Tata Cara Puasa Menurut 4 Mazhab

5/5 - (2 votes)

GenQu Media—Puasa merupakan ibadah utama dalam Islam. Bahkan puasa Ramadan menjadi kewajiban umat Islam dan termasuk salah satu pilar dalam rukun Islam. Agar ibadah puasa kita memenuhi kriteria secara fikih dan diterima Allah, SahabatQu perlu mengetahui adab dan syarat-syaratnya.

Seperti apakah tata cara puasa dalam pandangan 4 mazhbab? Sebagaimana GenQu Media lansir dari mawdoo3.com, simak penjelasan lengkap berikut ini.

Adab Berpuasa

Dalam menunaikan ibadah puasa, ada beberapa adab yang dianjurkan. Abdul Mun’im bin Husain dalam Ahkam Ash-Shiyam wal Qiyam wa Zakat Al-Fitr (Hukum-Hukum Seputar Puasa, Shalat, dan Zakat Fitrah) menuturkan, adab puasa meliputi:

  1. Suhur: Disarankan untuk sahur karena terdapat berkah dan memberikan kekuatan selama berpuasa. Rasulullah saw. bersabda, “Makan sahurlah, karena dalam sahur terdapat berkah.(HR. Bukhari dari Anas bin Malik)
  2. Mempercepat Berbuka dan Berdoa saat Berbuka: Rasulullah saw. mengajarkan doa saat berbuka, “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah dan pahala tetap akan diberikan, jika Allah menghendaki.” (HR. Imam Syuyuhti dari Abdullah bin Umar)
  3. Menjauhi Segala yang Bertentangan dengan Puasa: Menghindari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa. Rasulullah sabda bersabda, “Siapa saja yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap dirinya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah)
  4. Siwak: Disunnahkan bagi orang yang berpuasa untuk menggunakan siwak kapan saja dalam sehari, baik di awal atau akhir hari.

Puasa Menurut 4 Mazhab

Setelah Sahabat memahami keempat adab puasa di atas, berikut kita perlu memahami berbagai syarat puasa dalam pandangan 4 Mazhab.

Istilah “syarat” adalah sesuatu yang mandiri dari suatu hal. Jika tidak dilakukan dengan benar, tidak akan diterima, seperti halnya berwudhu. Wudhu adalah syarat dari syarat-syarat sahnya salat, bukan rukun dari rukun-rukunnya.

Rukun adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari suatu hal, seperti rukun dalam salat seperti rukuk dan sujud, ini adalah bagian-bagian yang merupakan rukun karena merupakan bagian integral dari salat. Sedangkan berwudhu tidak dianggap sebagai rukun karena terpisah dari salat. Meskipun begitu, shalat tidak akan sah tanpa berwudhu karena keduanya adalah keharusan untuk diterima amalan.

Mazhab Syafi’i

Menurut mazhab Syafi’i, terdapat beberapa syarat sah yang diakui, antara lain:

  1. Beragama Islam. Seseorang harus beragama Islam, karena hanya Muslim yang diwajibkan berpuasa dan akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatan tersebut di akhirat.
  2. Baligh dan berakal. Individu tersebut harus sudah baligh dan berakal, karena orang yang belum baligh atau tidak berakal tidak diwajibkan melaksanakan kewajiban agama.
  3. Seseorang harus bebas dari halangan-halangan yang mencegah puasa atau membolehkan berbuka, seperti haid, nifas, pingsan, atau kegilaan, selama kondisi tersebut berlangsung sepanjang hari. Jika seseorang terjaga sejenak selama hari Ramadan, dia diharuskan untuk menahan diri untuk sisa hari itu.

Selain itu, ada halangan yang membolehkan seseorang berbuka puasa, seperti penyakit serius yang dapat menyebabkan kematian, atau bepergian jauh setidaknya 83 kilometer, dengan syarat bahwa perjalanan tersebut diperbolehkan dan berlangsung selama satu hari penuh.

Tidak diizinkan untuk berbuka puasa karena bepergian saat siang hari. Juga, berbuka puasa diizinkan jika seseorang tidak mampu berpuasa karena alasan tertentu, seperti kelemahan fisik atau penyakit kronis, sesuai dengan ayat Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa bagi mereka yang tidak mampu berpuasa, harus memberi makan seorang miskin sebagai gantinya.

Mazhab Hanafi

Najah Al-Halabi dalam Fiqhul Ibadaat ala Madzhabil Hanafi (Fikih Ibadah Menurut Mazhab Hanafi) dijelaskan mengenai tata cara puasa dalam mazhab ini. Ada syarat wajib puasa yang meliputi:

  1. Islam: Karena puasa adalah ibadah bagi Muslim.
  2. Akal Sehat: Puasa tidak wajib bagi orang yang gila, anak kecil, atau orang yang pingsan. Hal ini ditegaskan oleh ucapan Ali bin Abi Thalib – semoga Allah meridhainya – “Pena (tinta) diangkat dari tiga orang: orang yang tidur sampai bangun, anak kecil sampai bermimpi, dan orang gila sampai sembuh atau menjadi waras.”[6]
  3. Baligh (Dewasa): Puasa tidak wajib bagi anak yang belum dewasa, tetapi puasanya dianggap sah jika ia melakukannya.
  4. Mengetahui Wajibnya Puasa: Orang yang tidak tahu wajibnya puasa tidak diwajibkan berpuasa. Orang yang tidak tahu karena jauh dari Islam dan umat Muslim tidak dianggap bersalah. Namun, orang yang mengetahui wajibnya puasa tetapi tidak melakukannya akan dianggap bersalah.

Ada pula syarat bisa terlaksananya pelaksanaan puasa, yaitu:

  1. Kesehatan: Seseorang harus sehat untuk berpuasa, kecuali bagi yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib menggantinya pada hari-hari lain.
  2. Bebas dari Haid dan Nifas: Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa.
  3. Muqim (tidak sedang bepergian): Seseorang harus tinggal di tempatnya untuk menjalankan ibadah puasa.

Kemudian selanjutnya ada pula syarat sah puasa, yaitu:

  1. Niat: Puasa tidak akan sah tanpa niat. Niat harus dilakukan dengan tekad untuk berpuasa dan berdasarkan kesungguhan hati. Tidak wajib diucapkan dengan kata-kata, sesuai dengan hadis dari Sahih Bukhari, “Segala amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.”
  2. Tidak Ada Halangan (Mufsidat): Puasa tidak akan sah jika sengaja melakukan hal-hal yang membatalkannya, seperti berhubungan suami istri, makan, minum, atau muntah.

Mazhab Maliki

sumber: perchance.org

Abdul Rahman Al-Jazairi menuturkan dalam Fiqh ‘ala Mazhabil Arba’ah (Fikih Menurut Empat Mazhab) ihwal puasa. Tata cara puasa menurut mazhab Maliki dibagi menjadi: syarat wajib, syarat sah, syarat wajib dan sah, dengan rincian sebagai berikut:

Dalam Mazhab Maliki, syarat wajib puasa meliputi:

  1. Baligh (Dewasa): Puasa tidak diwajibkan bagi anak kecil, bahkan jika dia sudah bisa memahami.
  2. Mampu Berpuasa: Orang yang tidak mampu berpuasa tidak diwajibkan melakukannya.

Sedangkan syarat sah puasa, antara lain:

  1. Islam: Puasa hanya diwajibkan bagi Muslim karena mengikuti perintah syariat Islam.
  2. Niat: Niat diperlukan dalam puasa untuk membedakan ibadah dari kebiasaan sehari-hari. Sunnah bagi orang yang berpuasa untuk mengucapkannya dengan lisan.
  3. Waktu yang Tepat: Puasa hanya sah dilakukan pada waktu yang ditetapkan, seperti puasa hari raya yang tidak sah dilakukan.

Selanjutnya, Mazhab Maliki juga menjelaskan syarat wajib dan sahnya puasa, antara lain:

  1. Akal Sehat: Puasa tidak diwajibkan bagi orang gila atau pingsan, dan puasa dari keduanya tidak sah.
  2. Kebersihan dari Haid dan Nifas: Wanita yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan berpuasa, dan jika berpuasa, puasanya tidak sah. Mereka harus membersihkan diri dari haid dan nifas bahkan jika terjadi sebelum fajar satu detik saja. Mereka juga diwajibkan menggantinya.
  3. Bukti Masuknya Bulan Ramadan: Puasa tidak wajib dan tidak sah sebelum masuknya bulan Ramadan.

Mazhab Hanbali

Abdul Qadir At-Tughlabi dalam Nailul Ma’arib bisyarh Dalilut Thaalib dijelaskan bahwa syarat sah menurut mazhab Hanbali antara lain:

  1. Islam: Puasa hanya diwajibkan bagi Muslim.
  2. Akal Sehat: Puasa tidak sah bagi orang yang gila atau pingsan setelah ia berniat berpuasa.

Dalam Mazhab Hanbali, syarat wajib puasa, meliputi:

  1. Baligh (Dewasa): Orang yang belum baligh tidak diwajibkan berpuasa.
  2. Mampu Berpuasa: Orang yang sakit atau tidak mampu berpuasa tidak diwajibkan melakukannya karena puasa dapat memberikan kesulitan dan kelelahan bagi mereka.

Sedangkan syarat sah puasa terdiri dari:

  1. Kebersihan dari Haid dan Nifas: Wanita yang sedang haid atau nifas tidak sah berpuasa. Mereka harus bersuci dari haid dan nifas bahkan jika terjadi sebelum fajar satu detik saja.
  2. Dapat Membedakan: Puasa tidak sah jika dilakukan oleh seseorang yang tidak dapat membedakan.
  3. Niat Berpuasa di Malam Hari: Niat untuk berpuasa harus diambil sebelum fajar.

SahabatQu, demikianlah tata cara puasa dalam pandangan 4 mazhab. Semoga artikel ini bermanfaat sehingga ibadah puasa kita jadi lebih sempurna.

Leave a Comment