Sejarah Singkat Isra Mikraj Nabi Muhammad

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Dalam perjalanan Isra Mikraj Rasulullah saw, selain bertemu dengan para nabi Allah, beliau juga langsung bertemu dengan Allah. Seperti apakah pertemuan beliau dengan Allah, Tuhan Alam Semesta? Simak penjelasan lanjutan dari Dr. Thariq Suwaidan yang dilansir dari suwaidan.com.

Pertemuan dengan Allah

Dalam kedudukan yang tinggi ini, Nabi Muhammad saw. berbicara langsung kepada Tuhan semesta alam tanpa ada penafsir di antara mereka. Pada kedudukan yang tinggi ini, Allah swt. menitipkan shalawat dan salam kepada umat Nabi. Allah lakukan itu untuk menunjukkan statusnya.

Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw. menganjurkan shalat dan bersabda, “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Maka siapa yang meninggalkannya maka ia kafir.” Shalat yang pertama kali yang diwajibkan adalah lima puluh waktu shalat. Rasulullah saw. terus mengikuti nasihat Nabi Musa as, Beliau memohon kepada Tuhan untuk menguranginya hingga menjadi: lima waku jumlahnya dan lima puluh pahalanya.

Setelah pertemuan besar ini, Nabi saw. kembali ke Yerusalem, dan dari sana beliau kembali ke Makkah. Di tengah perjalanan, beliau melihat kafilah yang didahului oleh unta miliknya, maka beliau membimbing mereka ke tempat miliknya. Semua kejadian itu terjadi pada sebagian malam, beliau berangkat pada malam hari dan kembali sebelum fajar.

Berbagai Kejadian dalam Peristiwa Isra Mikraj

Selama perjalanan Isra dan Mikraj, Nabi Muhammad saw. menyaksikan banyak pemandangan yang menakjubkan dan penting, antara lain:

  1. Melihat Jibril dalam wujud aslinya. Nabi Muhammad saw. melihat malaikat Jibril dalam wujud aslinya. Ini adalah pemandangan luar biasa yang dianggap sebagai salah satu mukjizat paling menonjol dalam perjalanan Isra dan Mikraj.
  2. Pertemuan dengan Adam di surga pertama. Di surga pertama, Nabi saw. bertemu Adam, saw. Mereka bertukar salam dan Adam mendoakan yang terbaik untuknya.
  3. Berbagai kejadian ini adalah bagian dari banyak peristiwa menakjubkan yang disaksikan Nabi Muhammad SAW selama perjalanan suci ini. Perjalanan ini dianggap sebagai salah satu tanda terbesar yang menunjukkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dan status Nabi Muhammad saw.

Peristiwa Setelah Isra dan Mikraj

Pada pagi hari kedua, Nabi saw. duduk di depan Ka’bah sambil mengingat apa yang telah dialaminya. Abu Jahal mendatanginya dan terkejut dengan kondisinya, maka ia duduk bersamanya dan bertanya padanya. Rasulullah saw. mengatakan kepadanya bahwa beliau telah pergi ke Baitul Maqdis dan kembali.

Muslihat Abu Jahal

Abu Jahal tersenyum dan bergegas mengumpulkan orang-orang untuk memberi tahu mereka bahwa kebohongan Muhammad semakin jelas. Dia pun bergerak. Orang-orang mulai mengkritik Nabi, bahkan hingga mereka yang beriman. Seorang pria bergegas menemui Abu Bakar al-Siddiq untuk memberitahunya berita tersebut. Abu Bakar berkata: “Jika beliau mengatakan itu, maka beliau mengatakan yang sebenarnya.”

Kemudian Abu Bakar datang dan melihat kaum Quraisy menyeru masyarakat untuk mendengarkan Nabi Muhammad saw. agar mereka tidak mempercayainya. Beberapa dari mereka berkata: “Wahai Abu Bakar, temanmu mengaku bahwa dia datang ke Yerusalem malam ini. Dia berdoa di sana, dan kembali ke Mekah. Kita memotong hati unta selama sebulan?! Abu Bakar berkata: “Apa yang kamu sukai dari hal itu? Demi Allah, sesungguhnya dia memberitahuku bahwa berita itu datang kepadanya dari Allah. Dari langit ke bumi, dalam sekejap mata, baik pada malam hari maupun siang hari. Maka aku mempercayainya.”

Dukungan As-Siddiq

Kemudian Abu Bakar mendekat, ingin memastikan kebenaran kenabian Nabi Muhammad ﷺ. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah benar bahwa engkau datang ke Baitul Maqdis pada malam ini?” Rasulullah menjawab, “Ya, benar.” Orang tersebut berkata, “Wahai Rasulullah, gambarkanlah tempat itu untuk kami, karena aku pernah mengunjunginya.” Rasulullah mulai menggambarkan tempat tersebut, dan Abu Bakar berkata, “Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Setiap kali Rasulullah ﷺ menjelaskan sesuatu, Abu Bakar berkata, “Engkau benar, aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.” Orang-orang pun mulai bertanya mengenai detail-detail tertentu, dan Rasulullah ﷺ menjawab dengan sabar. Setelah selesai, Rasulullah ﷺ berkata kepada Abu Bakar, “Dan engkau, wahai Abu Bakar, adalah As-Siddiq (yang membenarkan).” Sejak hari itu, Abu Bakar diberi gelar As-Siddiq.

Kemudian, Rasulullah ﷺ menceritakan kepada mereka tentang karavan yang ia lihat dalam perjalanan kembalinya. Ia menjelaskan unta yang memimpin karavan, dekorasinya, dan muatannya. Rasulullah ﷺ memberi tahu mereka bahwa karavan itu akan tiba dalam tiga hari. Pada hari yang dijanjikan, kaum Quraisy berkumpul dan karavan datang sesuai dengan deskripsi yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ. Ketika mereka ditanyai tentang keadaan mereka, mereka memberitahu tentang unta yang mendahului karavan dan suara yang membimbing mereka ke tempatnya.

Manfaat dan Hikmah Isra Mikraj

  1. Setelah ujian, tentu ada anugerah. Ketika Quraisy menghalangi dakwah di Makkah dan bahaya semakin mendekati Nabi ﷺ setelah wafatnya pamannya dan istrinya, Rasulullah ﷺ tetap teguh di jalan-Nya, sabar menghadapi perintah Tuhan. Kemudian datanglah anugerah besar, yaitu peristiwa Isra dan Mikraj.
  2. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi ujian dan penyaringan sebelum memasuki fase baru dalam dakwah Islam di Madinah, serta pembentukan negara. Iman orang-orang yang memiliki keyakinan yang kokoh diuji.
  3. Keberanian Nabi ﷺ dalam menghadapi kaum musyrik dalam hal yang tidak masuk akal bagi mereka, memberikan contoh terbaik dalam menyampaikan kebenaran di depan orang-orang yang menolak dan menentang.
  4. Islam adalah agama fitrah manusia yang ditanamkan oleh Pencipta kepada seluruh umat manusia: susu adalah fitrah, sedangkan khamr (arak) bertentangan dengan fitrah.
  5. Meneguhkan hubungan antara Masjid al-Aqsa dan Masjid al-Haram: Ancaman terhadap salah satunya adalah ancaman terhadap yang lain, dan kelalaian terhadap salah satunya adalah kelalaian terhadap yang lain.
  6. Keutamaan dan pentingnya shalat di hadapan Allah Ta’ala.

Syair Burdah Al-Busiri Tentang Isra Mikraj

Aku berjalan dari satu tempat suci pada malam hari ke tempat suci lainnya, seperti bulan purnama berjalan dalam kegelapan kegelapan.

Engkau bangkit sampai engkau mencapai status dari sudut pandang yang tidak engkau raih atau tuju.

Seluruh nabi dan rasul mengutamakanmu di atas hamba-hamba

Ketujuh lapisan itu kamu tembus dalam sebuah perahu yang di dalamnya engkau adalah pemilik ilmu

Sekalipun engkau tidak meninggalkan apapun untuk seseorang yang luput dari kedekatannya. Tidak pula kemajuan apapun untuk seseorang yang merasa aman.

Aku menurunkan setiap penyebut dengan tambahan, sebagaimana aku memanggil kata benda untuk menaikkannya, seperti kata benda tunggal.

Untuk mendapatkan koneksi, yaitu tersembunyi dari mata, dan rahasia, yaitu tersembunyi.

Jadi aku membuang setiap pot yang tidak digunakan bersama, dan aku membersihkan setiap tempat yang tidak ramai.

Kemuliaan bagi derajat derajat yang telah diberikan kepadamu, dan kemuliaan realisasi nikmat yang telah diberikan kepadamu.

Kabar gembira bagi kita umat Islam, sesungguhnya kita mempunyai pilar kepedulian yang tidak terputus.

Ketika Tuhan memanggil kita untuk menaati-Nya sebagai utusan yang paling mulia, kita adalah bangsa yang paling dermawan.

Leave a Comment