Tata Cara Haji dalam Islam

5/5 - (2 votes)

GenQu Media—Ada dua hari raya umat Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Hari raya yang kedua itu disebut juga dengan Idul Qurban. Sebab, berqurban menjadi salah satu yang disyariatkan dalam rangkaian ibadah haji di bulan Dzulhijjah.

SahabatQu, bagaimanakah tata cara haji dalam Islam? Untuk memahami lebih dalam, simak penjelaskan selengkapnya sebagaimana GenQu Media lansir dari mawdoo3.com.

Definisi Haji

Secara bahasa, haji berarti tujuan atau kunjungan. Dalam konteks syariat, Haji berarti kunjungan khusus ke Baitullah al-Haram, dalam waktu tertentu, dengan syarat-syarat tertentu.

Kewajiban Haji

Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Ibadah haji merupakan kewajiban yang dijelaskan dalam Al-Quran, Sunnah, dan Ijma (konsensus umat Islam). Al-Quran menyatakan, “Dan bagi Allah atas manusia kewajiban haji ke Baitullah bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana” (Ali Imran: 97). Dan Allah juga berfirman, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (Al-Baqarah: 196).

Dalam hadis Nabi Muhammad saw. disebutkan, “Islam didirikan di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan haji” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan haji atas kalian, maka laksanakanlah” (HR. Muslim). Mengenai Ijma, Imam Ibnu Mundzir dalam kitabnya Al-Mughni meriwayatkan kesepakatan umat Islam. Bahwa haji wajib dilaksanakan sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu.

Syarat Wajib Haji

Agar bisa menunaikan tata cara haji dengan benar, yang paling pertama perlu dipahami oleh muslim adalah tentang syarat wajib. Syarat wajib haji pada seorang hamba tergantung pada pemenuhan beberapa syarat. Syarat didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan tanpanya, dan tidak menjadi bagian dari hakikatnya; artinya, itu berada di luar hakikat dari sesuatu itu sendiri. Berikut adalah penjelasan tentang syarat-syarat yang terkait dengan haji, yang harus dipenuhi oleh seorang hamba agar diwajibkan untuk menunaikan haji:

  1. Islam: Karena haji adalah ibadah, dan seorang kafir tidak diwajibkan untuk melakukannya. Karena itu, dia bukan dari kalangan yang melakukan ibadah.
  2. Berakal: Karena ini adalah syarat untuk tanggung jawab, dan mereka yang tidak memilikinya bukan dari kalangan yang diwajibkan. Karena itu, tidak ada haji bagi orang gila; karena dia tidak diwajibkan untuk melakukan setiap perintah agama yang tidak sah jika dilakukan kecuali jika dia sadar. Sebagaimana disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Pena diangkat dari tiga orang: orang gila yang kalah dari akalnya, orang yang tidur sampai dia bangun, dan anak kecil sampai dia mencapai pubertas.”
  3. Baligh: Seorang anak tidak diwajibkan haji sampai dia mencapai pubertas; karena dia bukan dari orang yang berkewajiban. Sebagaimana yang terdapat dalam hadis sahih Imam Muslim dari Ibnu Abbas ra.: “Seorang wanita membawa seorang anak ke Rasulullah saw., lalu dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah anak ini diwajibkan haji?’ Beliau bersabda, ‘Ya, dan engkau akan mendapatkan pahala.'”
  4. Merdeka: Haji tidak diwajibkan bagi hamba sahaya; karena dia tidak mampu, dan kemampuan itu melibatkan seorang Muslim yang mampu secara finansial, fisik, dan transportasi. Untuk pergi ke Baitullah untuk menunaikan kewajiban haji, dan itu mencakup biaya pergi dan pulang, serta lebih dari pengeluaran mereka yang wajib memberikan nafkah selama absennya, dan jika dia seorang wanita, maka dia harus memiliki suami atau mahram.

Syarat Umum Kemampuan Berhaji

Ada tiga syarat umum untuk kemampuan bagi pria dan wanita, yaitu:

  1. finansial: Kemampuan untuk menanggung biaya haji. Termasuk bekal, transportasi, dan pengeluaran, dan kekayaan haji harus lebih dari hutangnya dan kebutuhan dasarnya.
  2. fisik: Kemampuan untuk menanggung beban perjalanan; termasuk berjalan, naik kendaraan, dan melakukan ibadah haji.
  3. keamanan: Jalan harus aman.

Rukun Haji

Selanjutnya tata cara haji yang wajib diketahui adalah berkaitan dengan rukun. Rukun-rukun Haji Menurut Imam Mazhab Empat, rukun-rukun Haji telah dijelaskan oleh para imam mazhab sebagai unsur-unsur yang mutlak diperlukan dalam pelaksanaan ibadah haji. Rukun di sini diartikan sebagai sesuatu yang tidak dapat diwujudkan tanpanya dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hakikatnya. Mereka menyatakan dalam kitab-kitab mereka bahwa siapa pun yang meninggalkan salah satu rukun Haji, maka hajinya menjadi batal. Mereka berbeda pendapat dalam rincian rukun-rukun Haji, namun intinya adalah sebagai berikut:

Ihram

    Ihram adalah niat untuk memasuki keadaan ihram yang merupakan syarat sah bagi pelaksanaan Haji. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” Niat berada di dalam hati dan disunnahkan untuk mengucapkannya. Abdullah bin Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing seseorang yang berkata, ‘Aku datang dalam keadaan ihram, ya Allah, aku datang dalam keadaan ihram, aku datang dalam keadaan ihram, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang dalam keadaan ihram. Segala puji bagi-Mu, nikmat bagi-Mu, dan kerajaan bagi-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.” Ihram dianggap sebagai rukun dalam Mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali, sementara di Mazhab Hanafi dianggap sebagai syarat sah.

    Tawaf Ifadah

    Tawaf Ifadah juga dikenal sebagai Tawaf Ziarah. Keberadaan Tawaf ini sebagai rukun Haji didasarkan pada ayat Al-Quran yang menyatakan, “Mereka hendaklah melakukan Tawaf mengelilingi Rumah Yang Tua.” Jumlah putaran Tawaf adalah tujuh putaran, dan semua putaran ini dianggap sebagai rukun oleh tiga mazhab: Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Namun, dalam Mazhab Hanafi, hanya empat putaran yang dianggap sebagai rukun, sementara sisanya adalah wajib. Mayoritas ulama sepakat bahwa waktu yang dibolehkan untuk Tawaf Ifadah adalah dari matahari tergelincir pada hari Idul Adha, kecuali pendapat mereka bervariasi tentang awal waktu tersebut.

    Sa’i antara Shafa dan Marwah

    Sa’i adalah berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sejauh tujuh putaran. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa Sa’i merupakan rukun Haji. Sedangkan Mazhab Hanafi berpendapat bahwa Sa’i adalah wajib, bukan rukun. Abdullah bin Umar berkata, “Kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian ihram, melakukan Tawaf di sekitar Ka’bah, dan melakukan Sa’i antara Shafa dan Marwah.”

    Wukuf di Arafah

    Wukuf di Arafah dilakukan pada hari kesembilan bulan Dzulhijjah. Keempat imam mazhab sepakat bahwa wukuf di Arafah adalah rukun Haji yang paling penting dan Haji tidak akan sah tanpanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Haji adalah Arafah. Barangsiapa yang tiba di Arafah sebelum fajar pada malam Hari Raya Qurban, maka Haji-nya telah selesai.” Waktu wukuf di Arafah berakhir pada terbitnya fajar pada hari Idul Adha, tetapi pendapat ulama tentang awal waktu berbeda-beda. Mazhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat bahwa waktu awalnya dimulai dari tenggelamnya matahari pada hari Arafah, sedangkan Mazhab Maliki berpendapat bahwa waktu awalnya adalah malamnya, dan jika seseorang tidak berhenti di Arafah selama sebagian malam, maka wukufnya tidak sah. Sedangkan Mazhab Hambali berpendapat bahwa waktu awalnya dimulai dari terbit fajar pada hari Arafah.

    Halq

    Halq atau mencukur rambut kepala dianggap sebagai rukun Haji oleh Mazhab Syafi’i karena ayat Al-Quran yang menyatakan, “Rambut kepala mereka akan dicukur.” Sedangkan mayoritas ulama dari Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa mencukur atau memotong rambut adalah wajib, bukan rukun. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw., “Biarlah sebagian kepala mereka dicukur dan sebagian lagi dipendekkan.”

    Hukum-Hukum Seputar Haji

    sumber: vecteezy.com

    Untuk menyempurnakan tata cara haji, ada beberapa hukum yang berkaitan dengan ihram dalam ibadah haji yang harus diperhatikan agar haji menjadi diterima oleh Allah SWT. Beberapa di antaranya khusus untuk laki-laki, beberapa khusus untuk perempuan, dan beberapa bersifat umum. Rinciannya adalah sebagai berikut:

    Hukum Khusus untuk Laki-laki

    Ada beberapa hukum khusus untuk laki-laki dalam haji:

    Larangan Memakai Jahitan

    Seorang laki-laki yang berihram dilarang memakai pakaian jahitan, seperti kemeja dan celana. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak boleh bagi orang yang berihram memakai kemeja, sorban, celana panjang, baju luar, dan sepatu, kecuali seseorang yang tidak menemukan alas kaki, maka boleh memakai dua kaos kaki, dan potong bawahnya di bawah mata kaki, dan jangan memakai pakaian yang kena pewarnaan zafaran atau warna waras” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Menutup Kepala

    Seorang laki-laki yang berihram tidak diperbolehkan menutup kepala, kecuali dalam keadaan tertentu yang membutuhkan perlindungan, seperti berada di bawah payung, pohon, dan sejenisnya, dengan syarat kepala tidak bersentuhan dengan perlindungan tersebut.

    Hukum Khusus untuk Perempuan

    Ada beberapa hukum khusus untuk perempuan muslim yang ingin menunaikan ibadah haji:

    Kehadiran Mahram

    Kehadiran seorang mahram diperlukan bagi seorang perempuan untuk wajib menunaikan ibadah haji. Mahram adalah suami perempuan, atau orang yang haram bagi perempuan menikahinya secara permanen, seperti ayah atau saudara laki-laki, atau orang yang diharamkan pernikahannya dengan perempuan tersebut karena hubungan susuan atau pernikahan, seperti saudara susuan atau anak suami. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang perempuan kecuali bersamanya mahram, dan tidaklah seorang perempuan melakukan perjalanan kecuali bersamanya mahram” (HR. Muslim). Dalam penentuan mahram, disyaratkan bahwa mahram tersebut harus beragama Islam, dewasa, dan berakal. Jika tidak ada mahram yang memenuhi syarat, perempuan harus menunggu hingga ada yang bersedia menjadikannya wakil dalam ibadah haji.

    Izin Suami

    Diperlukan izin suami bagi seorang istri untuk menunaikan haji sunnah. Suami berhak untuk melarangnya, karena kewajiban istri untuk mematuhi suami.

    Substitusi (Inabah)

    Seorang perempuan boleh menggantikan seseorang untuk menunaikan haji atas nama orang tersebut, baik itu seorang laki-laki atau perempuan, berdasarkan kesepakatan para ulama.

    Haid dan Nifas

    Seorang perempuan yang sedang haid atau nifas diizinkan melakukan semua ibadah haji kecuali tawaf, sesuai dengan hadis Rasulullah saw. kepada Aisyah yang menyatakan, “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh seorang haji, kecuali tawaf sampai kamu suci” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Sunah-sunah Ihram

    Wanita diperbolehkan untuk melakukan sunnah-sunnah ihram seperti halnya laki-laki. Termasuk mandi, membersihkan diri, mencukur rambut, dan menggunakan wangi-wangian yang tidak beraroma.

    Talbiyah

    Sunnah bagi wanita untuk membaca talbiyah setelah berihram dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Sebaliknya, dilarang baginya untuk meninggikan suaranya.

    Menutup Aurat

    Wanita yang berihram harus menutup auratnya, menundukkan pandangan, menurunkan suara, menghindari bercampur-baur dengan laki-laki, dan melakukan tawaf di sisi luar di Thawaf; semua ini dilakukan untuk menghindari pertumpahan.

    Memakai Niqab dan Sarung Tangan

    Dilarang bagi wanita yang berihram menutup wajahnya dengan niqab atau menutup kedua tangannya dengan sarung tangan, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw.: “Wanita yang berihram tidak boleh mengenakan niqab atau sarung tangan.”

    Hukum Umum untuk Laki-laki dan Wanita

    Ada beberapa hukum dan masalah yang berlaku untuk laki-laki dan wanita dalam ibadah haji:

    Menggunakan Minyak Wangi

    Dilarang bagi orang yang berihram menggunakan minyak wangi. Hal ini ditegaskan dalam hadis bahwa seorang laki-laki meninggal dalam keadaan ihram. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Cucilah dia dengan air dan daun sidr, kafanilah dia dengan dua helai kain, janganlah disentuh dengan minyak wangi, janganlah kepala dicover, dan janganlah diberi wangi-wangian, karena Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat dalam keadaan ihram.”

    Mencukur Rambut dan Memotong Kuku

    Dilarang bagi orang yang berihram mencukur atau mencabut rambutnya, atau memotong kuku, sesuai dengan firman Allah: “Dan janganlah kamu mencukur rambutmu sebelum kurban sampai ke tempatnya yang biasa.”

    Pernikahan

    Dilarang bagi orang yang berihram melakukan pernikahan, baik bagi dirinya sendiri atau orang lain, dan pernikahan tersebut dianggap batal.

    Berburu

    Dilarang bagi orang yang berihram untuk berburu hewan darat, memberikan isyarat untuk berburu, atau membantu dalam menangkapnya. Namun, berburu hewan laut diperbolehkan.

    Hubungan Intim dan bersentuhan

    Dilarang bagi orang yang berihram untuk melakukan hubungan biologis di daerah alat kelamin. Juga dilarang untuk bersentuhan atau mencium dengan nafsu yang membangkitkan.

    SahabatQu, demikian pembahasan mengenai tata cara haji dalam Islam. Semoga Allah mudahkan siapa pun yang membaca tulisan untuk bisa Allah panggil berkunjung ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Amin.

    Leave a Comment