Belajar dari Nabi Ayub, Sang Lambang Kesabaran

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Bagaimanakah kisah kesabaran Nabi Ayub saat diuji Allah? Simak ulasan dari artikel Dr. Thariq Suwaidan, penulis asal Kuwait berikut ini yang dikutip dari situs resminya.

Kisah para nabi membawa pelajaran dan hikmah, kita belajar dari mereka metode kehidupan dalam segala keadaan, dalam kebahagiaan dan pada saat ujian, kita belajar kesabaran dan bersyukur. Nabi Ayub as. adalah lambang bagi orang-orang yang diuji, dan teladan bagi orang-orang yang sabar, serta menjadi contoh untuk kita semua.

Kami berjalan di jalannya tanpa mengeluh terhadap perintah Allah dan sabar terhadap takdir-Nya, karena kebaikan adalah apa yang Allah pilih, dan siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Siapa saja yang bertawakal kepada-Nya, Allah akan cukup baginya.

Siapakah Nabi Ayub as.?

Mungkin salah satu kisah kesabaran terbesar dalam sejarah manusia adalah kisah Ayub as., sehingga sering kali kita mengucapkan: “Ya sabr Ayub,” yang berarti “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kesabaran sebagaimana kesabaran Ayub.”

Keturunan Nabi Ayub as.

Beliau berasal dari keturunan Ishaq, anak Nabi Ibrahim as. Allah swt. berfirman tentang junjungan kita Ibrahim,

"Dan dari keturunannya, Dawud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Sad: 28)

Nikmat Allah kepada Nabi Ayub as.
Allah memberikan banyak nikmat kepada beliau. Dia memberikan kepadanya ilmu, hikmah, dan kenabian. Dia juga memberikan kepadanya kekayaan yang besar, hewan ternak, dan budak. Allah memberinya kesehatan, keafiatan, teman-teman, 7 putra dan 7 putri.

Cobaan yang Dialami Nabi Ayub as.

Bermacam-macam kebaikan telah dikumpulkan baginya. Namun Allah berkehendak membuatnya sebagai contoh kesabaran. Maka datanglah ujian dalam berbagai bentuk: kehilangan harta, tanah, dan budak, diikuti oleh ujian kesehatan yang membuatnya sakit hingga lumpuh. Ia terpisah dari teman-temannya dan menjadi kesepian. Cobaan semakin berat, ia kehilangan anak-anaknya satu per satu, 14 putra dan putri.

Istri Nabi Ayub as.

Yang tersisa bagi Ayub as. hanyalah istrinya yang salehah, yang sabar bersamanya, merawat dan menyembuhkannya. Dua sahabat yang jauh bertanya tentangnya. Istri Ayub sabar dan bekerja keras untuk menyokong dirinya dan suaminya. Setelah 18 tahun ujian, ia merasa lelah dan berkata, “Wahai Nabi Allah, mengapa tidak meminta pertolongan kepada Allah?”

Kesabaran Nabi Ayub as.

Ayub as. dalam kesabarannya tidak pernah mengeluh untuk mengangkat ujian yang menimpanya. Ia senantiasa bersyukur kepada Allah. Ketika istrinya meminta agar ia memohon agar ujian diangkat, Ayub berkata, “Berapa lama kita hidup dalam kemakmuran?” Istrinya menjawab, “80 tahun.” Ayub berkata, “Aku malu meminta kepada Allah sampai kita mengalami kesulitan sebagaimana kita mengalami kemudahan.”

Doa Nabi Ayub

Cobaan semakin berat bagi Ayub dan istrinya, orang-orang menolak untuk mempekerjakan mereka, dan mereka tidak memiliki makanan. Mereka berpuasa hingga kelaparan. Istri Ayub membawa sedikit makanan, Ayub bertanya darimana asalnya, tetapi ia tidak menjawab. Istri Ayub kemudian menangis, mengakui bahwa ia menjual rambutnya untuk mendapatkan makanan. Tergerak oleh kondisinya, Ayub berdoa kepada Allah dengan doa yang mengharukan.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. (QS. al-Anbiya [21]: 83)

Beliau menggambarkan keadaannya dengan penuh sopan santun terhadap Allah, merasa malu untuk bertanya dan mengeluh, seolah-olah beliau berkata, “Engkau tahu keadaanku, yang membuatku tak perlu mengajukan keluhanku.”

Allah Memberikan Solusi

Allah memerintahkan Ayub untuk memukul tanah dengan kakinya, dan air mulai mengalir. Ayub mandi dan sembuh dari penyakitnya. Istri Ayub kembali, tetapi Ayub tidak mengenali wanita yang tiba-tiba muda kembali. Allah memberkati mereka dengan anak-anak, sehingga jumlah anak mereka menjadi 26.

Tentang harta, Rasulullah ﷺ mengisahkan bahwa ketika Ayub mandi tanpa busana, emas bermunculan di tubuhnya. Kemudian beliau mulai bersembunyi di balik pakaiannya. dan Allah berkata, “Hai Ayub, bukankah Aku telah memberimu kekayaan yang lebih baik daripada ini?” Ayub menjawab, “Benar, tapi kekayaan ini tidak bisa menggantikan berkah-Mu.”

Kisah Ayub as. menggambarkan makna kelapangan setelah kesulitan. Namun Tuhan mencela-Nya atas ketidaksetujuannya dengan takdir-Nya dengan memukul istrinya. Ayub diarahkan untuk memukulnya dengan seratus batang jerami yang lembut sebagai penghormatan pada kesabaran istri dan suaminya.

Kisah Nabi Ayub as. dalam Al-Qur’an

"Dan ingatlah hamba Kami, Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang.' Maka Kami pun menjawab doanya dan Kami angkat penyakitnya, serta Kami kembalikan kepadanya keluarganya, bahkan sebanyak mereka, sebagai rahmat dari Kami, dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang memikirkan. Dan ambillah seikat jerami dengan tanganmu, lalu pukullah dengannya, dan janganlah kamu langgar sumpahmu. Sesungguhnya Kami mendapati dia termasuk hamba-hamba Kami yang bersyukur." (QS. Sad: 42-44)

Semoga Allah swt. mengangkat ujian dari orang-orang yang diuji, menyembuhkan penyakit kita dan penyakit kaum Muslimin, serta memberikan penggantian yang lebih baik bagi mereka yang diuji, baik di dunia maupun di akhirat. Kami memohon agar Allah menjadikan kami ridha dengan takdir-Nya, karena kami adalah hamba-Nya, dan Dia adalah Yang Maha Pemurah, Yang Maha Pengasih di antara para pengasih. [Dr. Thariq Suwaidan)

Leave a Comment