Tata Cara Menunaikan Zakat Fitrah

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, agar puasa kita di bulan Ramadan makin sempurna, Allah mewajibkan muslim untuk menunaikan zakat fitrah. Zakat, termasuk di dalamnya zakat fitrah merupakan salah satu pilar dalam rukun Islam. Berbagai insight yang perlu kamu ketahui seputar zakat fitrah, simaknya selengkapnya sebagaimana GenQu Media lansir dari mawdoo3.com.

Kewajiban Zakat fitrah

Para ahli fikih sepakat tentang kewajiban zakat fitrah. Berdasarkan teks-teks syariat, zakat ini harus dikeluarkan pada bulan Ramadan yang mulia. Para Sahabat biasa menunaikannya dengan jenis-jenis makanan tertentu.

Kemudian terjadi perbedaan pendapat di antara para ahli fikih mengenai cara mengeluarkan zakat fitrah. Misalnya, ada yang ditunaikan dari jenis makanan dan ada juga dengan cara memberikan nilai uang tunai.

Seseorang bisa memilih menunaikan zakat fitrah dengan nilai uang tunai sebagai pengganti jenis makanan karena alasan tertentu. Misalnya kebutuhan fakir akan uang lebih besar daripada kebutuhan akan makanan. Atau alasan lainnya misalnya ketidakmampuan orang tersebut untuk membeli jenis makanan yang ditentukan. Selain itu, pendistribusian uang dianggap lebih mudah daripada membeli dan mendistribusikan makanan.

Zakat Fitrah dengan Makanan

Berbagai jenis makanan yang diperbolehkan untuk menunaikan zakat fitrah. Makanan ini juga biasa dikeluarkan oleh para Sahabat, antara lain: kurma, kismis, gandum, barley, dan qith. Abu Sa’id Al-Khudri pernah berkata, “Kami biasa menunaikan zakat fitrah ketika Rasulullah berada di tengah-tengah kami. Baik dalam bentuk sha’ dari makanan, kurma, barley, atau qith. Kami tetap melakukannya. Sampai Mu’awiyah datang dari Syam ke Madinah membawa barang. Dia berkata kepada orang-orang. “Aku tidak melihat seorang pun dari orang-orang Syam membawa barang kecuali dia memberikan sha’ dari makanan ini.’ Maka orang-orang pun menerima hal itu.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban)

Prinsipnya adalah bahwa orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat dari jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam hadis Nabi. Namun juga diperbolehkan mengeluarkannya dengan jenis makanan yang lebih umum dikonsumsi oleh masyarakat, seperti beras. Satu sa’ yang disebutkan dalam hadis diperkirakan setara dengan dua setengah kilogram dari berat gandum dalam timbangan saat ini. Jika seseorang memilih untuk mengeluarkan jenis makanan yang tidak disebutkan dalam hadis, nilainya dihitung berdasarkan apa yang disebutkan dalam hadis. Misalnya, untuk daging, dihitung sebesar dua setengah kilogram gandum, dan seterusnya. Perlu dicatat, hikmah di balik wajibnya zakat fitrah dalam bentuk makanan adalah karena sedikitnya uang yang beredar di masyarakat pada saat itu. Sehingga memberikan makanan lebih mudah daripada memberikan uang. Selain itu, nilai uang cenderung berubah dari waktu ke waktu, berbeda dengan satu sa’ yang dapat memenuhi kebutuhan tertentu.

Nilai Zakat Fitrah

Para ulama berselisih pendapat mengenai apakah zakat fitrah dapat dikeluarkan dalam bentuk makanan atau nilai uang. Ada dua pendapat utama dalam hal ini:

  1. Pendapat Abu Hanifah dan pengikutnya: Mereka berpendapat bahwa zakat fitrah, dalam segala jenisnya, dapat dikeluarkan dalam bentuk nilai uang. Pendapat ini didukung oleh Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al-Bashri, dan Sufyan Ats-Tsauri. Pendapat mereka didasarkan pada pertimbangan bahwa kelebihan makanan di kalangan yang membutuhkan dapat melebihi kebutuhan mereka. Sehingga mereka terpaksa menjualnya untuk membeli barang yang mereka butuhkan. Dengan memberikan nilai uang secara langsung, mereka dapat membeli barang yang mereka perlukan. Imam Ramli dari mazhab Syafi’i juga berpendapat demikian. Ibnu Taimiyah memperbolehkan pengeluaran nilai uang sebagai gantinya jika ada kebutuhan mendesak, dengan mempertimbangkan kemaslahatan. Pendapat ini menjadi tengah antara pengeluaran nilai uang dan makanan. Mereka yang memperbolehkan mengeluarkan nilai uang mengacu pada firman Allah berikut. “Ambillah sedekah dari harta mereka, untuk membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu adalah ketentraman bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Ayat ini menunjukkan bahwa harta dapat diambil sebagai sedekah, dan nilai zakat fitrah serupa dengan harta. Oleh karena itu, pengeluaran nilai uang dianggap diperbolehkan.
  2. Imam Syafi’i, Malik, dan Ahmad bin Hanbal. Mereka berpendapat bahwa zakat fitrah tidak boleh dikeluarkan dalam bentuk nilai uang, melainkan harus berupa makanan. Mereka mengacu pada hadis Nabi yang menyebutkan pengeluaran makanan sebagai zakat fitrah.

Zakat Fitrah yang Terbaik

Ada perbedaan pendapat di kalangan pengikut mazhab Hanafi. Apakah lebih utama menunaikan dengan nilai uang atau jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam dalil. Sebagian berpendapat bahwa mengeluarkan makanan adalah yang terbaik, sesuai dengan dalil. Sementara yang lain berpendapat bahwa jika situasinya sangat sulit, seperti pada masa kelaparan, maka yang terbaik adalah mengeluarkan makanan.

Namun, jika situasinya berlimpah, maka yang terbaik adalah memberikan nilai uang. Ini dapat membantu fakir untuk memenuhi kebutuhan lain selain makanan. Dari sini, terlihat bahwa yang dikeluarkan dalam zakat fitrah bergantung pada kebutuhan fakir dan kondisi keluarganya. Jika kebutuhan mereka terhadap makanan lebih besar, maka zakat fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan. Namun, jika kebutuhan mereka terhadap uang lebih besar, maka dikeluarkan dalam bentuk nilai uang.

Siapakah yang Wajib Menunaikan?

Diketahui bahwa zakat fitrah wajib bagi seluruh umat Islam, baik mereka miskin atau kaya. Jika seorang Muslim tidak memiliki cukup untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri, maka tidak ada zakat fitrah yang wajib baginya. Namun, jika dia memiliki harta yang cukup fitrah untuk satu orang, maka dia harus mengeluarkan zakat tersebut untuk dirinya sendiri, berdasarkan prinsip pemenuhan kebutuhan.

Urutan Menunaikan

Seorang muslim harus memenuhi kebutuhan dirinya terlebih dahulu, sama halnya dengan zakat fitrah. Jika telah mengeluarkan zakat untuk dirinya dan masih ada kelebihan, maka dia harus mengeluarkan zakat untuk anaknya yang masih kecil. Sebab, dia bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anaknya.

Kemudian, dia harus mengeluarkan zakat untuk istrinya, karena kewajiban memberikan nafkah kepada istri berlaku dalam segala situasi. Jika masih ada kelebihan setelah itu, maka dia harus mengeluarkan zakat untuk orang tuanya. Jika dia diberi pilihan antara ayah dan ibu, maka ibu memiliki prioritas karena dia lebih berhak atas kebaikan daripada ayah. Selain itu, ibu juga tidak mampu untuk mencari penghasilan sendiri. Kemudian, dia harus mengeluarkan zakat untuk kakeknya, dan seterusnya berdasarkan urutan hubungan keluarga dalam pembagian warisan.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa seorang pria pernah berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, saya memiliki satu Dinar.” Rasulullah bersabda, “Beramallah dengan dinar itu untuk dirimu sendiri.” Dia berkata, “Saya memiliki yang lain.” Rasulullah saw. bersabda, “Beramallah dengannya untuk anakmu.” Dia berkata lagi, “Saya memiliki yang lain.” Beliau bersabda, “Beramallah dengannya untuk istri kamu.” Dia berkata lagi, “Saya memiliki yang lain.” Rasulullah bersabda, “Beramallah dengannya untuk budakmu.” Dia berkata lagi, “Saya memiliki yang lain.” Rasulullah bersabda, “Engkau lebih mengetahui apa yang akan engkau lakukan dengannya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Bulughul Maram)

Orang Tua Tidak Wajib?

Zakat Fitrah wajib ditunaikan untuk anak-anak maupun dewasa, baik mereka kaya atau kiskin, dan tidak wajib bagi orang tua. Sebab yang kaya di antara mereka mengeluarkan zakat untuk diri mereka sendiri. Mereka yang di bawah waliannya tunduk sepenuhnya pada wali mereka. Sedangkan yang miskin di antara mereka tidak diwajibkan mengeluarkan zakat, karena wali mereka tidak memiliki kekuasaan penuh atas mereka. Jika mereka memiliki harta, mereka tidak dapat menggunakannya kecuali dengan izin pemiliknya.

Namun, wajib memberikan nafkah kepada orang tua yang dalam kondisi kekurangan. Namun, jika orang tua memiliki anak dewasa yang cacat meskipun kaya, dia harus membayar zakat fitrahnya dari harta anaknya sendiri. Jika anak itu miskin, maka orang tua harus membayar zakat fitrah untuknya dari harta pribadinya. Sebab dia bertanggung jawab untuk memberi nafkah dan memiliki wewenang penuh atas anaknya.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah untuk anak-anak yang miskin jika mereka sudah dewasa. Sebab wali mereka tidak memiliki kekuasaan penuh atas mereka. Namun, mazhab Maliki berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan untuk anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, jika mereka miskin. Sedangkan mazhab Syafi’i berpendapat, zakat fitrah harus dikeluarkan untuk setiap anak. Zakat dikeluarkan baik laki-laki maupun perempuan, baik kecil maupun besar, asalkan mereka miskin. Mazhab Hanbali berpendapat bahwa zakat fitrah harus dikeluarkan untuk semua orang yang bertanggung jawab memberi nafkah kepada mereka.

Tempat Menunaikan Zakat

Zakat fitrah harus dibayar di tempat di mana kewajiban tersebut berlaku, yaitu di tempat di mana pembayar zakat tinggal. Bahkan jika hartanya berada di tempat lain.

Namun, boleh juga mengalihkan dana zakat ke tempat lain yang membutuhkan. Hal ini diperbolehkan jika tempat tersebut membutuhkan bantuan. Mislanya karena banyaknya orang miskin di sana atau karena terjadinya bencana, yang memaksa penduduk tempat tersebut untuk meminta bantuan.

Para sahabat pernah memindahkan zakat dari Yaman ke Madinah. Pendapat ini diikuti oleh ulama Syafi’i yang kemudian dan banyak dari ulama awal.

Leave a Comment