Wanita Pemilik Mahar Terbaik pada Zaman Rasulullah

5/5 - (1 vote)

GenQu Media— SahabatQu, mahar termasuk ke dalam salah satu rukun nikah yang wajib dipenuhi laki-laki untuk menikahi wanita. Bentuk mahar umumnya berupa uang, perhiasan, atau sesuatu yang memiliki harga. Namun ternyata ada wanita pada zaman Rasulullah saw yang memiliki mahar yang sangat mulia yaitu mahar berupa “Islam”. Ya, Islam yang kita ketahui sebagai agama Rahmatan lil’alamiin bagi seluruh umat muslim ternyata menjadi syarat utama untuk menikah dengan wanita tersebut. Ummu Sulaim beliau adalah wanita mulia dengan mahar terbaik pada zaman Rasulullah saw dan juga merupakan ibu dari Anas bin Malik ra. Bagaimana kisahnya? Yuk kita kupas kisah inspiratif sampai tuntas.

Ummu Sulaim, Wanita Mulia dari Madinah

Rumaisha Binti Milhan atau yang dikenal Ummu Sulaim, seorang wanita Madinah yang terhormat, mungkin tidak sepopuler dengan Khadijah binti Khuwalid, namun namanya telah diabadikan oleh Rasulullah saw sebagai salah satu penghuni surga. Sebagai wanita Anshar dari suku Khazraj, Ummu Sulaim memiliki kecantikan, kecerdasan, kebijaksanaan, dan akhlak mulia yang merupakan ciri khas seorang muslimah. Meskipun banyak laki-laki menginginkannya sebagai istri, akhirnya Ummu Sulaim memilih Malik bin Nadhar sebagai pendamping hidupnya. Pernikahan mereka terjadi jauh sebelum kedatangan Islam, dan dari pernikahan ini lahirlah seorang anak laki-laki bernama Anas Bin Malik ra, yang menjadi salah satu sahabat dekat Nabi dan meriwayatkan banyak hadis yang membentuk landasan ajaran Islam.

Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan
pinterest.com

Kesabaran dan Keyakinan dalam Memilih Islam

Cinta adalah hal yang umum terjadi di antara suami dan istri, termasuk Ummu Sulaim yang mendalami cintanya terhadap suaminya. Namun, kehadiran Islam di Madinah menguji iman dan keyakinan Ummu Sulaim. Iman ini meresap begitu dalam sampai hatinya sehingga ia dengan mantap memilih Islam sebagai agamanya. Ketika Islam tiba di Madinah, Ummu Sulaim dengan penuh kegembiraan menerima agama baru ini tanpa keraguan sedikit pun. Meskipun suaminya masih kafir dan marah saat mengetahui perubahan istrinya, Ummu Sulaim tetap teguh dalam keyakinannya. Suaminya bahkan bertanya dengan heran, “Apakah engkau telah murtad dari agama nenek moyangmu?” Namun, Ummu Sulaim dengan mantap menjawab, “Aku tidak murtad, melainkan aku telah beriman.” Pertentangan terus terjadi sampai akhirnya Ummu Sulaim dan Malik memutuskan untuk berpisah karena perbedaan keyakinan. Malik pergi meninggalkan Ummu Sulaim dan Anas bin Malik ke Syam dan wafat disana.

Kepoin FYI: Asal Mula Nahwu dan Sharaf dalam Bahasa Arab

Hadiah Istimewa untuk Nabi Muhammad saw.

Setelah suaminya pergi, Ummu Sulaim menjadi orang tua tunggal bagi Anas dengan kesabaran dan keteguhan. Pada saat Nabi Muhammad saw berkunjung ke Madinah, penduduk sekitar menyambutnya dengan penuh sukacita, mereka berupaya memberikan hadiah terbaik untuk Rasulullah termasuk Ummu Sulaim, kecintaannya pada Rasulullah saw dan Islam membuatnya ingin memberikan hadiah terbaik yang dimilikinya. Ummu Sulaim menyiapkan makanan terbaik berupa kurma dan minyak samin sebagai hadiah. Namun, saat hadiah ini disuguhkan pada Rasulullah, beliau dengan sangat halus menolaknya, mengatakan, “Maaf, aku tidak bisa menerima hadiahmu karena aku sedang berpuasa. Tolong ambil kembali makanan ini.” Namun, Ummu Sulaim tetap ingin memberikan yang terbaik kepada Nabi yang dicintainya begitu dalam.

Hingga akhirnya, Ummu Sulaim memanggil anaknya, Anas bin Malik, dan menawarkan padanya untuk menjadi hadiah bagi Rasulullah saw. Dengan senang hati, Anas menerima tawaran tersebut. Dia berkata,

"Wahai Rasulullah, semua penduduk Anshar telah memberimu hadiah, dan aku tidak dapat memberimu apa-apa selain anakku ini. Terimalah dia dan jadikanlah dia sebagai pelayanmu." 

Dengan penuh kemuliaan, Rasulullah menerima Anas sebagai pelayan dan muridnya. Pemberian ini tidak hanya mulia, tetapi juga menjadi momen yang membedakan Ummu Sulaim dalam sejarah Islam.

Mahar yang Luar Biasa

Keelokan, kesabaran, dan kebajikan Ummu Sulaim membuat seorang saudagar kaya bernama Abu Thalhah tertarik padanya. Abu Thalhah ingin menikahinya dan menawarkan mahar yang sangat mahal, seperti berlian dan mutiara. Namun, Ummu Sulaim menolaknya. Terasa sesak di dalam hati Thalhah. Ia pun meninggalkan Ummu Sulaim, bingung dengan semua yang baru saja terjadi. Namun, cinta tulusnya membawa Thalhah kembali dengan tawaran mahar yang luar biasa. Ia berharap bahwa Ummu Sulaim akan meluluhkan hatinya dan menerima lamarannya. Namun, Ummu Sulaim, seorang wanita muslimah yang bijaksana, tidak tergoda oleh kekayaan, ketenaran, atau gemerlap duniawi. Dengan sopan, Ummu Sulaim berkata,

"Tidaklah pantas bagi seseorang sepertimu untuk ditolak, wahai Abu Thalhah. Namun, engkau adalah seorang kafir, sementara aku adalah seorang muslimah, dan tidak pantas bagiku untuk menikah denganmu."

Abu Thalhah mencoba meyakinkannya, “Ini bukanlah dirimu yang biasa.” Ummu Sulaim dengan tegas menjawab,

“Memang seperti apa diriku? Yang aku inginkan bukan berupa emas dan perak, melainkan hanya satu hal darimu, yaitu ‘Islam’.”

“Aku akan menerima lamaranmu jika kamu memeluk Islam, karena tidak ada mahar yang mulia selain keislamanmu.”

Abu Thalhah bertanya, “Siapa yang akan membimbingku untuk menuju islam?” Ummu Sulaim menjawab, “Orang yang akan membimbingmu adalah Rasulullah saw.” Dengan tekad, Abu Thalhah mencari Rasulullah saw. Ketika dia tiba, Rasulullah saw sedang duduk bersama para sahabatnya.

Ketika Rasulullah saw melihat kedatangan Abu Thalhah, beliau berkata, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan dari kedua matanya terpancar semangat keislaman.” Abu Thalhah kemudian menceritakan percakapan dengan Ummu Sulaim. Akhirnya, Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar yang ditetapkan olehnya, yaitu Islam.

Baca MotivasiQu: Inilah Makna Cinta yang Sebenarnya?

Keteguhan dalam Menghadapi Musibah

Ummu Sulaim juga dikenal karena sifat sabar dan tabahnya dalam menghadapi musibah. Saat anaknya dari pernikahannya dengan Abu Thalhah menderita sakit dan akhirnya meninggal, Ummu Sulaim dengan bijaksana menangani situasi ini. Ia mempersiapkan jenazah anaknya tanpa memberi tahu suaminya yang sedang berada di masjid. Ketika suaminya pulang, ia mempersiapkan makan malam dengan penuh kasih sayang dan mencoba membuat suaminya senang. Setelahnya, Ummu Sulaim dengan lembut menjelaskan kematian anak mereka. Meskipun awalnya marah, Abu Thalhah akhirnya pergi ke Rasulullah untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tidak lama setelah kematian anak mereka, Ummu Sulaim hamil kembali dan ketika bayi itu lahir, Rasulullah sendiri yang men-tahniknya dan memberinya nama Abdullah. Setelah Abdullah tumbuh dewasa, ia menikah dan meninggalkan keturunan yang saleh. Bahkan dari keturunan ini, lahir sembilan penghafal Quran.

Iqra! Cara Berdamai dengan Loneliness

Penghuni Surga yang Dicintai Rasulullah saw

Anas meriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan,

“Tidak ada yang lebih istimewa daripada mahar yang dimiliki oleh Ummu Sulaim, karena maharnya adalah iman islam”

Demikianlah, Ummu Sulaim adalah salah satu wanita yang menjadi penghuni surga, dan kisah hidupnya penuh dengan inspirasi.

Rasulullah saw bersabda, “Saat aku memasuki surga, tiba-tiba aku melihat Rumaisha, istri Abu Thalhah, di sana.” (HR. Bukhari).

Ada sebuah riwayat dari Anas yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah saw memasuki surga, beliau mendengar suara langkah seseorang. Beliau bertanya

“Langkah kaki siapakah ini?” Para malaikat menjawab, “Itu adalah langkah Rumaisha binti Milhan, ibu dari Anas bin Malik.” (HR. Muslim).

Ummu Sulaim, seorang wanita Madinah yang memiliki keyakinan dan prinsip hidup yang kuat. Ia dengan kesabaran, keteguhan, dan kebijaksanaan memilih Islam dan menjalani hidup penuh kebajikan. Kisah hidupnya yang penuh inspirasi menunjukkan bagaimana seorang muslimah bisa berkontribusi pada agama dan masyarakat dengan kesetiaan pada nilai-nilai yang benar.

Leave a Comment