Sejarah Singkat Nabi Idris

Idris adalah nabi ketiga setelah Adam dan Syits as. Beliau mengajak manusia mengikuti syariat yang diberikan kepada Syits.
Total
0
Shares
Nabi Idris
sumber: perchance.org (hanya ilustrasi, tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya)
5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Kisah-kisah para nabi bukan hanya menyimpan pelajaran dan hikmah, tapi juga mengandung kisah perjalanan peradaban manusia. Salah satu kisah yang mengandung aspek ini adalah kisah Nabi Idris as.

Dalam kisah beliau, kita dapat memahami awal mula keberadaan tulisan, profesi sebagai seorang penjahit, legislasi perjuangan dalam jalan Allah, serta munculnya kerusakan dan cerita-cerita tentang iman kepada Allah Yang Maha Tinggi. Simak kisah yang dituturkan oleh Dr. Thariq Suwaidan yang dilansir dari website officialnya, suwaidan.com.

Siapakah Beliau?

Hidup manusia dimulai dengan Nabi Adam as. yang tinggal di surga bersama Bunda Hawa. Kemudian, dosa terjadi saat mereka memakan buah terlarang akibat godaan Iblis, dan sebagai hukumannya, Allah menurunkan mereka ke bumi. Mereka hidup di sana dan dari mereka manusia mulai berkembang.

Manusia terbagi antara keturunan Adam as. yang hidup di pegunungan dan keturunan Qabil yang tinggal di dataran rendah. Keturunan Qabil menjadi terkena berbagai kemungkaran dan kejahatan.

Setelah wafatnya Adam as., keturunannya dipimpin oleh Nabi Syits. Allah menurunkan berbagai kitab dan ajaran kepada Syits. Kemudian, menggantikan Syits, cucu kelima belas Adam, Idris as. menerima tugas kenabian. Idris hidup di masa ketika umur manusia masih panjang, dan dia bahkan hidup bersama Nabi Adam dan bertemu dengannya.

Kenabian Beliau

Idris as. adalah nabi ketiga setelah Adam dan Syits as. Ia mengajak manusia mengikuti syariat yang diberikan kepada Syits dan menambahinya sesuai dengan perintah Allah. Ketika keturunan Qabil melakukan kerusakan dan menyerang kaum beriman, Idris memperkenalkan konsep jihad sebagai bentuk perlawanan. Ia menjadi orang pertama yang berperang dan menawan dalam jihad untuk Allah. Idris menyusun pasukan dari kuda dan pasukan manusia, memerangi perusak, dan berhasil mengalahkan mereka serta menawan sebagian dari mereka.

Idris memiliki posisi tinggi di sisi Allah Yang Maha Mulia, sebagaimana firman-Nya: “Dan sebutlah dalam Kitab (Al-Quran) tentang Idris, sesungguhnya dia adalah seorang yang siddiq, seorang nabi. Dan Kami telah meninggikan martabatnya.” (QS. Maryam: 56-57). Dalam hadis sahih, disebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Idris di langit keempat selama peristiwa Isra’ Mi’raj.

Karakteristik Idris

Nabi Idris
sumber: perchance.org (hanya ilustrasi, tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya)

Ibn Katsir menjelaskan karakteristik fisik Idris: “Tubuhnya proporsional, wajahnya tampan, janggut lebat, bahu lebar, tulang besar dengan sedikit daging, matanya berkilau dan hitam, bicaranya bijaksana, banyak merenung, diam lebih banyak daripada berbicara, tenang dan tidak mudah marah, pandangan selalu tertuju ke tanah saat berjalan, pemikir yang mendalam, ekspresi serius saat marah, dan menggerakkan jarinya saat berbicara.”

Nabi Pertama yang Menulis dengan Pena

Idris as. menjadi orang pertama yang mengajarkan manusia menulis. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang Idris as.: “Dia adalah orang pertama yang menulis dengan pena.”

Ilmu Astronomi

Menurut Imam Al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, Idris pertama kali menulis dan mempelajari ilmu astronomi dan perhitungan. Namun, perlu diingat bahwa ilmu astronomi dapat dibagi menjadi yang diperbolehkan (halal) dan yang dilarang (haram). Beberapa ulama memandang bahwa ilmu astronomi yang melibatkan prakiraan masa depan, seperti hujan dan perubahan harga, termasuk dalam yang dilarang. Namun, pengetahuan tentang waktu shalat dan arah kiblat termasuk dalam yang diperbolehkan.

Pola Pakaian Pertama dalam Sejarah

Ibnu Hajar dalam al-Fath meriwayatkan dari Ibnu Ishaq bahwa yang pertama kali menjahit pakaian adalah Idris as. Menurut al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, Idris adalah orang pertama yang menjahit dan memakai pakaian, karena pada masa itu mereka mengenakan kulit binatang.

Mukjizat Kenabiannya

Mukjizat Nabi Idris as. tidak jelas dalam teks-teks tradisional. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa mukjizatnya terwujud dalam diangkatnya beliau ke langit. Menurut beberapa sumber, Idris diyakini sebagai orang pertama yang menulis dengan pena dan memahami ilmu falak saat perjalanan. Namanya berasal dari kata “al-dars”, mencerminkan keterkaitannya dengan pendidikan dan kebijaksanaan. Meskipun menceritakan pentingnya Idris dalam sejarah Islam, riwayat-riwayat ini tidak merinci mukjizatnya dalam arti tradisional seperti beberapa nabi lainnya.

Wafatnya Beliau

Dalam sebuah riwayat yang tidak dapat dipastikan kebenarannya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Hilal bin Yasir, Ibnu Abbas bertanya kepada Ka’ab ketika saya hadir, “Apa yang dikatakan oleh Allah tentang Idris, ‘Dan Kami meninggikan kedudukannya’?”. Ka’ab menjawab: “Idris diwahyukan oleh Allah bahwa setiap hari Dia akan meninggikan amal perbuatan anak Adam seperti yang dilakukan oleh mereka – mungkin seorang yang ulung di zamannya – dan Idris lebih suka menambah amal perbuatan. Malaikat utusan Allah kemudian datang kepadanya, memberitahunya bahwa Allah telah menyatakan, ‘Demikian dan demikian kepadamu,’ dan memerintahkan untuk menambah amal perbuatannya. Malaikat kematian kemudian membawa jiwanya di antara sayapnya dan naik dengannya ke langit.

Ketika di langit keempat, malaikat kematian melihat Idris di bawah, dan ketika ditanyai tentang Idris, dia menjawab: ‘Dia di atas punggungku.’ Malaikat kematian berkata: ‘Ajaib! Aku diutus untuk meraih nyawanya di langit keempat, bagaimana bisa dia di bawah di bumi?’ Malaikat kematian kemudian meraih jiwanya di sana, dan inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah: ‘Dan Kami meninggikan kedudukannya’.”

Penyebutan Nama “Idris” dalam Al-Qur’an

Surat Maryam ayat 56-57: “(56) Dan ingatlah dalam Kitab tentang Idris; sungguh, dia adalah seorang yang benar lagi nabi. (57) Dan Kami meninggikannya ke tempat yang tinggi.”

Surat Al-Anbiya ayat 85: “Dan (ingatlah) Isma’il, Idris, dan Dzul-Kifl, semuanya termasuk orang-orang yang sabar.”

Kisah Beliau dalam Perspektif Syiah

Dalam keyakinan Syiah, Idris as. dianggap sebagai tokoh penting yang terkenal dengan kenabian dan kejujurannya. Menurut sumber-sumber Syiah, Idris hidup pada masa Adam dan Syits, mengajak manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan menjauhi kezaliman dan kefasadan.

Dikisahkan bahwa Idris mengasingkan diri di sebuah gua di gunung yang tinggi, berpuasa sepanjang siang, dan diberi rezeki makanan oleh malaikat yang ditugaskan oleh Allah setiap malam. Riwayat-riwayat Syiah menunjukkan bahwa Idris diangkat ke tempat tinggi sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Maryam. Ini menunjukkan kedudukan dan spiritualitas tinggi Idris dalam Islam. Kisahnya dianggap sebagai sumber inspirasi dan refleksi dalam kepercayaan Syiah.

SahabatQu, demikianlah kisah singkat Nabi Idris as. semoga banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like