Inilah Panduan Praktis Tata Cara Wudhu Sesuai Sunnah

Kasih bintang post

GenQu Media—Dalam ilmu fikih, wudhu merupakan praktik dasar untuk melakukan ibadah, khususnya ibadah shalat. Pembahasan mengenai wudhu biasanya dikelompokkan ke dalam bab thaharah yang mana dalam bab ini dibahas tentang wudhu, tayamum, mandi besar, dan juga termasuk pembahasan mengenai istinja (bersuci atau membersihkan kotoran).

Tata Cara Wudhu

Dalam artikel ini, GenQu Media akan mencoba menguraikan panduan praktis tentang tata cara wudhu yang sesuai dengan ajaran sunnah yang dikutip dari kitab Riyadhul Badiah karya Syekh Muhammad Hasbullah al-Syafi’i al-Makki. Menjalankan wudhu dengan benar sangat penting untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna. Berikut adalah langkah-langkah yang harus diikuti:

Niat

Niat merupakan bagian penting dalam menjalankan wudhu.
Rasulullah saw bersabda, “Setiap amal itu bergantung pada niatnya.” Ketika hendak berwudhu, niatkanlah untuk menghilangkan hadas atau berniat menjalankan wudhu sebagai bagian dari ibadah, meskipun seandainya orang yang berwudhu masih anak-anak.

Lafaz niat wudhu adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

“Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil fardhu karena Allah Taala”

Membasuh wajah

Basuh seluruh bagian luar wajah, mulai dari batas tumbuhnya rambut di kepala hingga bawah dagu. Lebarnya mencakup dari satu telinga ke telinga yang lain. Membasuh telinga tidak wajib dilakukan, kecuali jika perlu untuk menyempurnakan basuhan pada wajah. Penting untuk diketahui bahwa membasuh berarti mengalirkan air pada wajah, bukan hanya mengusapnya.

Bagian-bagian wajib yang harus dibasuh termasuk juga rambut yang tumbuh di wajah, baik tebal maupun tipis, serta bagian luar dan dalamnya. Namun, jika jenggot seorang pria terlalu tebal, cukup membasuh bagian luar jenggotnya saja. Terdapat tiga pengecualian, yaitu bagian dalam jenggot yang keluar dari batas wajah, bagian dalam jenggot dan cambang pria, serta rambut panjang yang tumbuh di dalam jenggot. Bagian-bagian ini harus disela-nyelai dengan tangan yang sudah dibasahi dengan air.

Artikel FYI: 5 Keutamaan Surah Al-Mulk, Menyingkap Rahasia & Manfaatnya

Membasuh kedua tangan

Basuhlah kedua tangan beserta siku, termasuk telapak tangan dan pergelangan tangan. Basuhlah seluruh bulu yang tumbuh di kedua tangan, baik bagian luar maupun dalamnya, bahkan jika bulu tersebut panjang dan keluar dari batas tangan.

Selain itu, basuh juga daging hidup (semacam kutil atau sejenisnya) yang tumbuh di kedua tangan, meskipun panjangnya melewati batas fardlu. Jari-jari tambahan, kuku yang panjang, lubang yang terbuka, dan tempat duri yang tidak terperangkap di dalamnya juga harus dibasuh. Jika terdapat duri yang masih tertinggal di bawah kuku, duri tersebut harus dicabut karena akan menyebabkan wudhu menjadi tidak sah.

Mengusap bagian kepala

Usaplah sebagian kulit kepala atau bagian rambut yang tumbuh pada kepala. Namun, jika rambut tersebut keluar dari batas kepala, maka tidak sah untuk mengusapnya.

Membasuh kedua kaki

Basuh kedua kaki beserta mata kaki dan bulu-bulu yang tumbuh di kaki. Seperti halnya dengan tangan, basuhlah seluruh bulu yang tumbuh di kedua kaki, baik bagian luar maupun dalamnya, bahkan jika rambut tersebut panjang dan keluar dari batas kaki. Basuh juga daging hidup yang tumbuh di kedua kaki, meskipun panjangnya melewati batas fardlu.

Jika terdapat mata kaki di tempat yang tidak biasa, seperti mata kaki yang menempel pada lutut, maka mata kaki tersebut harus dibasuh. Prinsipnya adalah mengalirkan air pada tempat mata kaki. Selain itu, gerakkan cincin yang sempit agar air dapat mengalir dengan lancar. Juga, pastikan untuk menyela-nyelai jari-jari kaki jika air tidak mencapainya, kecuali jika air disela-selai dengan baik. Penting untuk dicatat bahwa membelah jari-jari kaki yang berdaging adalah tindakan yang dilarang karena merupakan penyiksaan yang tidak diperlukan.

Artikel FYP: Islamofobia Kembali Terulang, Akankah Selesai dengan Kecaman?

Tertib (Urutan yang Benar)

Penting untuk mengikuti urutan yang tepat dalam menjalankan wudhu. Urutan ini adalah: wajah, kedua tangan, bagian kepala, dan kedua kaki. Urutan ini harus diikuti secara tertib sesuai dengan kewajiban fardlu dan syarat lainnya, bahkan jika terjadi lupa atau kebingungan. Jika seseorang ragu apakah sebagian anggota tubuh sudah disucikan sebelum wudhu selesai, maka dia harus menyucikan anggota tubuh tersebut dan melanjutkan menyucikan anggota tubuh yang lainnya. Namun, jika keraguan itu muncul setelah wudhu selesai, maka tidak perlu melakukan sesuatu yang berlebihan. Penting untuk diingat bahwa tidak diperlukan kepastian bahwa air sudah merata di seluruh anggota tubuh, cukup diperkirakan saja.

Doa Setelah Wudhu

Usai melakukan tata cara wudhu di atas, silakan SahabatQu lanjutkan berdoa dengan bacaan berikut ini.

أَشْهَدُ أَنْ لا إله إلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ ، سُبْحانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang bertobat. Jadikanlah aku termasuk golongan yang menyucikan diri. Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.

Penting untuk Diperhatikan

Tata Cara Wudhu
sumber: quranonline.com/

Selain langkah-langkah di atas, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menjalankan wudhu:

  1. Pastikan tidak ada penghalang antara air dan anggota tubuh yang disucikan.
  2. Bersihkan kotoran yang menghalangi air mencapai anggota tubuh, seperti lilin atau kotoran di sekitar mata. Namun, kotoran yang berasal dari keringat tidak menjadi masalah kecuali jika menghilangkannya sangat sulit.
  3. Kotoran yang terakumulasi di bawah kuku juga harus dibersihkan. Kotoran tersebut dapat menyebabkan wudhu menjadi tidak sah menurut pandangan yang kuat.
  4. Pastikan air mengalir pada anggota tubuh yang dibasuh, jadi mengusap bukanlah pengganti membasuh. Namun, jika pembasuhan dilakukan dalam air, maka hal ini tidak menjadi masalah.
  5. Jika ada potongan hidung atau bibir, pastikan untuk membasuh bagian yang tampak pada potongan tersebut. Hal ini berlaku baik dalam wudhu maupun mandi menurut pandangan yang kuat. Jika seseorang memiliki dua wajah, dia harus membasuh keduanya dan membasuh apa yang ada di keduanya.
  6. Jika ada bagian anggota tubuh yang terlewat dalam proses pembasuhan, meskipun karena lupa, wudhu tidak sah kecuali bagian tersebut dibasuh dan anggota tubuh setelahnya juga harus diulangi.

Artikel Muslim Hack: Puasa Muharram: Keistimewaan, Hukum, Waktu, Tips dan Tata Caranya

Pembatal Wudhu

Menurut penjelasan dalam buku Sullam At-Taufiq oleh Syekh Sayyid Abdullah bin Husain bin Thahir, terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan wudhu menjadi batal, yaitu:

  1. Keluarnya cairan selain air mani dari lubang kelamin atau dubur.
  2. Menyentuh bagian lubang kelamin atau dubur dengan telapak tangan tanpa ada penghalang.
  3. Menyentuh kulit luar perempuan yang bukan mahram dengan bagian tubuh yang bukan gigi, kuku, rambut, atau tulang. Hal ini juga termasuk menyentuh gusi, yang juga akan membatalkan wudhu. Namun, dalam kasus ini, kedua individu harus memiliki usia dewasa (baligh), bukan anak-anak.
  4. Kehilangan akal karena kondisi seperti gila, kesurupan, mabuk, atau tertidur. Namun, jika seseorang tidur dalam posisi duduk dengan pantatnya menempel pada lantai, wudhu tidak akan batal.

SahabatQu, demikianlah uraian mengenai tata cara wudhu sesuai sunnah dan pembatalnya. Semoga artikel ini membantu SahabatQu untuk mendapatkan kesempurnaan dalam berwudhu. Dengan mengikuti panduan praktis ini, SahabatQu dapat menjalankan wudhu dengan benar sesuai dengan ajaran sunnah.

Leave a Comment