Mengenal Ahmad Tohari, Penulis dan Budayawan Banyumas

Kasih bintang post

GenQu Media—Sebagai sesama orang yang tinggal di Kabupaten Banyumas, saya merasa perlu untuk membaca buku-buku yang ditulis Ahmad Tohari. Saya berkenalan dengan karya Ahmad Tohari sejak di kelas VII bangku SMP.

Ronggeng Dukuh Paruk

Karya pertama Ahmad Tohari yang membuat saya terpikat adalah Ronggeng Dukuh Paruk (1982). Membaca novel ini, saya menjadi paham tentang budaya dan kebiasaan masyarakat Banyumas. Saya juga lebih mengenal tentang tatanan nilai-nilai budaya banyumasan, yang selama ini kerap diabaikan oleh kalangan muda.

Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari menggambarkan situasi masyarakat Banyumas.

Dalam hal ini direpresentasikan dengan Dukuh Paruk pada tahun-tahun panas ketika kelompok partai komunis sedang berusaha naik panggung. Hadirnya Srintil sebagai tokoh utama, juga sosoknya sebagai penari ronggeng memiliki kekuatan lokalitas yang amat memikat.

Terus terang, sebagai orang yang dilahirkan di Banyumas, saya tidak pernah mengenal istilah ‘ronggeng’ secara mendalam. Kecuali setelah membaca novel Ahmad Tohari ini. Ahmad Tohari juga menyinggung masalah keracunan tempe bongkrek (kalau yang ini saya pernah dengar) yang terjadi di Dukuh Paruk. Pagebluk yang memakan banyak korban ini memang masih menjadi kisah epik di Banyumas hingga saat ini. Saking terkenalnya, orang-orang Banyumas bahkan sampai ‘mengharamkan’ mengonsumi tempe bongkrek.

Sejujurnya, saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, saya tidak merasa seperti membaca novel fiksi. Membacanya lebih ke rentetan peristiwa yang nyata dan dekat sekali dengan kehidupan saya. Di novel ini, saya seakan-akan dapat melihat sendiri realitas kehidupan masyarakat asli Banyumas yang cablaka (apa adanya). Saat membacanya, kita juga akrab dengan kata-kata umpatan, seperti (maaf) asu buntung, setan alas, bajingan, dan bangsat.

Membaca lembar demi lembar Ronggeng Dukuh Paruk membuat imajinasi saya mengawang-awang jauh ke tempo dulu. Setelah menuntaskannya, saya lanjutkan dengan membaca buku sekuelnya yaitu Lintang Kemukus Dini Hari (1985), kemudian Jentera Bianglala (1986). Usai menuntaskan trilogi tersebut, saya sering berharap Ahmad Tohari menciptakan satu buku lagi, menggenapkannya menjadi tetralogi.

Muslim Hack: Ingin Kedudukan Terpuji? Gapai dengan Shalat Tahajud dan Witir

Orang-Orang Proyek

Novel berikutnya yang saya baca dari karya Ahmad Tohari adalah Orang-Orang Proyek (2002). Dari novel ini, saya berkenalan dengan tokoh Kabul, insinyur yang idealis dan Dalkijo, insinyur senior yang pragmatis. Saya juga mengenal karakter Pak Tarya, laki-laki tua yang bersahaja dan Wati, sekretaris Kabul yang baik hati.

Di novel keduanya, aspek lokalitas masih diangkat oleh Ahmad Tohari sebagai setting cerita. Tapi kali ini Ahmad Tohari menyuguhkan kritik sosial yang bagi saya amat tajam. Tindakan-tindakan amoral dari para kontraktor hingga oknum-oknum pejabat dibabat habis oleh Ahmad Tohari. Ketika membaca ini, saya merasa tersentak dan kaget dengan praktik-praktik semacam itu karena saya membacanya sewaktu masih SMP.

Ahmad Tohari telah sukses mengacak-acak pola pikir saya. Saya merasa menjadi anak remaja yang tidak berpikiran on the right track lagi, atau tidak lagi lurus-lurus saja dalam berpikir. Tapi dalam banyak hal, saya merasa berterima kasih kepada Pak Ahmad Tohari yang telah berhasil membuka realitas kepada saya.

Bekisar Merah

Novel berikutnya yang saya baca adalah Bekisar Merah (1993). Belum tuntas dengan Orang-Orang Proyek, pikiran saya kembali dibawa mengarungi realitas kehidupan sosial dengan kritik-kritiknya yang tersirat tapi tajam. Selain melihat realitas kehidupan masyarakat bawah, saya menjadi paham tentang kehidupan para pejabat dan elite politik masa Orde Baru.

Saat membacanya, saya berkenalan dengan tokoh Darsa, si penyadap nira yang hidup sederhana (miskin lebih tepatnya). Ada karakter Lasi, si wanita blasteran jepang yang cantik tapi menjadi bahan pergunjingan.

Kemudian ada Pak Tir, juragan gula yang culas, Kanjat, anak Pak Tir  yang idealis. Dia sejak lama menyukai Lasi, Bu Koneng, perempuan mucikari berkedok penjual makanan. Ada juga Bu Lanting, si mucikari papan atas yang melayani kalangan elite politik. Terus Pak Handarbeni, si direktur BUMN. Kemudian Pak Bambung, si Pelobi handal. Khusus dua nama terakhir, entah kenapa saya benci sekali kepada mereka.

Bekisar Merah mengangkat setting masyarakat penyadap gula yang terus-menerus hidup dalam garis kemiskinan. Kritik pertama dari novel ini ditujukan kepada para cukong dan tengkulak gula yang suka seenaknya dalam mengatur harga.

Kritik kedua dan seterusnya menyasar perilaku para pejabat dan elite politik kala itu. Kehidupan pragmatis dan merebaknya kecurangan, serta politik uang dan bagi-bagi jabatan merupakan esensi utama di novel ini. Isu menarik lainnya yang disajikannya adalah para elite gemar mengoleksi wanita cantik yang boleh jadi masih dipraktikkan hingga saat ini.

OpiniQu: Hidup Aman dan Sejahtera di Bawah Naungan Islam

Kubah

Novel berikutnya yang saya baca adalah Kubah (1980). Di novel perdananya ini, tak tanggung-tanggung, Ahmad Tohari mengangkat tema pengaruh PKI di salah salah satu desa bernama Pegaten. Kisah dimulai dari sosok Karman, eks anggota terlibat PKI yang baru saja pulang dari pengasingannya di pulau Buru. Berturut-turut, Ahmad Tohari menceritakan asal-mula Karman ditahan di pulau Buru menggunakan alur flashback (alur mundur).

Saya diperkenalkan pada sosok Karman yang sejatinya baik dan cerdas. Namun karena merasa tidak mendapatkan keadilan akhirnya miring kiri, begabung bersama kelompok PKI. Ada pula sosok Haji Bakir yang baik hati dan bersahaja. Dan masih ada sederet nama tokoh lain, seperti Marni, Paman Hasyim, Suti, Rifah, Tini, Bu Gono, dan Parta.

Salah satu bagian cerita yang begitu berkesan adalah saat Kastaghetek, si pembawa kayu dengan cara dilarungkan (membentuk gethek/rakit). Dia tampak begitu memahami tentang esensi ketuhanan. Dia menyenandungkan kidung sangkan paraning dumadi. Bagi saya sangat mengenai sekali dengan kondisi Karman yang sedang kacau akibat diburu oleh tantara setelah pemberontakan PKI dinyatakan gagal.

Karya Lainnya

Ahmad Tohari
sumber: DetikHot
Selain novel-novel yang telah saya sebutkan, saya juga membaca habis karya-karya Ahmad Tohari yang lainnya. Saya membaca Senyum Karyamin (kumpulan cerpen, 1989), Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986), dan Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995). Ada juga Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004), dan Mata Yang Enak Dipandang (kumpulan cerpen, 2013).

Lelaki kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, 13 Juni 1948 itu telah sukses membuat saya terpikat dengan karya-karyanya. Pengaruhnya begitu membekas di benak saya.  Ahmad Tohari menamatkan sekolahnya di SMA 2 Purwokerto. Novelis ini pernah mengenyam bangku kuliah, antara lain: Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun Jakarta (1974-1975). Dia juga belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto (1974-1975). Ia pernah menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Sudirman (1975-1976).

Karirnya sebagai penulis dimulai dengan menjadi staf redaktur di beberapa media di Jakarta, misalnya harian Merdeka, majalah Keluarga dan majalah Amanah. Karya-karya Ahmad Tohari, sepeti Ronggeng Dukuh Paruk banyak  diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Dia juga pernah mengikuti  Writing Programme di Lowa City, Amerika Serikat. DIa memperoleh penghargaan The Fellow of The University of lowa.

FYI: Keutamaan Membersamai Al-Qur’an

Peduli Budaya Banyumas

Selain piawai dalam menulis, sosok Ahmad Tohari juga peduli kepada budaya Banyumas.

Belakangan, saya juga mengetahui bahwa beliau menyusun kamus bahasa jawa ngapak (jawa banyumasan) yang menurut saya sangat unik dan menarik. Pasalnya, bahasa Jawa ngapak yang dinilai sebagai bahasanya para pelawak, ternyata punya keunikan yang tidak dimiliki bahasa lain.

Selain keunikan dalam hal pelafalan, bahasa jawa banyumasan juga ringkas, tapi artinya cukup luas. Membaca kamus ini, saya jadi paham beberapa kosa-kata yang selama ini saya pakai, tapi keliru dalam menerjemahkan maknanya. Banyak juga kosa-kata yang tidak saya ketahui sama sekali, juga kosa-kata yang asing dan jarang digunakan.

Singkat kata, selain sebagai penulis, Ahmad Tohari juga telah menunjukan kemampuannya sebagai budayawan yang amat kompeten. Saya sering berpikir, jika ingin mempelajari kultur dan bahasa Banyumas yang masih  original, maka bergurulah kepada Ahmad Tohari adalah jawabannya.

Leave a Comment