Siapakah yang Dikurbankan, Ismail atau Ishak?

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di bulan ini hari raya kedua umat Islam dilangsungkan, yaitu Hari Raya Idul Adha.

Ada kisah menarik di balik ibadah menyembelih hewan kurban di bulan Idul Adha ini, yaitu kisah mengharukan tentang qurban. Namun dalam kisah pengurbanan ini, siapakah yang dikurbankan, Ismail atau Ishak? Mahmoud Al-Zibawi membahas masalah ini sebagaimana dilansir di www.almodon.com.

Kisahnya dalam Al-Qur’an

Kisah pengorbanan Ibrahim disebutkan dalam Al-Qur’an secara singkat. Kisahnya dituturkan dalam enam ayat pendek dari Surah As-Saffat tanpa menyebutkan nama anak yang dikorbankan:

“Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Aku pergi menuju Tuhanku, Dia akan membimbingku. Ya Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak yang saleh.’ Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang penyantun. Ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya. Dan Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS As-Saffat: 99-107).

Ismail atau Ishak?

Siapa yang sebenarnya dikurbankan? Tidak disebutkannya nama anak yang dikorbankan menimbulkan perdebatan di kalangan para penafsir. Beberapa penafsir menyatakan bahwa anak tersebut adalah Ishak. Sementara yang lain meyakini bahwa itu adalah Ismail, dengan kedua pihak memiliki hadits yang mendukung pandangannya. Ada juga kelompok ketiga yang ragu antara keduanya dan tidak memberikan kepastian dalam tafsirannya. Mislanya seperti yang terlihat dalam Tafsir Al-Jalalain di mana disebutkan bahwa yang disembelih adalah “Ismail atau Ishak”. Meskipun demikian, pandangan bahwa Ismail adalah yang dikorbankan lebih umum. Pandangan ini dianut oleh umat Islam dan telah mengakar kuat dalam ingatan kolektif.

Pada abad ke-14, Ibnu Khaldun dalam Kitab al-Ibar wa Diwan al-Mubtada wal Khabar. Dia menulis: “Allah menguji Ibrahim dengan memerintahkan menyembelih anaknya melalui mimpi, yang merupakan wahyu. Anak tersebut ditebus, dan Allah menyelamatkannya seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Ada perbedaan pendapat mengenai siapa anak yang dikorbankan. Ada yang mengatakan Ismail dan ada yang mengatakan Ishak, dengan kedua pendapat dipegang oleh sekelompok sahabat dan tabiin.”

Pada abad ke-13, Al-Qurtubi dalam tafsirnya menulis: “Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang diperintahkan untuk disembelih. Sebagian besar mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ishak”, dan menyebutkan tujuh sahabat yang berpendapat demikian, yaitu Abbas bin Abdul Muttalib dan anaknya Abdullah, Abdullah bin Mas’ud, Jabir bin Abdullah, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khattab dan anaknya Abdullah. Dia juga menyebutkan enam belas nama dari tabiin dan lainnya, “semuanya mengatakan yang disembelih adalah Ishak. Dan demikian juga pendapat Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani”. Dia menambahkan: “Ada juga yang mengatakan bahwa yang disembelih adalah Ismail. Di antara mereka yang mengatakan demikian adalah Abu Hurairah dan Abu Tufail ‘Amir bin Wathilah. Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, serta dari tabiin Sa’id bin Al-Musayyib, Al-Sya’bi, Yusuf bin Mahran, Mujahid, Al-Rabi’ bin Anas, Muhammad bin Ka’b Al-Quradhi, dan Al-Kalbi.”

Ishak, Ismail atau Keduanya?

Sebagian mendukung Ishak, sementara yang lain mendukung Ismail, dan ada pula yang mengatakan kedua kemungkinan tersebut bisa benar. Dalam puisi, Al-Farazdaq mendukung Ishak sebagai yang dikorbankan, seperti terlihat dalam puisinya yang memuji penguasa Umayyah, Mu’awiyah bin Hisyam pada abad ke-8:

Aku berharap doa dari orang yang membaringkan anaknya/ untuk disembelih, maka dia ditebus oleh Tuhan yang Maha Pemurah
Ishak, ketika dia berkata kepada ayahnya/ saat melihat mimpi itu
Lakukanlah, dan penuhilah perintah itu karena aku/ dengan sabar, akan menjadi anak yang baik

Dalam literatur, pada abad ke-9, pada masa Khalifah Abbasiyah Abu Ja’far Muhammad Al-Muntasir Billah, Al-Jahiz mengadopsi pandangan bahwa kedua kemungkinan bisa benar, seperti terlihat dalam tulisannya di Kitab Al-Hayawan: “Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ishak atau Ismail, dan dia menaati perintah itu serta anaknya patuh.”

sumber: shutterstock.com

Yang Dikurbankan adalah Ismail

Pada abad ke-10, Al-Hakim Al-Naisaburi dalam Al-Mustadrak ‘ala Al-Sahihain mengutip Abdullah bin Sa’id Al-Sunabihi yang menyatakan bahwa yang dikorbankan adalah Ismail, memberikan dimensi lokal Arab pada cerita tersebut. Hadis tersebut berbunyi: “Kami menghadiri majelis Muawiyah bin Abu Sufyan, dan orang-orang berdiskusi tentang Ismail dan Ishak bin Ibrahim. Sebagian mengatakan yang dikorbankan adalah Ismail, yang lain mengatakan Ishak. Muawiyah berkata: Kalian keliru, kita bersama Rasulullah, dan seorang Badui datang dan berkata: Wahai Rasulullah, negara sedang kering, air mengering, harta binasa, keluarga hilang, maka berikanlah kepadaku dari apa yang Allah berikan padamu, wahai anak dari dua yang dikorbankan.

Rasulullah tersenyum dan tidak menolaknya. Kami bertanya: Wahai Amirul Mukminin, siapa dua yang dikorbankan? Muawiyah menjawab: Ketika Abdul Muttalib diperintahkan untuk menggali Zamzam, dia bernazar jika Allah mempermudah urusannya, dia akan menyembelih salah satu anaknya. Maka dia mengundi antara anak-anaknya, dan undian jatuh pada Abdullah. Dia ingin menyembelihnya, tetapi dicegah oleh kerabat dari Bani Makhzum yang mengatakan: Tebuslah anakmu. Maka dia menebusnya dengan seratus unta. Jadi dia adalah yang dikorbankan pertama dan Ismail yang kedua.”

Ismail Ditembus dengan Domba Habil

Menurut riwayat ini, Ismail adalah yang pertama kali dikorbankan dan ditebus oleh Allah dengan seekor domba besar, yang dikatakan sebagai domba yang dipersembahkan oleh Habil bin Adam. Dikatakan bahwa domba tersebut “berwarna putih, bertanduk, dan bermata besar”, dan telah merumput di surga selama empat puluh tahun. Juga dikatakan bahwa domba tersebut dikorbankan di Mina, dan kepalanya digantung di Ka’bah. Sedangkan yang kedua dikorbankan adalah Abdullah bin Abdul Muttalib, yang selamat ketika undian jatuh pada unta, sehingga Abdul Muttalib memerintahkan untuk menyembelih unta tersebut, dan semua rumah di Mekah memakan daging dari unta-unta tersebut.

Banyak yang dikatakan tentang unta yang dikorbankan oleh kakek Nabi. Ibnu Sa’ad dalam “Al-Tabaqat Al-Kubra” meriwayatkan bahwa ketika Abdul Muttalib menyembelih unta-unta tersebut, dia membiarkannya untuk siapa saja yang datang, baik manusia, binatang, atau burung, dan tidak ada yang dicegah untuk memakannya, termasuk dia dan anak-anaknya.

Nah, setelah sahabatQu menyimak penjelasan di atas, jadinya mau memilih pendapat yang mana, Ismail atau Ishak?

Leave a Comment