Tata Cara Menunaikan Zakat Mal

Kasih bintang post

GenQu Media—SahabatQu, selain zakat fitrah, kaum muslim juga punya kewajiban untuk menunaikan zakat mal. Namun tidak seperti zakat fitrah yang diwajibkan kepada semua orang yang berpuasa. Zakat mal diwajibkan kepada muslim yang sudah memenuhi kriteria, salah satunya hartanya sudah mencapai nisab.

Seperti apakah ketentuannya?Sebagaimana GenQu Media ansir dari mawdoo3.com, simak penjelasan selengkapnya.

Syarat Zakat Mal (Harta)

Untuk kewajiban zakat pada harta, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Pertama, harta tersebut harus termasuk dalam jenis-jenis harta yang dikenakan zakat. Kedua, nilainya harus mencapai kadar yang ditetapkan oleh hukum syariat untuk wajib membayar zakat, yang disebut sebagai nisab. Ketiga, harta tersebut harus dimiliki oleh pemiliknya selama satu tahun hijriyah penuh, yang disebut sebagai haulan al-haul. Syarat ini khusus berlaku untuk zakat emas, perak, dan hewan ternak. Sedangkan tidak berlaku untuk zakat hasil pertanian dan buah-buahan. Sebab pada tanaman dan buah-buahan, masa satu tahun dihitung dari waktu panennya.

Jenis Harta yang Dikenakan Kewajiban Zakat

Harta yang dikenakan zakat dibagi menjadi empat jenis, yaitu:

  1. Emas, perak, dan surat-surat berharga. Zakat emas wajib dikeluarkan sebesar seperempat dari sepuluh jika mencapai dua puluh mitsqal. Sedangkan pada perak jika mencapai dua ratus dirham. Zakat surat-surat berharga dihitung berdasarkan nilai yang dimilikinya; jika nilainya mencapai nilai emas atau perak, maka zakatnya harus dikeluarkan. Juga, wajib dikeluarkan seperempat dari sepuluh jika sudah satu tahun berlalu.
  2. Hewan ternak, seperti unta, sapi, dan domba. Wajib dizakati jika diternakkan selama satu tahun penuh atau lebih di padang gurun atau tanah umum. Jika jumlahnya mencapai nisab dan sudah satu tahun berlalu, pemiliknya harus mengeluarkan zakat sesuai yang ditetapkan oleh syariat. Namun, perlu diingat bahwa jika hewan ternak tersebut tidak digunakan untuk perdagangan, maka tidak ada kewajiban zakat.
  3. Hasil bumi yang disimpan untuk dijual atau disimpan. Nisab untuk hasil bumi adalah tiga ratus sha’ (setara dengan enam ratus dua puluh empat kilogram). Dan semua jenis hasil bumi harus digabungkan hingga mencapai nisab. Zakat yang harus dikeluarkan tergantung pada cara penyiraman tanaman tersebut. Jika disiram dengan air hujan, maka zakatnya sepersepuluh, jika disiram dengan air lainnya, maka zakatnya separuh dari sepuluh. Jika air yang digunakan untuk penyiraman adalah campuran antara air hujan dan air lainnya, maka zakatnya tiga perempat dari sepuluh. Sedangkan harta yang dikeluarkan dari laut, seperti mutiara, terumbu karang, dan ikan, harus dikeluarkan seperempat dari sepuluh. Ketentuan tersebut berlaku jika hanya digunakan untuk perdagangan. Sedangkan untuk harta yang dikeluarkan dari bumi, seperti tambang, zakatnya adalah seperlima.
  4. Barang dagangan, yaitu segala sesuatu yang disiapkan untuk diperdagangkan, seperti makanan, minuman, binatang, tanah, alat, dan sebagainya. Zakatnya adalah seperempat dari sepuluh, tetapi jika tujuannya hanya untuk memiliki dan bukan untuk diperdagangkan, maka tidak ada kewajiban zakat.

Syarat-Syarat Lain Zakat Mal

Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menunaikan zakat mal adalah sebagai berikut:

  1. Milik penuh oleh individu tersebut. Sebab zakat merupakan hak kepemilikan, maka tidak mungkin harta milik orang lain wajib dizakati kecuali jika individu tersebut adalah pemiliknya. Oleh karena itu, dalam mazhab Hanafi, dianggap tidak wajib membayar zakat untuk harta yang diwakafkan. Atau tidak wajib bagi kuda yang digunakan untuk perlombaan.
  2. Kepemilikan mutlak atas harta. Artinya, pemilik harta memiliki hak penuh untuk mengelola dan menggunakan harta tersebut sesuai keinginannya.
  3. Pertumbuhan. Salah satu tujuan zakat adalah untuk memberikan bantuan kepada orang-orang miskin sehingga orang kaya tidak menjadi miskin seperti mereka. Jika harta tidak tumbuh. Sementara zakat sudah dikeluarkan dari harta tersebut, maka harta itu akan habis seiring berjalannya waktu dan pengeluaran zakat.
  4. Tambahan dari kebutuhan dasar. Ini adalah syarat menurut mazhab Hanafi. Tidak wajib membayar zakat untuk segala sesuatu yang dimiliki yang merupakan kebutuhan dasar, bahkan jika nilainya mencapai nisab. Ini juga berlaku untuk buku-buku ilmiah, yang tidak wajib dizakati menurut mazhab tersebut.
  5. Haulan al-Haul: Artinya, harta harus tetap berada dalam kepemilikan individu selama satu tahun penuh dalam kalender Hijriyah. Jika tidak, maka tidak wajib membayar zakat atas harta tersebut. Syarat ini didasarkan pada hadis Rasulullah saw: “Tidak ada zakat atas harta kecuali telah mencapai satu tahun.
  6. Mencapai nisab: Nisab adalah jumlah tertentu yang telah ditetapkan oleh syariat yang harus dicapai nilai harta tersebut agar wajib dizakati. Jika nilai harta kurang dari nisab, maka tidak wajib membayar zakat. Nisab bervariasi tergantung pada jenis harta yang dimiliki.
  7. Bebas dari hutang. Jika utang yang dimiliki oleh individu melebihi atau setara dengan nilai harta yang dimilikinya, maka tidak wajib membayar zakat. Namun, jika utang tersebut muncul setelah wajib membayar zakat, maka zakat tetap wajib dan harus dibayarkan oleh individu tersebut.

Syarat-Syarat Pemilik Harta yang Wajib Dizakati

Seseorang wajib menunaikan zakat mal dengan memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Muslim: Zakat tidak wajib bagi nonmuslim menurut kesepakatan para ulama. Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa zakat wajib bagi murtad jika haul telah berlalu sebelum kembalinya ke Islam. Akan tetapi jika kembali ke Islam dan harta masih ada, maka zakatnya wajib. Bukti tidak wajibnya zakat bagi nonmuslim adalah firman Allah berikut. “Dan tidak ada yang mencegah agar zakat diterima dari mereka kecuali bahwa mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak mendirikan shalat kecuali dengan malas. Dan tidak (pula) menginfakkan (hartanya) kecuali dengan terpaksa.” (QS. At-Taubah: 54)
  2. Merdeka: Zakat tidak wajib bagi hamba sahaya.
  3. Dewasa dan berakal: Menurut mazhab Hanafi, syarat ini harus dipenuhi. Namun, mayoritas ulama menyatakan bahwa kedewasaan dan akal tidak menjadi syarat. Bahkan, orang gila dan anak kecil diwajibkan oleh wali mereka untuk mengeluarkan zakat atas harta mereka.

Hukum Zakat

Zakat menduduki peringkat ketiga setelah dua syahadat dan shalat dalam lima rukun Islam. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka; dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103). Zakat diperintahkan oleh Allah kepada hamba-Nya untuk membersihkan jiwa mereka dari sifat kikir dan rakus. Selain itu, agar orang kaya Muslim membantu orang miskin di antara mereka.

Oleh karena itu, harta dalam masyarakat Islam tidak boleh terkonsentrasi di tangan sebagian kecil saja. Zakat memastikan kesejahteraan bagi semua anggota masyarakat, terlepas dari tingkat kekayaan mereka. Zakat adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat-syaratnya, baik besar maupun kecil, laki-laki maupun perempuan.

Pentingnya zakat tercermin dalam banyak ayat Al-Quran yang mengaitkannya dengan shalat. Bukti wajibnya zakat ada dalam Al-Quran, Sunah, dan kesepakatan umat Islam. Rasulullah saw. pernah menyampaikan hadis berikut. “Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, melakukan haji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan mengenai kesepakatan zakat, umat Islam sepakat bahwa zakat adalah salah satu dari lima rukun Islam.

Leave a Comment