Sejarah Singkat Nabi Nuh

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Kisah-kisah para nabi memang sarat dengan pelajaran dan teladan bagi kita dalam mengimani Allah. Kali ini, kita berbicara tentang salah satu dari utusan yang penuh tekad, yaitu Nabi Nuh as. Sebagaimana dituturkan oleh Dr. Thariq Suwaidan dalam Suwaidan.com, Nuh as. merupakan Bapak Manusia Kedua setelah Nabi Adam as.

Dari beliau, kita belajar tentang metode dakwah dan kesabaran dalam melakukannya. Beliau juga mengajari manusia untuk memohon kepada Allah Yang Maha Agung dengan adab doa. Allah, Tuhan kita, yang merencanakan segala sesuatu dan mempunyai rencana yang lebih baik dari segala perencanaan para perencana yang zalim. Ikuti kisah selengkapnya berdasarkan penuturan Dr. Thariq berikut ini.

Siapakah Nabi Nuh?

Nabi Nuh adalah cucu dari Nabi Idris as. Nuh as merupakan buyutnya yang keempat. Beliau memiliki empat putra, yaitu Kan’an, Sam, Ham, dan Yafet. Beliau juga termasuk salah seorang Rasul Ulum Azmi dari kelima rasul berikut:

  1. Muhammad ﷺ
  2. Ibrahim as.
  3. Musa as.
  4. Isa as.
  5. Nuh as.

Profesi Nabi Nuh

Profesi beliau adalah penggembala, sebuah profesi yang juga dijalani oleh semua para nabi. Ini pernah Rasulullah ﷺ sebutkan dalam sebuah hadis. Beliau bersabda, “Tidak ada nabi melainkan sebagai penggembala.” Kemudian beliau menjadi seorang tukang kayu ketika menerima perintah untuk membuat bahtera.

Awal Munculnya Penyembahan Berhala di Bumi

Setelah wafatnya Nabi Idris, keadaan semakin rusak di bumi. Seribu tahun setelah kematian Adam, kemunculan kekufuran terjadi untuk pertama kalinya. Kisah ini dimulai dengan kelima orang saleh yang dicintai oleh manusia. Ketika mereka meninggal, setan menghasut murid-murid mereka untuk menempatkan batu di tempat-tempat mereka agar mereka diingat selamanya.

Seiring berjalannya waktu, manusia mulai menyucikan batu-batu ini dan memuliakannya. Kemudian datanglah generasi yang tidak mengetahui asal usul kisah ini. Lalu mereka menyembahnya dengan berkata, “Jangan tinggalkan tuhan-tuhanmu, jangan tinggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahaya manusia menciptakan ibadah dengan akalnya sendiri. Kita menyembah Allah sebagaimana Dia menghendaki, bukan sebagaimana keinginan kita. Tidak ada tempat untuk inovasi dalam ibadah. Pikiran dapat membaik sedikit, tetapi jika penyimpangan dimulai sedikit demi sedikit, itu dapat tumbuh dan membawa manusia menuju kehancuran.

Dakwah Nabi Nuh Kepada Kaumnya

Ketika Nuh diutus, kekafiran telah merajalela di antara umat manusia. Mereka menyembah berhala dan meninggalkan ibadah kepada Allah Yang Maha Tinggi. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. ‘Berilah peringatan kepada kaummu sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.’ Dia berkata, ‘Wahai kaumku, sungguh, aku adalah pemberi peringatan yang jelas. Supaya kalian menyembah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepada-Nya. Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian dan menunda kematian kalian sampai pada waktu yang telah ditentukan oleh-Nya. Sesungguhnya, apabila waktu ketentuan Allah datang, maka tidak dapat ditunda lagi, jika kalian mengetahui.'” (QS. Nuh, [71]: 2-4)

Nabi Nuh as. berusia 50 tahun ketika diutus. Beliau konsisten menyeru kaumnya kepada Allah selama 950 tahun. Setelah banjir, beliau masih hidup selama 350 tahun. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian, banjirpun menimpa mereka, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. (Al-‘Ankabut [29]: 14)

Siapa yang merenungkan kisah Nabi Nuh as. akan menemukan ketekunan dan kesungguhannya dalam menyeru kepada Allah. Ini digambarkan dalam dalam firman-Nya, “Dia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku telah terus-menerus menyeru kaumku di malam hari dan siang hari. Namun seruanku tidak membuat mereka kecuali semakin lari dariku. Setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka menutupkan telinga mereka, menutupi diri dengan pakaian mereka, dan bersikap keras kepala serta menyombongkan diri secara besar-besaran. Kemudian aku menyampaikan seruanku kepada mereka secara terbuka, dan aku juga berbicara kepada mereka secara tersembunyi.'” (QS. Nuh [71]: 6-9)

Sikap Kaum Nuh

Meskipun Nabi Nuh as. telah berusaha dengan segala upayanya dalam berdakwah, hanya sedikit yang mempercayainya. Pengikutnya itu hanya 10 orang atau menurut versi lain 80 orang. Para pemimpin mereka, yang tergolong kalangan elit, mulai mendebat dan mencemooh Nuh serta orang-orang yang mengikutinya.

“Para pemimpin yang kafir di antara kaumnya berkata, ‘Kami tidak melihat engkau kecuali sebagai manusia biasa seperti kita. Kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau kecuali mereka yang rendah harkatnya dengan pendapat yang lemah. Bahkan, kami menganggap kalian sebagai pembohong.'” (QS. Hud [11]: 27)

Nuh as. berusaha berdakwah kepada mereka secara logis. “Nuh berkata, “Wahai kaumku, apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku. Dia menganugerahiku rahmat dari sisi-Nya, tetapi (rahmat itu) disamarkan bagimu? Apakah kami akan memaksamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya?” (QS. Hud [11]: 28)

Namun, mereka merasa muak kepada Nabi Nuh. “Mereka berkata, ‘Hai Nuh, engkau telah berdebat dengan kami dan terus-menerus meningkatkan argumenmu. Maka bawalah kepada kami azab yang telah engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang yang benar.'” (Surah Hud, 11:32). Kemudian pemimpin mereka mengeluarkan perintah agar menjauh dari Nuh dan untuk tidak mendengarkan perkataannya. “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai. Mereka mengikuti orang yang harta dan anaknya tidak menambah kemuliaan baginya selain kerugian belaka.'” (QS. Nuh [71]: 21)

Rencana Jahat Kaum Kafir

Para penentang dakwah Nabi Nuh mencoba berunding dengan Nuh dan menetapkan syarat agar dia mengusir orang-orang lemah yang mengikuti-Nya. “Hai kaumku, aku tidak meminta kepadamu harta benda sebagai imbalan atas dakwahku. Pahala dakwahku hanyalah dari Allah, dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, tetapi aku melihat kalian sebagai suatu kaum yang tidak tahu berhikmah.” (QS. Hud [11]: 29-30)

Mereka kemudian menantang Nabi Nuh as. “Mereka berkata, ‘Hai Nuh, engkau telah berdebat dengan kami dan terus meningkatkan argumenmu. Maka bawalah kepada kami apa yang telah engkau janjikan kepada kami jika engkau termasuk orang yang benar.'” (QS. Hud [11]: 32).

Namun, Nuh menjawab bahwa keputusan hukuman ada di tangan Allah. Hanya Dia yang menentukan waktu dan bentuk hukuman. “Nuh berkata, ‘Hanya Allah yang akan mendatangkan hukuman itu kepadamu jika Dia menghendaki. Kalian tidak dapat melepaskannya.'” (QS. Hud [11]: 33)

Karena tekanan yang begitu kuat dari mereka, Nabi Nuh as. mulai menantang mereka dan menghadapi mereka. Hingga akhirnya mereka melemparkannya dengan tuduhan gila. “Bacakanlah kepada mereka kisah Nuh, ketika dia berkata kepada kaumnya. ‘Hai kaumku, jika keberadaanku dan peringatanku dengan tanda-tanda Allah melebihi kapasitasmu, maka aku bertawakal hanya kepada Allah. Kumpulkanlah seluruh urusan kalian, bersama-sama dengan sekutu-sekutumu, lalu tentukanlah rencana kalian tanpa ragu. Kemudian, jika kalian telah memutuskan rencana kalian, laksanakanlah terhadapku tanpa menunda.'” (QS. Al-Mu’minun, 23:30-32)

Doa Nabi Nuh untuk Kaumnya

Setelah mencapai tahap ini, wahyu turun kepada Nabi Nuh as memberitahunya. “Diwahyukan kepada Nuh: ‘Tidak akan beriman kepada kaummu melainkan orang-orang yang sudah beriman. Maka janganlah bersedih hati karena perbuatan mereka.'” (QS. Hud, 11:36)

Ketika Nuh mengetahui bahwa kaumnya tidak akan beriman, beliau pun berdoa. “Maka, berilah keputusan antara aku dan mereka. Selamatkanlah aku dan orang-orang mukmin bersamaku. Kami selamatkan dia (Nuh) dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal yang penuh muatan.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 118-119)

Allah menjelaskan tentang kondisi Nuh pada waktu itu, “Telah mendustakan sebelum mereka kaum Nuh. Mereka mendustakan hamba Kami dan berkata, ‘Dia adalah orang gila dan kami benci kepadanya.'” (QS. Al-Qamar, [54]: 9-10). Nuh kemudian berdoa, “Maka dia berdoa kepada Tuhannya, ‘Sungguh, aku telah dikalahkan, maka berikanlah pertolongan.'” (QS. Al-Qamar, [54]: 10)

Selanjutnya, Nabi Nuh as. khawatir terhadap kejahatan mereka terhadap orang-orang yang beriman bersamanya. “Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, jangan biarkan di bumi ini ada seorang kafir pun. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka, mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan mereka tidak akan melahirkan kecuali orang-orang fasik dan kafir.'” (QS. Nuh [71]: 27). SahabatQu, nantikan kelanjutan kisahnya di artikel berikutnya.

Leave a Comment