Kisah Singkat Nabi Ismail

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, kisah Nabi Ismail dan keluarganya menjadi kisah abadi yang menginspirasi peradaban manusia. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil saat menyimak kisah mereka. Sebagaimana dilansir mawdoo3.com, simak kisah singkat Nabi Ismail berikut ini.

Tempat Kelahiran Nabi Ismail

Nabi Allah Ismail as. dilahirkan di tanah Syam, khususnya di Palestina. Hal ini terjadi karena Nabi Ibrahim Alaihissalam sering berpindah antara Palestina dan Mekkah. Nabi Ibrahim Alaihissalam berusia 86 tahun ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya anak Ismail.

Setelah itu, ketika Sarah memberikan hamba perempuannya, Hajar, kepada Ibrahim as. untuk dinikahi. Hajar bisa melahirkan anak untuknya. Sebab Sarah sendiri tidak dapat memiliki anak, Hajar pun mengandung Ismail Alaihissalam. Kemudian Allah swt. memberi kabar gembira kepada Sarah bahwa ia akan melahirkan Ishak. Padahal sebelumnya dia mandul dan telah lanjut usia. Pada waktu itu, Nabi Ibrahim as. berusia sekitar 100 tahun.

Tempat Kediaman Nabi Ismail

Allah swt. memerintahkan Nabi Ibrahim as. untuk menempatkan Hajar dan anaknya, Ismail as., di Makkah Al-Mukarramah. Ini dilakukan setelah timbulnya kecemburuan di antara kedua istrinya. Nabi Ibrahim as. membawa Hajar dan anaknya, membawa kurma dan kantong air, dan menurunkan mereka di Makkah, di lokasi Ka’bah.

Ketika Nabi Ibrahim as. hendak meninggalkan mereka, Hajar mengikutinya. Dia bertanya berulang kali tentang alasan suaminya meninggalkan mereka di sebuah lembah yang tidak berpenghuni. Namun, Ibrahim Alaihissalam tidak menoleh kepadanya sampai Hajar bertanya apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memerintahkannya, dan dia menjawab “Ya”. Hajar pun berkata, “Jika demikian, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka. Ketika mencapai bagian dari tanah Makkah, beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di sebuah lembah yang tidak subur di dekat rumah-Mu yang suci. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati-hati orang tertarik kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan agar mereka bersyukur.” Allah swt. mengabulkan doanya, sehingga air Zamzam terpancar, dan suku Jurhum menetap di tempat tersebut.

Tempat Wafatnya Nabi Ismail

Nabi Ismail as. wafat di Makkah pada usia seratus tiga puluh tujuh tahun. Beliau dimakamkan di Hijr dekat makam ibunya, Hajar. Makamnya terletak antara Mizab dan Hijr. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan:

Pertama, penamaan Hijr sebagai “Hijr Ismail” adalah sebuah nama yang tidak memiliki dasar yang kuat, karena Nabi Ismail -semoga keselamatan atasnya- sendiri tidak mengetahui tentang batu tersebut. Ia bersama ayahnya, Ibrahim, telah membangun Ka’bah secara lengkap, yang di dalamnya termasuk batu Hijr tersebut. Kemudian, Ka’bah mengalami kebakaran dan banjir besar yang menyebabkan retaknya dinding Ka’bah. Oleh karena itu, suku Quraisy membangun kembali Ka’bah, namun mereka meninggalkan batu Hijr karena kurangnya dana yang baik untuk menyelesaikan pembangunan sesuai dengan fondasi Ibrahim dan Ismail.

Kedua, ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa makam Ismail berada di Hijr, namun tidak ada hadits sahih yang menegaskan hal tersebut.

Mengenal Nabi Ismail

Ismail adalah putra dari Ibrahim, anak Tarakh yang dikenal juga sebagai Azar, anak Nahor, anak Serug, anak Reu, anak Peleg, anak Eber, anak Shelah, anak Arphaxad, anak Shem, anak Nuh. Allah -Mahatinggi- telah mengujinya dengan perintah untuk disembelih oleh ayahnya dan ia pun menyerahkan diri kepada perintah Allah, di mana Allah swt. berfirman: “Dia berkata, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

Ismail as. juga turut serta dengan ayahnya dalam pembangunan Ka’bah. Setelah mereka menyelesaikan pembangunan, mereka berdoa kepada Allah dengan berkata: “Ya Tuhan kami, terimalah (amal kami). Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang menyerah diri kepada-Mu dan (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang menyerah diri kepada-Mu, dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Dari sana, Mekah berkembang dan menjadi tempat tinggal keturunan Ismail, membentuk sebuah umat baru yaitu umat Arab, dan Ka’bah menjadi kiblat bagi seluruh dunia.

Nabi Ismail as. lahir di Palestina, menetap di Mekah, dan ada berbagai pendapat dari ulama tentang tempat kematian dan makamnya. Ismail adalah seorang yang sabar dan menyerahkan diri kepada perintah Allah, dan ia berkontribusi dalam pembangunan Ka’bah, dari mana keturunan Arab berkembang.

Leave a Comment