Tata Cara Zikir dalam Islam

Zikir bukan sekadar serangkaian lafaz yang diulang, tetapi sebuah bentuk ibadah yang memperdalam kesadaran akan kehadiran Ilahi.
Total
0
Shares
Zikir
sumber: Bing Image AI
5/5 - (2 votes)

GenQu Media—Dalam kehidupan sehari-hari kaum muslim, zikir memegang peran penting sebagai jembatan menuju kedekatan dengan Allah. Zikir bukan sekadar serangkaian lafaz yang diulang, tetapi sebuah bentuk ibadah yang memperdalam kesadaran akan kehadiran Ilahi.

SahabatQu, Islam membimbing umatnya untuk melakukan tata cara zikir yang benar. Sima penjelasan berikut ini yang dilansir dari lifewithallah.com.

6 Adab Berzikir

Saat melakukan zikir, cobalah untuk mengingat enam adab berikut:

  1. Renungkan makna dari zikir tersebut.
  2. Selalu ingatlah bahwa Allah bersamamu. Dalam sebuah ḥadīth qudsī, Allah berfirman: “Aku bersama hamba-Ku ketika dia mengingat-Ku dan menggerakkan bibirnya karena-Ku.” (Ibnu Mājah).
  3. Benahi niatmu.
  4. Renungkanlah pahala dari melakukan zikir secara umum, dan pahala khusus untuk adhkār tertentu.
  5. Ingatlah nikmat-nikmat Allah atas dirimu. Agar zikirmumu menjadi sadar, hatimu harus meluap dengan rasa syukur kepada Yang Maha Pemberi segala nikmat.
  6. Cobalah berada di tempat yang tenang dan sunyi, menjauh dari gangguan.

Imām al-Nawawī (raḥimahullāh) menyatakan: ‘Setiap orang yang melakukan zikir seharusnya berada dalam keadaan yang paling sempurna. Jika dia duduk di suatu tempat, dia seharusnya menghadap qiblah dengan rendah hati dan ketenangan, menundukkan kepalanya. Jika seseorang mengingat Allah dalam keadaan lain, itu masih diperbolehkan, tanpa ada keberatan; tetapi jika tidak ada alasan untuk melakukannya, seseorang akan kehilangan sesuatu yang sangat baik.’

Zikir yang Sadar

Zikir terbagi menjadi dua jenis: yang menjadi kebiasaan dan yang dilakukan dengan kesadaran penuh, dan hanya yang terakhir ini yang akan membawamu kepada pengetahuan (maʿrifah), ketakutan, dan kasih kepada Allah.

Ibn al-Jauzī (raḥimahullāh) menjelaskan:

‘Orang yang lalai mengucapkan سُبْحَانَ الله secara kebiasaan. Adapun orang yang sadar, dia terus-menerus memikirkan keajaiban ciptaan, atau sifat yang mengagumkan dari Sang Pencipta, dan pemikiran ini mendorongnya untuk mengucapkan سُبْحَانَ الله. Dengan demikian, tasbīḥ ini adalah buah dari pemikiran-pemikiran ini, dan ini adalah tasbīḥ dari orang yang sadar…

Demikian pula, mereka memikirkan tentang kejelekan dosa-dosa masa lalu, dan ini membawa mereka untuk merenung, merasa cemas, dan menyesal. Buah dari pemikiran ini adalah bahwa mereka mengucapkan أَسْتَغْفِرُ الله. Inilah tasbīḥ dan istighfār yang sejati.

Adapun orang yang lalai, mereka hanya mengucapkannya secara kebiasaan. Dan betapa besar perbedaan antara kedua jenis ini…’ (Ṣayd al-Khāṭir)

Dalam karyanya yang hebat ‘al-Adhkār’, Imam al-Nawawī (raḥimahullāh) menulis: ‘Tujuan dari zikir adalah untuk mengingat Allah dengan kehadiran hati. Sangat penting bagi setiap orang untuk bertujuan mencapai hal ini dan berusaha untuk mencapainya.

Berusaha Memahami Maknanya

Oleh karena itu, seseorang harus merenungkan apa yang dikatakannya dan berusaha untuk memahami maknanya. Merenung adalah tujuan dari zikir, sama seperti itu adalah tujuan dari membaca Al-Qur’an. Inilah mengapa, misalnya, pandangan yang benar dan lebih disukai adalah bahwa seseorang seharusnya memperpanjang mengucapkan “لَا إِلٰهَ إِلَّا الله” untuk merenungkannya.’

‘Allah memberikan kepada hamba-Nya kenikmatan dari mengingat-Nya. Jika hamba merasakan kegembiraan dalam hal itu dan bersyukur kepada-Nya, Allah mendekatkannya kepada-Nya; dan jika dia kurang dalam bersyukur kepada-Nya, Dia membuatnya mengingat-Nya dengan lidahnya, tetapi Dia menghilangkan kenikmatannya dari-Nya.’ (Ibn al-Kātib)

“Saya tidak memikirkan apa yang saya ucapkan…”

Namun, merenungkan secara penuh dari hati mungkin tidak mungkin bagi semua orang pada setiap saat. Oleh karena itu, terkadang Shaytān menanamkan keraguan ke dalam hati seseorang dan seseorang mungkin berpikir: ‘Saya mengucapkan سُبْحَانَ الله seratus kali tapi saya tidak memikirkannya. Apakah ada gunanya sama sekali?’

5 Tahap Zikir Menurut Ibnu Hajar

Respon komprehensif Ibnu Ḥajar (raḥimahullāh) memberikan wawasan mendalam mengenai masalah ini. Dia membagi zikir menjadi lima tahap:

‘Zikir bisa dilakukan dengan lidah, di mana orang yang mengucapkannya mendapatkan pahala, dan tidak perlu baginya untuk memahami atau mengingat maknanya (selama dia tidak bermaksud lain selain maknanya).

Selain mengucapkannya, jika dia juga mengingat Allah dengan hatinya, maka ini lebih lengkap.
Pada tahap ini, seseorang mengingat kembali makna zikir dan apa yang terkandung di dalamnya, seperti memuliakan Allah dan menyucikannya dari kekurangan; ini bahkan lebih lengkap.

Tahap yang lebih tinggi lagi adalah jika semua ini terjadi di dalam sebuah amal yang baik, baik itu shalat fardhu atau berjuang di jalan Allah, dll.

Jika yang disebutkan di atas digabungkan dengan kesetiaan dan ketulusan yang lengkap, maka itulah tingkat tertinggi dari zikir.’ (Fatḥ al-Bārī)

‘Zikiryang terbaik dan paling bermanfaat adalah ketika seseorang mengingat Allah dengan lidah dan hati, itu berasal dari adhkār Sunnah, dan seseorang sadar akan maknanya dan tujuannya.’ (Ibn al-Qayyim)

Jenis Zikir dan Hasilnya

  1. Tahlīl: Tauhid dan ketaatan
  2. Taḥmīd: Rasa syukur, harapan, dan cinta
  3. Tasbīḥ & Takbīr: Memuliakan dan menghormati Allah
  4. Ḥawqalah: Mempercayai Allah dan menyerahkan urusan kepada-Nya
  5. Ṣalawāt: Cinta yang paling besar kepada beliau ﷺ dan mengikuti sunahnya
  6. Istighfār: Taqwa, penyesalan atas dosa-dosa seseorang, dan kerendahan hati

Konsistensi adalah Kunci

Shayṭān akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan hamba dari mengingat Allah secara sadar. Cobalah untuk menetapkan jumlah/durasi zikir harian bagi diri Anda, dan tetap konsisten dalam melakukannya.

Imām al-Nawawī menyarankan: ‘Setiap orang yang memiliki wirid harian dari zikir di malam atau siang hari atau setelah ṣalāh atau waktu lainnya, dan kemudian melewatkan waktu tersebut dan kemudian mengingatnya, seharusnya menggantikannya ketika dia mampu melakukannya, agar tidak mengabaikannya. Jika seseorang konsisten dalam melakukannya, dia tidak akan merasa melewatkan waktu tersebut; tetapi jika dia lengah dalam melaksanakannya, akan menjadi mudah untuk mengabaikannya pada waktunya yang tepat.’ (al-Adhkār)

SahabatQu, dengan berbagai jenis zikir yang terhimpun dalam ajaran Islam, seorang muslim dapat mengeksplorasi cara-cara untuk merenungkan kebesaran-Nya, memperkuat hubungan spiritual, dan membawa ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like