Etika Bertamu Menurut Rasulullah

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—SahabatQu, dalam kehidupan sosial, manusia secara alami tidak dapat hidup sendiri. Kita saling membutuhkan satu sama lain, dan semuanya telah diatur dalam agama. Agama memiliki peran penting dalam mengatur hubungan antar manusia, baik dengan Tuhan, sesama manusia, maupun makhluk hidup lainnya. Salah satu cara penting untuk mewujudkan kerukunan, saling membutuhkan, dan sikap saling menghormati dalam Islam adalah melalui silaturahmi, dan salah satu wujud silaturahmi dalam Islam adalah dengan bertamu.

Bertamu adalah salah satu bentuk nyata dari menjalin silaturahmi dalam Islam. Selain memberikan kebahagiaan kepada orang yang kita kunjungi, bertamu juga memiliki keutamaan khusus, seperti memperpanjang umur dan meluaskan rezeki. Namun, sayangnya, adab dalam bertamu seringkali diabaikan oleh sebagian orang, padahal adab bertamu sangat penting agar silaturahmi dapat berjalan dengan baik. Rasulullah saw. telah memberi contoh kepada kita tentang etika bertamu. Bagaimana adab bertamu menurut Rasulullah saw. Yuk simak artikel berikut.

Bertamu
pexels.com

Niat yang Baik

Niat adalah landasan awal dalam setiap perbuatan. Ketika bertamu, penting untuk memiliki niat dan tujuan yang baik. Dengan niat yang tulus, kunjungan akan membawa keberkahan, kelembutan, dan kehangatan kepada orang yang kita kunjungi. Bahkan jika bertamu dilakukan semata-mata karena Allah swt., maka Allah juga akan mencintai kita sebagaimana kita mencintai saudara kita.

Rasulullah saw. pernah menyampaikan, “Ada seseorang yang pernah pergi berkunjung ke rumah saudaranya yang tinggal di wilayah yang berbeda.”Lalu Allah mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika Malaikat tersebut bertanya, “Hendak pergi kemana kamu?” Ia menjawab, “aku ingin mengunjungi saudaraku yang berada di desa lain.” Malaikat bertanya, “apakah ada suatu keperluan yang ingin engkau dapatkan darinya?” Orang tersebut menjawab, “tidak ada, aku mencintainya karena Allah.”

Maka Malaikat mengatakan, “sesungguhnya aku adalah malaikat yang diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya” (HR Muslim).

Memilih Waktu yang Tepat

Waktu saat bertamu juga memegang peranan penting. Setiap aktivitas selalu dibatasi oleh aktivitas lainnya, oleh karena itu, penting untuk memilih waktu yang sesuai untuk bertamu. Jika tujuan kunjungan telah selesai, sebaiknya segera berpamitan pulang agar tidak mengganggu tuan rumah dan tidak membuat waktu terbuang sia-sia.

Rasulullah saw pernah menyampaikan, "Ketika seseorang telah menyelesaikan suatu urusan atau perjalanan, hendaklah dia segera kembali ke rumahnya" (HR Bukhari dan Muslim).


Dalam surah an-Nur ayat 58, disebutkan bahwa ada tiga waktu yang tidak boleh digunakan untuk bertamu, yaitu sebelum Shalat Subuh, saat istirahat siang, dan setelah Shalat Isya. Waktu-waktu tersebut biasanya digunakan untuk tidur, istirahat, atau bersama keluarga, kecuali jika telah mendapatkan izin dari tuan rumahnya.

Dalam HR. Bukhari menjelasakan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah tiba-tiba datang ke rumah keluarganya pada malam hari, dan beliau hanya memasuki rumah pada pagi atau siang hari. Hal ini bisa kita ikuti sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Meminta Izin dan Mengucapkan Salam

Sebelum bertamu, sebaiknya kita memberi tahu tuan rumah dan meminta izin agar mereka memiliki waktu untuk menyiapkan diri dan kondisi rumahnya. Apalagi zaman sekarang untuk sekedar meminta izin atau membuat janji dengan tuan rumah sangat ringakas, dapat melalui berbagai media, seperti email, WhatsApp, telepon, atau SMS.

Rasulullah saw. memberikan nasihat, “Dalam proses meminta izin, sebaiknya melakukannya tiga kali.” Jika izin diberikan, maka masuklah kalian. Namun, jika izin tidak diberikan, sebaiknya kembalilah kalian” (HR. Bukhari dan Muslim).


Dalam situasi tersebut, jika kita telah memberikan salam sebanyak tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban atau izin, maka sebaiknya kita menunda kunjungan kita saat itu. Ketika salam telah dijawab, ini bukanlah tanda bahwa kita dapat segera membuka pintu dan masuk. Bahkan jika pintu sudah terbuka, kita harus meminta izin kepada tuan rumah untuk masuk dan menunggu izin dari pemilik rumah sebelum melangkah masuk. Hal ini perlu diperhatikan karena ada kemungkinan hal-hal pribadi atau privasi yang belum sempat ditutup oleh tuan rumah, dan kita harus menghormati hak mereka untuk menjaga privasi mereka.


Dan ketika tiba di rumah tuan rumah kita dianjurkan untuk mengucapkan salam.

Seperti riwayat yang berasal dari Kildah ibn al-Hambal ra, ia mengisahkan, “Saya datang menemui Rasulullah saw. dan memasuki rumahnya tanpa mengucapkan salam. Rasulullah saw. kemudian berkata, “Keluarlah dan ulangi dengan mengucapkan ‘assalamu’alaikum,’ bolehkah saya masuk?'” (HR. Tirmidzi).

Riwayat ini menegaskan bahwa mengucapkan salam saat bertamu adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan lebih utama.

Posisi Berdiri yang Tidak Menghadap Pintu Masuk

Islam juga mengatur posisi berdiri ketika tiba di depan rumah seseorang. Sebaiknya, kita tidak berdiri di depan pintu dan menghadap langsung ke dalam ruangan. Hal ini dilakukan agar privasi tuan rumah tetap terjaga, dan apa yang ada di dalam rumah tidak terlihat oleh tamu sebelum mendapat izin. Rasulullah saw. contohnya selalu berdiri di sebelah kanan atau kiri pintu dan mengucapkan salam (HR. Abu Dawud).

Dengan memperhatikan adab bertamu dalam Islam, kita dapat memastikan bahwa tindakan kita selaras dengan ajaran Nabi Muhammad saw. dan menjaga kehormatan dan kenyamanan tuan rumah. Ini juga akan membantu kita membangun silaturahmi yang kuat dan berkesan, sesuai dengan ajaran agama Islam.

Leave a Comment