Dr. Muhammad Kamal Ismail, Arsitek Brilian Tanpa Bayaran

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, siapa yang tak terpukau oleh kemegahan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram? Dua tempat suci bagi umat Islam di seluruh dunia. Tetapi, tahukah kalian siapa yang berada di balik arsitektur yang mengagumkan ini? Dialah Dr. Muhammad Kamal Ismail, arsitek berbakat Mesir, mengubah Masjidil Haram dan Nabawi tanpa bayaran, menggunakan ide-ide inovatif seperti marmer dingin, kubah listrik, dan payung lipat pada masjid yang membuatnya tampak megah dan memukau. Artikel ini akan mengupas perjalanan hidup dan prestasi gemilang seorang arsitek luar biasa, Dr. Muhammad Kamal Ismail. Yuk simak kisah inspiratifnya.

Masa Muda dan Pendidikan

Dr. Muhammad Kamal Ismail lahir pada 13 September 1908 dalam keluarga dengan latar belakang pendidikan. Pada usia muda, ia mencapai prestasi yang luar biasa dengan menjadi orang termuda dalam sejarah Mesir yang meraih ijazah sekolah menengah atas. Dia bahkan masuk ke Royal School of Engineering yang pertama. Saat lulus ia menjadi lulusan termuda dengan gelar sarjana tekniknya. Kejeniusannya membawa Dr. Kamal ke Eropa, di mana dia mengejar tiga gelar doktor dalam bidang arsitektur Islam melalui beasiswa. Keahliannya diakui dengan pemberian syal “Nil” dan pangkat “Besi” oleh seorang raja.

Baca Artikel Muslim Hack: Ingin Kedudukan Terpuji? Gapai dengan Shalat Tahajud dan Witir

Merancang Perluasan Masjid

Dr. Muhammad Kamal adalah insinyur pertama dari Mesir yang menggantikan insinyur asing di negaranya. Suatu ketika, Raja Fahd menawarinya proyek besar untuk merancang arsitektur dan mengawasi proyek perluasan Masjidil Haram di Mekah. Ini adalah tanggung jawab besar yang diamanahkan oleh Raja Fahd kepada Dr. Kamal.

Marmer dari Pegunungan Kecil Yunani

Bertahun-tahun, Dr. Kamal dengan tekad dan semangat tak kenal lelah menggali seluruh potensinya untuk menyelesaikan proyek ini. Salah satu ide cemerlangnya adalah penggunaan marmer khusus pada lantai Masjidil Haram yang dapat menyerap panas, menjaga agar jamaah yang beribadah tawaf tidak kepanasan. Marmer ini hanya bisa ditemukan di sebuah gunung kecil di Yunani. Tanpa ragu, Dr. Kamal pergi ke Yunani, menandatangani kontrak untuk membeli marmer dalam jumlah yang hampir setengah gunung, dan kembali ke Mekah. Dengan pengetahuan arsitektur Islam yang mendalam, dia berhasil menciptakan desain yang memukau dan memberikan pengalaman spiritual tak terlupakan bagi jutaan jamaah yang setiap tahunnya memadati masjid suci ini.

Temukan Artikel FYP: Adab dan Tata Krama Bukan Sekedar Formalitas

Dari Masjidil Haram hingga Masjid Nabawi

Muhammad Kamal Ismail
istockphoto.com

Setelah 15 tahun berlalu sejak pembangunan Masjidil Haram, pemerintah Arab Saudi kembali mempercayakan Dr. Kamal untuk mengawasi dan mendesain perluasan Masjid Nabawi dengan menggunakan jenis marmer yang sama. Dr. Kamal berkata,

"Ketika Raja meminta saya untuk melapisi lantai Masjid Nabawi dengan Marmer yang sama, saya bingung. Hanya ada satu tempat di dunia ini yang memiliki Marmer jenis ini, yaitu di Yunani. Apakah Marmer tersebut masih ada?"

Manusia Merencanakan, Allah Menentukan

Untuk memastikan ketersediaan marmer, Dr. Kamal kembali ke Yunani dan menemui pemilik perusahaan yang sama. Dia bertanya tentang sisa stok marmer setelah pembelian 15 tahun yang lalu. Pemilik perusahaan menyatakan bahwa marmer di gunung tersebut telah habis terjual oleh perusahaan Arab Saudi. Namun, Dr. Kamal terkejut karena marmer yang telah dibeli oleh perusahaan Arab Saudi ternyata masih ada dalam jumlah yang mencukupi, tak satupun digunakan selama ini. Saat dia menjelaskan tujuannya, yakni untuk Masjid Nabawi. Pemilik perusahaan tersebut berkata,

“Saya tidak akan menerima uang sepeser pun. Allah mengarahkan saya untuk membeli marmer ini dan membuat saya lupa akan hal itu. Ternyata maksud tersembunyi Allah swt adalah penggunaan marmer ini untuk pembangunan Masjid Nabawi.”

Tanpa Imbalan, Bahkan Ditolak

Dalam kedua proyek masjid tersebut, Dr. Kamal tidak pernah meminta upah. Ketika Raja Fahd dan Perusahaan Bin Laden menawarkan cek berjumlah jutaan dolar sebagai imbalan atas ide, desain, dan teknik arsitekturnya, dia dengan tegas menolak. Dia berkata kepada Raja Fahd dan Bin Laden,

“Mengapa saya harus menerima uang atas pekerjaan saya di dua Masjid Suci ini? Bagaimana saya akan menghadap Allah nanti?”

Teladan dari Dr. Muhammad Kamal Ismail

Dr. Muhammad Kamal Ismail juga dikenal dengan sikap rendah hati yang luar biasa. Keputusannya untuk menolak imbalan finansial mencerminkan integritas dan kesalehan yang kuat dari seorang arsitek yang penuh dedikasi, hingga Allah swt senantiasa menyertainya dalam perjalanannya. Dr. Kamal meninggalkan warisan tak ternilai bagi dunia Islam.

Baca Juga StoryQu: Kenapa Nabi Isa Diangkat ke Langit?

Karyanya tidak hanya memiliki dampak visual dan arsitektural yang memukau, tetapi juga mengandung makna spiritual yang dalam. Ia berhasil menciptakan ruang yang indah dan penuh kekhusyukan bagi jamaah yang datang untuk beribadah di kedua masjid suci ini.

Semoga Allah swt. memberikan rahmat dan berkah-Nya padanya, serta mengantarnya ke surga-Nya yang mulia. Aamiin.

Leave a Comment