Tata Cara Tilawah Sesuai Sunah

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Al-Qur’an adalah kalam Allah Yang Maha Tinggi dan merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Kedudukannya sangat agung dalam kehidupan kaum muslim.

Shalat tidak sah tanpa membaca Al-Qur’an (Al-Fatihah). Pahala membaca Al-Qur’an juga berlipat ganda di bulan Ramadan yang mulia. Oleh karena itu, penting untuk mematuhi adab-adab saat membaca Al-Qur’an dan menguasai teknik membacanya dengan baik.

Bagaimanakah tata cara tilawah yang sesuai dengan sunah yang diajarkan Rasulullah? Simak penjelasan selengkapnya sebagaimana dilansir dari Mawdoo3.com

Keutamaan Membaca Al-Qur’an

Banyak dalil-dalil yang mencatatkan keutamaan membaca Al-Qur’an dalam Al-Qur’an sendiri dan sabda Rasulullah saw., di antaranya:

Allah berfirman, “Orang-orang yang Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya. Mereka itulah yang benar-benar beriman kepada Kitab itu. Barangsiapa yang tidak beriman kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(QS. Al-Baqarah: 121)

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka dengan rahasia dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, supaya Allah memberi balasan kepada mereka dengan penuh keadilan, dan menambah lebih dari balasan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fatir: 29-30)

Dan Allah berfirman, “Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an, Kami adakan di antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, suatu dinding yang tertutup.” (QS. Al-Isra: 45)

Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, tetapi ‘Alif’ itu satu huruf, ‘Lam’ itu satu huruf, dan ‘Mim’ itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah saw. juga bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw. juga menyebutkan, “Sesungguhnya Allah memiliki kelompok dari umat manusia.” Mereka bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlul Qur’an, kelompok khusus dan istimewa di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Adab Ketika Tilawah Al-Qur’an

SahabatQu, beberapa adab yang perlu diperhatikan saat membaca kalam Allah, antara lain:

Suci

Salah satu syarat penting dalam membaca Al-Qur’an dengan suci. Tidak boleh berwudhu tanpa kesucian, oleh karena itu, penting untuk memastikan kesucian dan berwudhu sebelum membaca Al-Qur’an. Sebagai bentuk penghormatan terhadap tanda-tanda Allah, sentuhlah Al-Qur’an dengan keadaan suci dan berwudhu.

Menghadap Kiblat

Setelah berwudhu, arahkan diri ke kiblat, karena membaca Al-Qur’an berkaitan dengan hati, seorang muslim menghadapkan hatinya kepada Allah swt. dengan harapan mendapatkan pahala dan ganjaran. Setiap huruf dari ayat-ayat Al-Qur’an merupakan kebaikan, dengan setiap kebaikan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Duduklah dengan bersimpuh, seperti duduk di antara dua rakaat shalat dan setelah salam, di sinilah rasa khusyuk dan ketakwaan muncul dengan duduk yang benar.

Khusyuk dan Khidmat

Membaca Al-Qur’an tidak boleh dilakukan dengan berbaring atau bersandar, atau sibuk dengan sesuatu, karena ini melanggar prinsip-prinsip membaca Al-Qur’an. Melakukan hal tersebut dianggap seolah-olah apa yang dibaca hanyalah kata-kata biasa dan tidak mengarahkan hati kepada Allah swt, sehingga tidak mencapai ketakwaan.

Pentingnya Tartil

Tartil saat membaca Al-Qur’an sangat penting, oleh karena itu, penting untuk mengetahui tata cara tajwid sehingga setiap huruf diucapkan dengan benar. Selain itu, membaca dengan penuh perhatian dan pemahaman, tanpa terburu-buru dalam membaca. Tujuan membaca bukanlah seberapa banyak surah atau seberapa sering Al-Qur’an selesai dibaca, melainkan merenungkan dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh ayat-ayat. Membaca tanpa mengaplikasikan ajaran tidak akan memberikan manfaat yang diharapkan. Inti dari membaca Al-Qur’an adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Membaca Ta’awudz

Ketika memulai membaca surah-surah Al-Qur’an, penting untuk berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk dengan membaca ta’awudz, sesuai dengan perintah-Nya sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab-Nya, “Apabila kamu membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (Al-Nahl: 98). Kemudian, bacalah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah, Maha Penyayang (Bismillah).

Tidak Menganggu Orang Lain

Saat membaca Al-Qur’an, boleh meninggikan suara atau membaca dengan suara pelan atau bahkan dalam hati, namun tidak boleh mengganggu orang lain atau memamerkan bacaan. Tidak boleh pula membuat melodi atau penyanyian saat membaca, karena itu dianggap sebagai keluar dari aturan tartil (membaca dengan tajwid) dan membaca dengan khushu’ (khusyuk) serta takwa kepada Allah. Yang terpenting adalah memusatkan pikiran dan melantunkan ayat-ayat dengan baik.

Tadabur Makna

Selama membaca, dianjurkan untuk merenungkan dan memahami maknanya. Membaca Al-Qur’an bukanlah sekadar menyelesaikan jumlah surah atau seberapa sering Anda menyelesaikan seluruh Al-Qur’an, tetapi lebih kepada merenungkan dan mengikuti petunjuk yang terkandung dalam ayat-ayat. Membaca tanpa menerapkan ajaran yang terkandung di dalamnya tidak akan memberikan manfaat yang diharapkan. Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Tata Cara Tilawah

Ada tiga cara membaca Al-Qur’an, dan yang dimaksud dengan “cara” di sini adalah kecepatan atau ke lambatan bacaan, bukan mengubah bacaan itu sendiri. Berikut adalah tiga cara tersebut:

التّحقيق (At-Tahqiq)

  • Tahqiq dalam bahasa adalah penekanan pada sesuatu sesuai hakikatnya tanpa penambahan atau pengurangan, dengan tujuan mencapai kebenaran sesuatu dan pemahaman terhadap hakikatnya.
  • Secara istilah, tahqiq adalah membaca Al-Qur’an dengan tenang, dengan tujuan untuk belajar, sambil memperhatikan pemahaman makna dan hukum-hukumnya.
  • Tahqiq adalah tingkat paling tenang, dan merupakan tingkat yang disarankan dalam konteks pembelajaran. Namun, perlu diingat untuk menghindari kecepatan yang sangat lambat yang dapat menyebabkan pembacaan menjadi terlalu terhampar dan gerakan huruf menjadi samar.

التّدوير (At-Tadwir)

Tadwir dalam bahasa adalah perantaraan, dan secara istilah disebut demikian karena pembacaan berada di tengah-tengah antara tahqiq dan haddr, artinya berada dalam keadaan sedang, di antara melambat dan mempercepat, sambil memperhatikan hukum-hukum bacaan.

الحدر (Al-Hadr)

Hadr dalam bahasa adalah penurunan atau kecepatan, dan secara istilah, hadr adalah membaca dengan menurunkan atau mempercepat bacaan, dengan memperhatikan agar huruf-huruf tidak terpotong dan tanpa kehilangan ghunnah (bunyi mad).

Hukum Membaca dengan Tiga Tingkatan Ini

Ketiga tingkatan ini diperbolehkan menurut pandangan semua imam, sehingga seseorang yang mahir dapat membaca dengan tingkatan hadr atau tadwir. Namun, tingkatan paling utama adalah tahqiq, diikuti oleh tadwir, dan kemudian hadr.

Tartil dalam Tilawah Al-Qur’an

Tartil adalah sifat dari bacaan Al-Qur’an, bukan metode atau cara membaca. Ini mencakup tahqiq, hadr, dan tadwir. Kata “tilawah” berasal dari “ratil,” yang berarti membaca sesuatu secara berurutan dengan pemahaman dan tanpa tergesa-gesa.

Setiap ayat Al-Qur’an harus dibaca dengan tilawah yang jelas dan terjaga, seperti ketika diturunkan, tanpa penambahan atau pengurangan. Hal ini perlu memperhatikan hukum-hukum waqf (berhenti) dan ibtida’ (memulai bacaan baru). Pembaca juga harus memiliki pemahaman sebanyak mungkin terkait ilmu-ilmu Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan ilmu yang paling mulia. Karena hukum-hukum syariat dan perintah-perintah serta larangan-larangan Al-Qur’an tidak dapat dipahami sepenuhnya kecuali melalui bacaan yang benar dan terjaga.

Hal ini ditegaskan oleh Ummu Salamah (semoga Allah ridho dengannya) ketika ditanya tentang cara membaca Nabi Muhammad saw. Beliau menjawab, “Beliau (Nabi) membaca dengan memisahkan setiap ayat, ‘Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim, Al-Hamdu lillahi Rabbil ‘Alamin, Ar-Rahman Ar-Rahim, Maliki Yawmiddin.’

SahabatQu, demikianlah tata cara tilawah yang baik sesuai sunah. Semoga kita bisa mempraktikkannya dan senantiasa dekat dengan Al-Qur’an.

Leave a Comment