5 Tips Agar Mertua dan Menantu Selalu Akur

5/5 - (1 vote)

GenQu Media—Seorang ibu meminta penjelasan panduan menjadi mertua yang baik.
Agar hubungan dengan mertua dan menantu semakin akrab, menghindari berbagai masalah seperti yang di sinetron-sinetron. Tolong dijelaskan sikap terhadap menantu laki-laki maupun terhadap menantu perempuan.

Ibu yang dirahmati Allah, terima kasih atas pertanyaannya. Terlebih dahulu sebelum kita bahas diskusikan mengenai bagaimana sikap terhadap menantu laki-laki atau menantu perempuan. Kita perlu garis bawahi terlebih dahulu mengenai masalah yang terjadi di sinetron.

Sinetron Tidak Menggambarkan Realita Sepenuhnya

Kalau yang terjadi di sinetron sekalipun itu diangkat dari kisah nyata, tetapi kisahnya itu di sudah menjadi kisah fiksi. Kisah yang direka-reka yang di dramatisasi sehingga terkesan jadi wah gitu ya. Jadi sekali lagi kejadian yang terjadi di sinetron itu tidak sepenuhnya menggambarkan realita karena sudah mengalami rekayasa begitu. Itu untuk para ibu ya disarankan ya mungkin untuk nonton boleh saja sebagai hiburan tetapi tidak dijadikan sebagai tuntunan.

Ibu yang dirahmati Allah, untuk bisa membuat hubungan yang akrab antara menantu dengan mertua, beberapa tips ini bisa dilakukan:

Perlakukan Menantu Seperti Anak Sendiri

Pertama, tanamkan dalam pikiran, bahkan sampai bawah sadar bahwa anak menantu itu adalah sama seperti anak kita sendiri. Sekalipun tidak ada hubungan darah tetapi hubungannya sudah terikat dengan anak-anak kita. Jadi, perlakukan mereka ini para menantu ini sebagaimana kita memperlakukan anak kita sendiri. Kalau kita biasanya sayang kepada anak kita sendiri dengan cara, mencurahkan perhatian, kemudian memberikan nasihat, dan lain sebagainya. Maka kepada menantu pun sama memperlakukan hal yang sama seperti kepada anak kita.

Begitu pula pula dengan para menantu, baik menantu laki-laki atau maupun perempuan. Perlakukan mertua sebagaimana kita memperlakukan orang tua kita sendiri. Muliakan mereka sebagaimana kita memuliakan orang tua kita sendiri. Sebutan menantu atau mertua sebenarnya hanya ada secara hukum atau silsilah keluarga. Ini untuk membedakan dengan orang tua kita sendiri atau anak kita sendiri.

Akan tetapi secara hubungan atau relasi tentu kita mengharapkan supaya hubungan antara menantu dan mertua ini terjalin harmonis dan akrab. Sebaiknya kembangkan hubungan yang sama seperti kepada anak sendiri atau kepada orang tua sendiri. Bahkan kalau perlu dalam interaksi keseharian, tidak perlu mertua memanggil menantunya sebagai menantu tetapi panggil saja sebagai anak. Dan sebaliknya menantu tidak perlu memanggil mertuanya dengan panggilan “mertua”. Panggil saja dengan panggilan “ibu”, “ayah” atau apapun panggilannya yang itu sama dengan panggilan kepada orang tua sendiri.

Ini adalah upaya awal untuk menghilangkan sekat-sekat atau jarak antara menantu dan mertua. Selama ini mungkin dengan penggunaan istilah menantu dan mertua itu membuat hubungan di antara keduanya itu jadi berjarak. Sehingga jauh berbeda perlakuan atau pun sikap dan interaksinya dengan anak sendiri atau orang tua sendiri.

Nggak Dibanding-Bandingin

Kemudian selanjutnya yang kedua, sebagai mertua mungkin Ibu punya beberapa anak menantu. Biasanya kalau punya beberapa secara naluri atau secara alamiah dalam pikiran itu sudah terbentuk perbandingan di antara para menantu itu. Kita cenderung membandingkan antara menantu pertama dengan yang kedua dengan yang ketiga dan seterusnya.

Meskipun terbersit pemikiran seperti itu, sebaiknya pemikiran seperti itu lebih baik diabaikan saja atau dihindari. Tidak perlu dilisankan. Apalagi kalau mengucapkannya itu di hadapan menantu (orangnya) yang sedang kita bandingkan atau di hadapan anak kita sendiri. Kalau hal itu terjadi tentu itu akan membuat menantu yang kita bandingkan itu akan merasa kurang enak dan kurang nyaman.

Sebab, pada hakikatnya tidak ada satu orang pun di dunia ini yang suka dibanding-bandingkan. Terlebih jika yang dibandingkan itu lebih lebih baik atau lebih tinggi lebih mulia daripada diri kita sendiri. Sebaiknya perlakuan ucapan atau tindakan yang menunjukkan membandingkan antara menantu satu dengan menantu lainnya itu lebih baik dihindari. Sebab, ini akan mengurangi keharmonisan hubungan di antara menantu dan mertua.

Komunikasi untuk Saling Memaklumi, Mengoreksi, dan Memahami

Kemudian berikutnya, bila ada di antara pihak menantu atau mertua yang merasa melihat ada kekurangan dari diri masing-masing. Misal mertua melihat ada yang kurang dari menantunya. Begitu pula menantu melihat ada yang kurang dari mertuanya. Ketika hal itu terjadi, yang paling baik dilakukan adalah komunikasi di antara keduanya. Mertua dan menantu perlu untuk saling memahami bahwa manusia itu nggak ada yang sempurna. Sempurna apapun manusia pasti ada kurangnya.

Jadi ketika sudah ada pemahaman seperti itu, masing-masing akan bisa memaklumi kekurangan yang ada pada menantu ataupun pada mertua. Ketika komunikasinya berjalan dengan baik ya semuanya akan menjadi saling memaklumi saja. Tidak lantas membicarakannya di belakang menceritakannya kepada orang lain dan seterusnya.

Kalau hal itu terjadi, arti komunikasi yang efektif komunikasi yang baik diantara keduanya belum terjalin dengan sebagaimana mestinya. Nah, itu bisa dari siapa pun yang memulai, baik dari mertua atau dari menantunya. Harus ada upaya untuk bisa membuat atau menjalin komunikasi yang baik sehingga tidak muncul prasangka, saling menghakimi, atau saling menyalahkan.

Sekali lagi komunikasi yang baik antara menantu dan mertua patokannya adalah jika keakraban itu sudah terjalin dengan baik. Idealnya sebagaimana akrabnya kita dengan anak kita sendiri atau orang tua kita sendiri. Seharusnya mulai dilakukan untuk bisa menjalin komunikasi efektif ini ya dimulai dari tadi. Sebagaimana di awal telah disampaikan, perlakukan menantu ini sebagaimana anak kita sendiri. Perlakukanlah mertua sebagaimana orang tua kita sendiri. Itulah kuncinya.

Saling Memberi Hadiah

Cara lain agar mertua dan menantu bisa akrab dan benar-benar dekat dan saling mencintai sepenuh hati adalah saling memberikan hadiah. Islam juga menganjurkan kita untuk saling memberi hadiah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ‏:‏ تَهَادُوا تَحَابُّوا

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda “Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad nomor 269)

Tidak ada salahnya sesekali, mertua menghadiahi anaknya (menantunya) menantunya sendiri. Terlebih menantu juga punya kewajiban birrul walidain. Bagi menantu laki-laki, hadiah bisa menjadi salah satu cara untuk berbakti di luar memberikan nafkah. Mau mulai dari siapa dulu yang ngasih hadiah? Yang paling duluan dan paling inisiatif berarti ia yang akan mendapatkan pahala duluan dari Allah.

Mendoakan yang Terbaik

Terakhir, jika mertua merasa ada hal-hal yang kurang pas dengan dengan menantu. Atau sebaliknya menantu ada yang tidak sreg dengan sikap mertua. Di luar menjalin komunikasi yang efektif, cara lainnya adalah tetap mendoakan kebaikan.

Allah yang membolak-balikan hati sang menantu, juga Allah sang pemilik hati mertua. Bila Keduanya saling mendoakan kebaikan, maka tentu Allah akan menyatukan mereka berdua (menantu dan mertua) dengan segenap cinta-Nya.

Semoga saran ini bisa efektif dicoba untuk dipraktikkan. Kalau sudah dicoba untuk dipraktikkan semoga ke depannya hubungan antara mertua dan menantu itu jadi lebih baik. Tidak lagi terjadi sebagaimana yang digambarkan di berbagai sinetron yang konfliknya sampai beratus-ratus episode hehe.

Semoga itu tidak terjadi di dunia nyata. Itu yang kita harapkan adalah hubungan yang harmonis antara menantu dan mertua sebagaimana harmonisnya hubungan antara orang tua dengan anaknya. Semoga bermanfaat dan Allah mudahkan.

Leave a Comment