Kisah Hijrah Abu Bakar dan Rasulullah yang Menggetarkan Hati

Kasih bintang post

GenQu Media—Kisah perjalanan hijrah Rasulullah saw. dan Abu Bakar merupakan salah satu titik balik penting dalam sejarah Islam. Perjalanan ini tidak hanya menjadi perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, tetapi juga menggambarkan, ketabahan, keberanian, ketulusan, dan keimanan yang tak tergoyahkan.

Menjelang hijrah, Rasulullah saw. menghadapi berbagai tantangan dan ancaman di Makkah. Keberaniannya dalam menyampaikan dakwah tauhid kepada masyarakat yang masih menganut kepercayaan berhala telah menyebabkan dia dan para pengikutnya menjadi target kebencian dan penindasan oleh musuh-musuh Islam.

Konspirasi Kaum Kafir Quraisy

Fuad Abdurahman, dalam buku Tiga Malam Bersama Penghuni Surga menuturkan, Abu Bakar dan Rasulullah menampilkan kisah cinta yang tak terlupakan dalam sejarah. Namun, sebelum berhijrah, kedua tokoh ini harus menghadapi tantangan yang serius. Kaum kafir Quraisy mengirimkan 40 pemuda dari berbagai kabilah ke rumah Rasulullah, yang sedang bersiap-siap untuk berhijrah.

Dalam pertemuan rahasia sebelumnya di Dâr an-Nadwah, para tokoh kaum kafir Quraisy berkumpul untuk membahas bagaimana mereka bisa menghadapi Rasulullah. Pertemuan ini dipicu oleh keberhasilan umat Muslim dalam berhijrah ke Madinah, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa Islam akan berkembang pesat di sana.

Setiap orang mengemukakan pendapatnya, mulai dari menahan Rasulullah dengan belenggu, mengusirnya dari Makkah, hingga membunuhnya. Iblis yang menyamar sebagai lelaki tua dari Najd juga hadir dalam pertemuan tersebut, menolak setiap usulan yang diajukan.

Pada akhirnya, Abu Jahal mengusulkan rencana yang cerdas, yaitu memilih seorang pemuda kuat dan berani dari setiap kabilah untuk membunuh Muhammad secara serentak. Hal ini akan membuat setiap kabilah bertanggung jawab atas tindakan balas dendam. Mereka percaya bahwa kemungkinan balasan dari Bani Abdu Manaf hanya akan berupa denda, yang dapat mereka bayar.

Artikel NetQu: GenQu Media, Sahabat Literasi Muslim Muda

Persiapan Hijrah Rasulullah Bersama Abu Bakar

Abu Bakar menunggu dengan cemas kedatangan Rasulullah di rumahnya. Ia telah menyiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan hijrah bersama Baginda Rasulullah. Putrinya, Asma, yang mengetahui rencana hijrah ini, berjanji untuk mempersiapkan bekal bagi Rasulullah dan Ayahnya.

Ketika Rasulullah tiba di rumah Abu Bakar, kebahagiaan memenuhi hati Abu Bakar. Setelah memastikan keadaan aman, keduanya keluar melalui jendela belakang dengan hati-hati. Hijrah mereka bukanlah hijrah biasa, melainkan penuh dengan bahaya yang tak terbandingkan. Walaupun kaum Quraisy membiarkan kaum muslim keluar dari Makkah menuju Madinah, mereka tidak akan membiarkan Rasulullah melakukannya.

Rute Tersembunyi dan Antimainstrem

Madinah terletak di sebelah utara Makkah, namun Rasulullah dan Abu Bakar tidak langsung menuju ke utara. Mereka berjalan ke arah selatan menuju Gua Tsur agar tidak mudah terdeteksi oleh kaum Quraisy. Jalur menuju gua ini sempit, terjal, dan penuh dengan batu. Gua Tsur menjadi tempat pertama untuk berlindung selama perjalanan hijrah Rasulullah dan Abu Bakar.

Sebelum meninggalkan perbatasan Makkah, Rasulullah berhenti sejenak dan meluapkan rasa cintanya kepada kota kelahirannya. Dengan pandangan penuh cinta kepada Ka’bah, Rasulullah bersabda, “Engkau, Makkah, adalah tanah terbaik Allah dan negeri yang paling dicintainya. Jika pendudukmu tidak mengusirku, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Tiba di mulut gua, Abu Bakar masuk terlebih dahulu sebelum Rasulullah. Ia memastikan bahwa tidak ada lubang yang terbuka agar tidak ada ular atau binatang berbahaya yang masuk. Setelah merasa aman, Rasulullah diperbolehkan masuk. Tindakan ini merupakan salah satu wujud cinta Abu Bakar kepada Rasulullah. Di dalam gua tersebut, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi selama tiga malam: malam Jumat, malam Sabtu, dan malam Ahad.

Ular Berbisa dan Air Mata Abu Bakar

Rasulullah tertidur karena kelelahan, dan kepalanya beristirahat di pangkuan Abu Bakar. Pandangan Abu Bakar menjelajahi setiap dinding gua. Ketika ia melihat sebuah lubang yang tidak ditutup, ia perlahan mengangkat kakinya dan menutup lubang tersebut. Tanpa disadari, lubang itu menjadi tempat tinggal seekor ular berbisa.

Merasa terganggu, ular tersebut menggigit kaki Abu Bakar. Meskipun merasakan sakit, Abu Bakar tetap diam dan tegar. Air matanya yang tak terbendung jatuh tepat di wajah yang mulia Rasulullah, membangunkan beliau dari tidur.

“Dalam lubang ini ada apa, Abu Bakar?” tanya Rasulullah setelah terbangun.

Setelah mengetahui apa yang terjadi, Rasulullah mengusap bekas gigitan itu dengan tangan yang luar biasa. Luka itu pun sembuh seketika.

Artikel StoryQu: Kenapa Nabi Yunus Ditelan Ikan Paus?

Keajaiban di Gua Tsur

Beberapa anggota Quraisy berusaha mengejar Rasulullah dan Abu Bakar yang berada di Gua Tsur. Mereka sampai di mulut gua, tetapi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan seseorang di dalamnya.

Pintu gua dipenuhi dengan sarang laba-laba yang utuh dan tidak rusak. Dua ekor burung pun sedang mengerami telurnya di dalam sarang mereka. Melihat keadaan ini, mereka yakin bahwa tidak mungkin ada orang yang masuk ke dalam gua yang gelap ini.

“Sepertinya mereka tidak berada di sini. Gua ini sudah terbengkalai. Mustahil ada yang berani masuk ke dalamnya. Lihat! Ada sarang laba-laba di pintu gua!” ujar salah satu dari mereka.

“Ya, bahkan ada merpati yang sedang mengerami telur di sini. Jika mereka masuk ke dalam gua, pasti merpati itu akan terbang pergi,” timpal yang lainnya.

Mereka terjebak dalam paradoks antara jejak yang jelas mengarah ke gua dan fakta yang terlihat di depan mata. Mereka terombang-ambing dalam perdebatan.

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan tipu daya mereka, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. ash-Shaff [61]: 8)

Artikel Muslim Hack: Raih Berkah, Baca Doa Ini di Akhir dan Awal Tahun Muharram

Kekhawatiran Abu Bakar

Abu Bakar mendengar keributan orang-orang musyrik yang mencarinya. Dengan suara yang penuh kecemasan dan lirih, Abu Bakar berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, kita dalam bahaya jika mereka melihat ke bawah. Mereka pasti akan mengetahui bahwa kita berada di dalam gua ini.”

Rasulullah menjawab dengan berbisik lirih, “Janganlah khawatir dan berduka! Allah bersama kita!”

Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran,

“Jika kamu tidak menolongnya, maka Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya, sedangkan dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau berduka, sesungguhnya Allah beserta kita.'” (QS. at-Taubah [9]: 40)

Madinah Menyambut dengan Sukacita

Setelah tiga malam bersembunyi di dalam Gua Tsur, Rasulullah dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan mereka menuju Madinah. Abdullah bin Uraiqith, seorang badui yang menjadi pemandu mereka, datang dengan membawa dua ekor unta yang akan dinaiki oleh Rasulullah dan Abu Bakar.

Setelah berhasil hijrah ke Madinah, Abu Bakar sering mengingat kejadian yang mereka alami di dalam gua tersebut. Suatu hari, ia bertanya kepada seorang laki-laki, “Siapa di antara kalian yang membaca Surah At-Taubah?”

Seorang laki-laki menjawab, “Saya.”

Ketika laki-laki tersebut membacakan Surah At-Taubah dan mencapai ayat “… di waktu dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau berduka, sesungguhnya Allah beserta kita’,” Abu Bakar menangis dan berkata, “Demi Allah, saya adalah teman yang dimaksud dalam ayat tersebut.”

SahabatQu, demikianlah kisah Rasulullah dan Abu Bakar dalam perjalanan hijrah yang menggetarkan hati. Semoga siapa pun yang membaca kisah ini mampu meneladani ketulusan cinta Abu Bakar kepada Sang Nabi.

Leave a Comment