzi).

Disunahkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian dari kurbannya, membagikan sebagian sebagai hadiah, dan bersedekah sebagian lainnya. Para ulama menyarankan untuk membagi tiga bagian: sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga untuk hadiah, dan sepertiga untuk sedekah.

Tidak Boleh Dijual

Haram menjual bagian apapun dari hewan kurban, baik daging, kulit, bulu, maupun lainnya karena hewan tersebut telah dipersembahkan kepada Allah, sehingga tidak boleh ditarik kembali seperti sedekah.

Tidak boleh memberikan bagian dari hewan kurban sebagai upah bagi tukang sembelih, seperti yang diriwayatkan dari Ali bahwa Nabi saw. memerintahkannya untuk tidak memberikan bagian dari hewan kurban sebagai upah kepada tukang sembelih (HR. Bukhari). Namun, jika memberikan sesuatu sebagai sedekah atau hadiah setelah memberikan upahnya, maka tidak ada masalah.

Tidak Memotong Rambut dan Kuku Jelang Berkurban

Disunahkan bagi orang yang hendak berkurban – jika telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah – untuk tidak memotong rambut, kulit, atau kukunya, seperti sabda Nabi saw. dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan diri dari memotong rambut dan kukunya,” dan dalam riwayat lain: “Jangan memotong rambut dan kulitnya sampai ia berkurban.”

Orang yang berkurban harus berniat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadahnya, melakukannya dengan penuh keikhlasan, dan dalam bersedekah serta memberi hadiah, ia harus memprioritaskan orang-orang yang dekat dan yang paling membutuhkan.

Demikian penjelasan singkat mengenai fikih kurban. Ya Allah, mudahkan dan lapangkanlah kami agar bisa menunaikan ibadah ini.

Leave a Comment